<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; psikologi anak</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/tag/psikologi-anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Portal informasi psikologi, ilmu psikologi, dan terapan psikologi. Membahas trauma, stress, depresi, perkembangan, sosial, dan gejala psikologis lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 02:17:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dampak Psikologis Lagu Dewasa pada Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/dampak-psikologis-lagu-dewasa-pada-anak/065113834</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/dampak-psikologis-lagu-dewasa-pada-anak/065113834#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 15:01:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofyan AT</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[dampak psikologis lagu dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[lagu dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi perkembangan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3834</guid>
		<description><![CDATA[Psikologi Zone &#8211; Tak semua lagu orang dewasa sesuai untuk anak-anak. Jika anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3569" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-full wp-image-3569" title="Dampak Psikologis Lagu Dewasa pada Anak" src="http://images.psikologizone.com/2011/07/anak-melamun.gif" alt="Dampak Psikologis Lagu Dewasa pada Anak" width="209" height="132" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (indianexpress)</p></div>
<p><strong>Psikologi Zone</strong> &#8211; Tak semua lagu orang dewasa sesuai untuk anak-anak. Jika anak-anak dibiarkan terpapar lagu orang dewasa tanpa filter, dikhawatirkan akan timbul dampak psikologis yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.</p>
<p>Orangtua mesti tahu efek psikologis yang akan dialami anak-anak jika dibiarkan begitu saja mendengarkan lagu orang dewasa tanpa pendampingan.</p>
<p>Tanpa pendampingan orangtua, anak-anak akan mencari tahu arti lirik lagu yang mereka dengar. Wajar, mereka punya rasa ingin tahu yang besar. Apa jadinya, jika mereka telah terbiasa dengan kata cinta, cium, peluk, dan sebagainya yang jamak kita temui dalam lirik lagu dewasa?</p>
<p>Sering, mereka akan bertanya ke lingkungan pergaulan terdekat, yakni teman. Karena sama-sama tak tahu maka timbul pemahaman yang salah. Tentu saja, pemahaman yang salah ini akan berdampak pada tutur kata dan moralitas anak. Apalagi, dia usia tersebut, anak-anak mampu menyerap informasi secara cepat. Jika terpapar kata-kata kasar atau tak senonoh, maka akan mudah melekat dalam benak.</p>
<p>Perlu ada upaya, minimal dari orangtua, untuk senantiasa mengawasi sekaligus mengarahkan perkembangan anak. Karena lagu tak sekadar hiburan, lagu mempengaruhi setiap pendengar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/dampak-psikologis-lagu-dewasa-pada-anak/065113834/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aspek Lingkungan Dalam Perkembangan Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak/065111211</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak/065111211#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 06:43:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardhi Nurrahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi perkembangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://images.psikologizone.com//?p=1211</guid>
		<description><![CDATA[Masa anak anak adalah masa yang paling membahagiakan bagi kebanyakan orang. Karena pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1212" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-full wp-image-1212  " style="margin: 2px 6px;" title="Aspek Lingkungan Dalam Perkembangan Anak" src="http://images.psikologizone.com/2011/04/ardhi.gif" alt="Aspek Lingkungan Dalam Perkembangan Anak" width="209" height="100" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Masa anak anak adalah masa yang paling membahagiakan bagi kebanyakan orang. Karena pada masa itu, kita tidak mendapatkan tutntutan atau pun tetakanan sosial. Pada masa anak-anak, yang menjadi sebuah tugas utama adalah bermain sembari belajar. Kesenangan pada masa anak-anak, akan berlanjut hingga usia remaja dimana tanggung jawab mulai diperkenalkan dan dibebankan pada anak-anak.</p>
<p>Pada masa remaja inilah, seorang anak mulai dikenalkan dengan norma dan aturan yang berlaku di dunia nyata. Pada masa ini pulalah, seorang anak mulai menjelajahi dunia yang lebih luas. Hanya saja, dewasa ini, beberapa remaja di Indonesia mendapatkan sorotan lebih. Terdapat beberapa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para remaja ini. Para anak-anak yang menginjak remaja ini melakukan pelecehan seksual kepada lawan jenis yang usianya tidak jauh berbeda.</p>
