Tampaknya semua ahli setuju untuk memasukan teori Herzberg dalam pandangan teori kepuasan kerja karyawan. Pemilihan ini disebabkan karena teori Herzberg diturunkan atas pembagian hierarki kebutuhan Maslow menjadi kebutuhan atas dan bawah.
Maslow membagi kebutuhan manusia berdasarkan hierarki dari kebutuhan yang paling rendah ke kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan manusia versi Maslow pertingkatan adalah: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Pembagian dua buah atas dan bawah itu membuat teori Herzberg dikenal orang sebagai two factor theory atau motivator hygiene theory. Kebutuhan tingkat atas pada teori Herzberg yang diturunkan dari maslow adalah penghargaan dan aktualisasi diri yang disebut sebagai motivator, sedangkan kebutuhan yang lain digolongkan menjadi kebutuhan bawah yang disebut sebagai hygiene factor.

Terdapat faktor-faktor tertentu yang diasosiakan dengan kepuasan kerja dan faktor-faktor tertentu yang disosiasikan dengan ketidakpuasan kerja. Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja antara lain:
- Tanggung jawab (responsibility), besar kecilnya yang dirasakan dan diberikan pada tenaga kerja.
- Kemajuan (advancement), besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja dapat maju dalam pekerjaannya.
- Pencapaian (achievement), besar kecilnya tenaga kerja mencapai prestasi kerja yang tinggi.
- Pengakuan (recognition), besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerja atas kinerjanya.
- Pekerjaan itu sendiri (work it self), besar kecilnya tantangan bagi tenaga kerja dari pekerjaannya.
Semua faktor diatas sering kali berhubungan dengan isi (content) dari sebuah pekerjaan, itu mengapa seringkali disebut juga content factor. Sedangkan kelompok-kelompok faktor yang berhubungan dengan ketidakpuasan dalam pekerjaan seringkali disebut dengan context factor. Faktor faktor ini adalah:
- Kebijakan perusahaan (company policy), derajat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja dari semua kebijakan dan peraturan yang berlaku diperusahaan.
- Penyeliaan (supervision), derajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan oleh tenaga kerja.
- Gaji (salary), derajat kewajaran gaji/upah sebagai suatu imbalan atas hasil kerjanya (performance)
- Hubungan antar pribadi (interpersonal relations), derajat keseuaian yang dirasakan dalam berinteraksi dengan tenaga kerja lainnya.
- Kondisi kerja (working condition), derajat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan pekerjaannya.
Content factor dalam teori Herzberg sering disebut dengan motivator, yaitu faktor faktor yang dapat mendorong orang untuk dapat memenuhi kebutuhan tingkat atasnya dan merupakan penyebab orang menjadi puas atas pekerjaannya. Bila content factor ini tidak ada, maka akan dapat menyebabkan seseorang tidak lagi puas atas pekerjaannya atau orang tersebut dalam keadaan netral, merasa tidak ”puas” tetapi juga tidak merasa ”tidak puas”.
Sedangkan context factor, yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan ini sering disebut dengan hygiene factor, dimana pekerjaan memberikan kesempatan untuk seseorang dalam pemenuhan kebutuhan tingkat bawah. Bila context factor yang tidak terpenuhi, tidak ada, ataupun tidak sesuai maka dapat membuat pekerja merasa tidak puas (dissatisfied).
Dalam ketidakterpenuhinya context factor akan membuat tenaga kerja banyak mengeluh dan merasa tidak puas, tetapi bila dipenuhi maka pekerja akan berada pada posisi tidak lagi tidak puas (bukan berarti puas) atau tepatnya dalam keadaan posisi netral.

Faktor faktor yang masuk kedalam kelompok motivator cenderung merupakan faktor yang menimbulkan motivasi kerja yang lebih bercorak proaktif, sedangkan faktor yang termasuk kedalam kelompok hygiene cenderung menghasilkan motivasi kerja yang lebih reaktif. Faktor hygiene bisa memindahkan ketidakpuasan dan meningkatkan performance, namun sampai titik tertentu, memperbaiki faktor faktor tersebut tidak lagi berpengaruh banyak.
Untuk itu usaha-usaha yang dilakukan untuk lebih meningkatkan peformance dan sikap lebih positif, sebaiknya menggunakan dan berpusat pada faktor faktor motivator. Pekerjaan seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan derajat penghargaan yang tinggi oleh kedua faktor tersebut. Faktor hygiene untuk menghindari ketidakpuasan kerja karyawan dan motivator sebagai faktor yang memastikan kepuasan kerja karyawan.


Oooh begitu ya,
Ada timbal balik yang sesuai…
[Reply]
wahh nambah info lagi nih tentang pekerja, sayang sekali…kepuasan pekerja belum dapat di realisasikan masih banyak pekerja yang menjerit dan tercekik kebutuhan ekonominya, upah yang tidak layak di berikan pada saat ini..untuk menyambung hidup terpaksa gali lobang tutup lobang kayak lagu Bang Haji Rhoma irama hehehe..
Ijin copy boleh sob…?untuk di forward di blog saya
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
December 19th, 2009 at 9:26 pm
Maaf…tidak diperkenankan. Jika mau silahkan mereview singkat dengan membahas topik yang berhubungan dan memberikan link sebagai acuan pustaka.
[Reply]
biasanya yg paling dominan masalah gaji kag hiiihihihi…
[Reply]
seharusnya memang ada timbal balik yang sesuai……
[Reply]
wah,,, kayak pelajaranku di teknik industri ya…. ergonomi…. tapi aku belum diajar…
[Reply]
wah kayak pelajaranku di teknik industri ya.. kalau gak salah ergonomi… tapi aku belum diajar
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
December 19th, 2009 at 3:31 pm
Memang bahasan dalam kajian seperti ini di kaji juga dalam bidang kajian ekonomi, hukum, dan teknik industri selain psikologi. Hanya berbeda dalam penekanan kajian, seperti contohnya ergonomics yang menekankan pada hubungan interaksi antara manusia dengan mesin dalam suatu sistem dan menyangkut kenyamanan dan keamanan kerja.
[Reply]
thanks info-ny… bisa brmanfaat jg bwt skripsi nih… ^^
[Reply]
nice info bro, kadang kita lupa untuk bisa berbuat maksimal dalam pekerjaan, terlepas dari ketidak puasan buat saya pekerjaan harus dikerjakan sebaik2nya, klo tidak puas ya mending cari kerja lain saja
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
December 19th, 2009 at 3:23 pm
Itulah yang menjadi PR perusahaan, bagaimana membuat karyawan mereka menuju taraf kepuasan, karena bila ketidakpuasan terjadi maka akan berdampak pada kinerja produktifitas dan bahkan kerugian pada perusahaan. Banyak demo juga diakibatkan oleh hal ini. Walau bagaimanapun mereka juga telah menghabiskan dana untuk merekrut dan menseleksi tenaga kerja yang seharusnya memberikan kontribusi pada perusahaan.
[Reply]
mantab info’y…,
[Reply]
mantab ni info’y bro…
[Reply]
Ternyata konteks motivator ternyata tidak cukup untuk membuat karyawan puas dalam kinerjanya, karena masih ada context factor yang masih mengikat.
Akan tetapi jika Context Factor itu tidak terlalu mengekang atau bisa membuat karyawan dengan nyaman dengan itu,, mungkin akan terjalin hubungan baik antara karyawan dengan Perusahan.
kinerja dalam perusahaan akan optimal.
(Bukan maksud menggurui, tp cuma mengambil kesimpulan…)
Hohoo…
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
December 20th, 2009 at 7:40 am
Hal yang perlu ditekankan bahwa terpenuhinya context factor dapat menghilangkan ketidakpuasan karyawan dan meningkatkan peformance hanya pada titik tertentu (netral). Sedangkan content factor digunakan untuk meningkatkan peformance yang lebih positif, karena terpenuhinya content factor karyawan sehingga ia merasa puas dalam kinerjanya.
[Reply]
wah …nice ni ifonya ….. ma kasih ya……
[Reply]
trim bob informasinya yang sangat berharga………..
[Reply]
betah baca2 ilmu di blog ini…semangat terus yah =)
[Reply]
Faktor hygiene dan faktor motivator. Hemmm…. bagus… demi kepuasan karyawan…
kag klo mau konsul kemana??? email kmn???
[Reply]
dgn kerja keras berarti qta akan merasakan HasiLnya…!
[Reply]
Idealnya secara teori memang seperti itu, namun faktanya apabila ANGKA yang di sodorkan melebihi ekspektasi, apalah artinya sebuah teori
[Reply]
Kini Hadir dalam format baru, silahkan berkunjung
[Reply]
Bagus artikel nya !
bisa kah hamba bertukar link dengan anda ?
regards : advice blog
[Reply]
motivasi yang begitu hebat sahabat
[Reply]