<p>Kesalahan yang dilakukan para remaja ini, dibebankan kepada orangtua masing-masing. Banyak pihak yang mengatakan bahwa kepribadian dari seorang remaja merupakan hasil didikan orangtua masing-masing. Hal ini dapat dibenarkan, namun alangkah lebih bijak jika faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana perkembangan kepribadian remaja dibahas satu persatu. Disini, penulis percaya bahwa perkembangan kepribadian remaja amat dipengaruhi oleh lingkungan.</p>
<p>Santrock menyatakan remaja merupakan masa transisi dimana akan banyak tekanan dan stres yang dialami oleh anak. Masa transisi ini ditandai dengan terjadinya pubertas pada anak. Bila pada perempuan ditandai dengan <em>menarche</em> (menstruasi) dan menumpuknya lemak pada beberapa bagian tubuh seperti panggul dan payudara. Sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh seperti kumis dan janggut.</p>
<p>Baiknya, perubahan fisik ini disertai dengan pemberian pendidikan dan pengertian dari orangtua maupun guru. Beberapa kali penulis menemukan anak-anak perempuan yang mengalami kebingungan saat mengalami menstruasi untuk kali pertama. Mereka merasa asing dengan peristiwa yang mereka alami dan berusaha mencaritahu dengan bertanya kepada teman-teman sebayanya. Bila informasi yang diberikan benar, mungkin, tidak akan menjadi sebuah masalah. Hanya saja, terkadang, informasi yang diberikan oleh teman sebaya si anak belum tentu benar dan tepat.</p>
<p>Hal yang sama terjadi pada anak laki-laki. Beberapa teman penulis, menggambarkan ketika mendapat mimpi basah untuk pertama kali, mereka menggambarkan sedang bersetubuh dengan seorang wanita dan diakhiri dengan keluarnya sperma untuk pertama kalinya. Memang, mimpi ini sifatnya amat subjektif dan bisa jadi tidak semua laki-laki mengingat bagaimana mimpi basahnya untuk pertama kali.</p>
<p>Seringkali, setelah mengalami mimpi basah, anak tidak akan menceritakan kepada orangtuanya. Ini bisa disebabkan perasaan cemas atau takut dimarahi bila mereka menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka. Bisa juga, seorang anak akan malu dan sungkan untuk mengatakan bagaimana mimpi mereka.</p>
<p>Didorong rasa ingin tahu yang menggelora pada usia remaja, anak akan berusaha mencaritahu apa yang terjadi kepada diri mereka. Salah satu cara termudah adalah dengan bertanya kepada teman yang telah mengalami terlebih dahulu. Sekali lagi, muncul kekhawatiran penulis, tentang informasi yang diberikan oleh teman anak kurang benar dan kurang tepat. Sehingga menimbulkan pemahaman yang salah pada anak.</p>
<p>Cara lain yang seringkali dilakukan anak adalah dengan mencari di Internet. Sebuah cara yang mudah, sederhana dan praktis. Namun, seperti diketahui bersama, internet menyediakan beragam artikel dan gambar yang tidak diperuntukkan bagi anak / remaja seperti pornografi. Dan tidak bisa dipungkiri, sebagian besar anak / remaja di Indonesia telah mengakses materi-materi untuk dewasa tersebut.</p>
<p>Selain minimnya informasi yang dimiliki anak, lingkungan anak tinggal menjadi salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak dan remaja. Anak dan remaja cenderung akan meniru (<em>modeling</em>) figur yang dianggap penting dan berkesan. Figur ini belum tentu orangtua atau keluarga dekat si anak. Bisa saja, anak akan meniru salah satu teman yang sering dia lihat.</p>
<p>Walau tidak menutup kemungkinan anak akan meniru dari film atau komik. Atau bahkan anak akan mengembangkan tokoh fiksi yang ia bayangkan. Bila anak melihat film atau komik dimana tokoh utamanya melakukan pelecehan seksual, bisa jadi anak akan menganggap apa yang dilakukan idolannya benar dan meniru apa yang dilakukan.</p>
<p>Disini, dapat kita rasakan bahwa peran orangtua dan guru amatlah penting bagi perkembangan kepribadian anak. Orangtua merupakan pendidik dan pengajar pertama yang akan ditiru dan diikuti oleh anak.</p>
<p>Guru sendiri merupakan perwakilan orangtua anak ketika anak bersekolah. Guru memiliki kewajiban untuk membimbing dan membekali anak didiknya dengan ilmu dan moral. Guru juga berkewajiban utnuk mengingatkan, memotivasi dan memberi masukan selama anak berada di lingkungan sekolah.</p>
<p>Nah, apabila kita telah mengetahui perkembangan anak merupakan tanggung jawab bersama, maka akan jauh lebih baik apabila kita semua bekerja sama untuk membangun lingkungan yang kondusif sebagai tempat belajar anak-anak kita kelak. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak/065111211/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi Anak dan Perkembangan Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/psikologi-anak-dan-perkembangan-anak/06511504</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/psikologi-anak-dan-perkembangan-anak/06511504#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 23:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi perkembangan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://images.psikologizone.com//?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Dalam buku Child Development oleh B Elizabeth Hurlock pada tahun 1978, penelitian tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-505" title="psikologi anak dan perkembangan anak" src="http://images.psikologizone.com/2010/01/psikologi-anak.jpg" alt="psikologi anak dan perkembangan anak" width="150" height="150" />Dalam buku Child Development oleh B Elizabeth Hurlock pada tahun 1978, penelitian tentang anak pada mulanya dipusatkan pada bidang spesifik perilaku anak, misalnya bicara, emosi atau minat bermain, dan kegiatan. Nama yang diberikan untuk cabang penelitian psikologi yang baru ini adalah psikologi anak. Psikologi anak menunjukkan perhatian yang dipusatkan pada fenomena psikologis dari usia prasekolah dan usia sekolah anak.</p>
<p>Kemudian, diketahui bahwa mempelajari berbagai bidang perilaku anak pada berbagai tahapan usia tidaklah cukup. Hal ini tidak akan menambahkan pemahaman kita mengenai bagaimana pembahasan karakteristik perilaku sejalan dengan pertumbuhan anak dan apa saja<span id="more-504"></span> yang menyebabkan perubahan itu.</p>
<p>Hingga kemudian “psikologi anak” berubah dan berkembang menjadi “perkembangan anak”, hal ini untuk menekankan bahwa pusat perhatian sekarang diarahkan pada pola perkembangan anak dari pada aspek perkembangan tertentu.</p>
<p><strong>Perkembangan anak berbeda dengan psikologi anak karena empat hal, yaitu:</strong></p>
<p><strong>Pertama,</strong> psikologi anak lebih menitikberatkan pada isi atau hasil perkembangan sedangkan perkembangan anak mengenai proses dari hal tersebut. Misalnya, meskipun keduanya mempelajari masalah berbicara, dalam psikologi anak penekanannya lebih pada perbendaharaan kata anak dan apa yan dikatakannya. Sedangkan perkembangan anak penekanannya adalah pada bagaimana seorang anak belajar berbicara, dan kondisi yang menyebabkan variasi dalam pola ini.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> perkembangan anak lebih menekankan peran lingkungan dan pengalaman ketimbang psikologi anak. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa psikologi anak mengabaikan peran lingkungan dan pengalaman, tetapi penekanan hal tersebut lebih kurang dari pada yang dilakukan para ahli psikologi perkembangan.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> psikologi anak mempunyai satu tujuan utama yaitu mempelajari bidang perilaku anak yang berbeda, sedangkan perkembangan anak mempunyai enam tujuan yaitu menemukan apa saja karakteristik perubahan usia dalam penampilan, perilaku, minat, dan tujuan dari suatu periode perkembangan ke periode yang lain. Untuk menemukan kapan perubahan ini terjadi. Untuk menemukan dalam kondisi apa saja terjadinya perubahan ini. Untuk menemukan bagaimana perubahan ini mempengaruhi perilaku anak. Untuk menemkan perubahan ini dapat diramalkan atau tidak. Dan yang terakhir untuk menemukan apakah perubahan ini sifatnya individu atau sama bagi semua anak.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> sebagai ganti penekanan pada usia prasekolah dan usia sekolah anak anak, yang dilakukan pada penelitian awal dari para psikolog anak, para psikolog perkembangan anak telah memperluas bidang studinya ke dua arah, dari bayi yang baru lahir hingga anak usia puber. Karena laporan penelitian kedokteran telah menekankan pengaruh lingkungan pralahir yang menetap pada seorang anak, perkembangan anak sekarang mundur sampai ke saat konsepsi.</p>
<p>Pergeseran dalam minat dan tujuan ini berarti bahwa dibutuhkan jauh lebih banyak lagi penelitian. Psikologi perkembangan anak merupakan lapangan yang jauh lebih luas dibandingkan dengan psikologi anak, sehingga terjadi perkembangan kajian yang lebih komprehensif dan kompleks dalam hal kajian anak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/psikologi-anak-dan-perkembangan-anak/06511504/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duh, Anakku Suka Membantah</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/duh-anakku-suka-membantah/0651187</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/duh-anakku-suka-membantah/0651187#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 06:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[anak melawan]]></category>
		<category><![CDATA[anak membantah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://images.psikologizone.com//?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Tak selamanya anak bersikap manis dan penurut. Bahkan di saat-saat tertentu anak justru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-thumbnail wp-image-88 alignleft" title="anak membantah" src="http://images.psikologizone.com/2009/08/child_f-150x150.jpg" alt="anak membantah" width="150" height="150" />Tak selamanya anak bersikap manis dan penurut. Bahkan di saat-saat tertentu anak justru sering membantah. Jangan kaget menghadapinya. Dengan penanganan yang tepat, anak yang suka membantah bisa kok dijinakkan.</p>
<p>Dalam rentang usia 8 sampai 11 tahun, anak bisa tampil mengejutkan orangtua dengan tiba-tiba menjadi “doyan” membantah. Kapan waktu tepatnya, tentu tak ada patokan pasti. Usia 8 samapai 11 tahun perilaku membantah yang memusingkan kepala orangtua lebih sering ditemukan.<span id="more-87"></span></p>
<p>Pada masa ini, anak memang mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa remaja. Pada saat ini, anak sangat ingin menunjukkan identitas pribadi, sementara orientasi dirinya justru sedang bergeser. Dalam berbagai perbedaan kepentingan dan “rasa” anak pun memunculkan sikap membantah sebagai unjuk diri.</p>
<p><strong>Membantah sebagai protes</strong></p>
<p>Bila sikap membantah muncul pada rentang usia 8 sampai 9 tahun, jelas ini penyebabnya bisa jadi sikap orangtua yang terlalu melindungi atau over protective. Padahal di usia anak 8-9 tahun, anak tidak suka perlindungan yang berlebihan dan bahkan sedang memiliki rasa ingin tahu amat besar terhadap lingkungan. Bila terlalu dibatasi, tentu saja anak cenderung memberontak, menolak, yang kemudian diartikan orangtua sebagai sikap membantah.</p>
<p>Tapi sebaliknya, anak usia dibawah 8 tahun ini pun juga bisa membantah sebagai wujud protes. Misalnya, anak protes yang karena orangtuanya terlalu sibuk, hingga kurang memperhatikan dirinya. Padahal, bagi anak, perhatian dan kasih sayang orang tua merupakan faktor penting bagi keamanan dan kenyamanan hidupnya.</p>
<p>Karena itulah perhatian dan kasih sayang orangtua perlu diukur dalam porsi pas, agar tidak diterima anak terlalu besar dan membuat anak tertekan. Sebalikknya membiarkan anak tanpa aturan pun tidak baik. Ada juga orang tua yang mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan menuruti semua keinginan anak dan semua serba boleh. Yang seperti itu juga salah dampaknya nanti anak menjadi susah diatur.</p>
<p><strong>Pola asuh tarik ulur </strong></p>
<p>Kadang sikap membantah juga muncul sebagai suatu bentuk ungkapan perbedaan pendapat. Beda pendapatnya sendiri, tentu sah-sah saja. Karena kita semua memahami bahwa tak mungkin selamanya pendapat orangtua dan anak sering sejalan.</p>
<p>Namun, dibutuhkan sebuah dialog dan kompromi agar perbedaan pendapat ini bisa dijembatani dan tidak hancur hanya dalam kubangan saling membantah. Jembatan akan memudahkan orang tua dan memandang perbedaan untuk dicari jalan tengah, bukan sebagai jalan anak untuk membantah orangtua atau sebaliknya jalan orang tua yang marah pada anak.</p>
<p>Idealnya, pola asuh terbaik menerapkan system demokratis, dimana orang tua mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan cara tarik ulur kadang dibatasi namun suatu saat dilepas. Dengan pola asuh ini orang tua mau mendengarkan pendapat atau ide dari anak-anaknya, tapi tetap memberi batas.</p>
<p>Misalnya pada jam 6 malam anak mau menonton televisi. Orangtua tidak langsung melarang karena pasti akan terjadi perbedaan pendapat dan anak membantah, tetapi cobalah bernegoisasi, bahwa anak boleh menonton dengan syarat setelah jam 7 harus belajar. Bila melanggar, konsekuesi yang disepakati harus jelas. Misalnya, besok tidak boleh menonton lagi.</p>
<p>Penerapan dengan cara ini bisa meyakinkan anak bahwa orangtua memberikan kepercayaan  sekaligus memintanya menjaga tanggung jawab dan disiplin.</p>
<p><strong>Bangun kepercayaan dan jadilah sahabat anak</strong></p>
<p>Meski demikian masa peralihan dari anak menuju dewasa, memang merupakan masa kritis pada anak, sehingga orangtua perlu memahaminya pula. Bila dimasa sebelumnya belum terbangun kepercayaan yang kokoh, orientasi anak tentu akan lebih dominan tersedot pada teman sebayanya. Maka jurus jitu untuk menjadi sahabat anak dimasa peralihanya adalah dengan membangun komunikasi yang efektif, sejak sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/duh-anakku-suka-membantah/0651187/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

