<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; kepuasan kerja karyawan</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/tag/kepuasan-kerja-karyawan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Portal informasi psikologi, ilmu psikologi, dan terapan psikologi. Membahas trauma, stress, depresi, perkembangan, sosial, dan gejala psikologis lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 02:17:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Memotivasi dengan Ancaman, Picu Ketidakbahagiaan Karyawan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/memotivasi-dengan-ancaman-picu-ketidakbahagiaan-karyawan/065114961</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/memotivasi-dengan-ancaman-picu-ketidakbahagiaan-karyawan/065114961#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 12:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Industri Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[atasan otoriter]]></category>
		<category><![CDATA[atasan suka mengancam]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan kerja karyawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=4961</guid>
		<description><![CDATA[Perancis, Psikologi Zone &#8211; Jika karyawan tidak puas di tempat kerja, bisa jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4962" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/02/Memotivasi-dengan-Ancaman-Picu-Ketidakbahagiaan-Karyawan-368x236.jpg" alt="Memotivasi dengan Ancaman Picu Ketidakbahagiaan Karyawan" title="Memotivasi dengan Ancaman Picu Ketidakbahagiaan Karyawan" width="250" class="size-large wp-image-4962" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (dadesignatedhata)</p></div><strong>Perancis, Psikologi Zone</strong> &#8211; Jika karyawan tidak puas di tempat kerja, bisa jadi sebagian karena gaya manajemen atasan mereka. Hasil sebuah penelitian baru oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis, dan timnya. </p>
<p>Manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, organisasi yang tidak mendukung kontribusi individu, perasaan frustrasi pada kebutuhan dasar untuk otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan rekan kerja, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan. </p>
<p>Penelitian ini berjudul The Impact of Organizational Factors on Psychological Needs and Their Relations with Well-Being, dipublikasikan secara online dalam Springer&#8217;s Journal of Business and Psychology, dikutip Science Daily (18/1/12).</p>
<p>Kesejahteraan di tempat kerja memiliki perhatian lebih karena memiliki dampak pada ekonomi perusahaan, terutama bila peforma kinerja buruk. Para peneliti melihat dampak dari dukungan organisasi yang dirasakan dan gaya interpersonal atasan pada kesejahteraan karyawan.</p>
<p>Pekerja diminta untuk mengisi kuesioner yang menanyakan tentang persepsi mereka pada gaya manajemen supervisor mereka, serta sejauh mana mereka merasa bahwa organisasi mendukung mereka.</p>
<p>Para karyawan yang merasa bahwa atasan mereka mendukung otonomi mereka, kompetensi dan keterkaitan dengan rekan kerja juga adanya dukungan dari organisasi, menunjukkan rasa bahagia dan meningkatkan kepuasan. Sebaliknya, karyawan yang merasa atasan mereka berperilaku memaksa, menekan, dan otoriter, dan organisasi dianggap tidak mendukung mereka, menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.</p>
<p>Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa kedua faktor yaitu organisasi dan manajerial memiliki pengaruh pada kepuasan atau rasa frustrasi. Supervisor harus memberikan bawahan pilihan dari pada ancaman dan melakukan strategi yang dapat meningkatkan tenaga kerja dengan baik. (mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/memotivasi-dengan-ancaman-picu-ketidakbahagiaan-karyawan/065114961/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/pentingnya-kepuasan-kerja-karyawan/065113819</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/pentingnya-kepuasan-kerja-karyawan/065113819#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 16:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan kerja karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pentingnya Kepuasan Kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3819</guid>
		<description><![CDATA[Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan, Psikologi Zone &#8211; Keberadaan sumber daya manusia dalam sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3820" class="wp-caption alignleft" style="width: 283px"><img class="size-medium wp-image-3820" src="http://images.psikologizone.com/2011/12/Pentingnya-Kepuasan-Kerja-Karyawan.jpg" alt="Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan" width="273" height="185" /><p class="wp-caption-text">Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan</p></div>
<p><strong>Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan, Psikologi Zone</strong> &#8211; Keberadaan sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan sangat penting karena mereka yang memprakarsai terbentuknya organisasi, mereka yang berperan membuat keputusan untuk semua fungsi dan mereka juga yang berperan dalam menentukan kelangsungan hidup perusahaan.</p>
<p>Dalam sebuah buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang ditulis oleh Panggabean (2004), kompetensi seorang karyawan bukan satu-satunya aspek yang harus diperhatikan. Masih ada sikap kerja yang juga membuat mereka mau dan bersedia memberikan sebagian tenaga untuk perusahaan. sikap kerja merupakan hasil penilaian atau evaluasi terhadap orang-orang, kejadian-kejadian di tempat kerja.</p>
<p>Salah satu konsep yang paling sering diperhatikan adalah kepuasan kerja. Berbagai macam perlakuan yang diberikan pada karyawan atau pekerja hanya akan efektif bila mereka merasa puas pada pekerjaannya. Kepuasan dalam pekerjaan dapat mereka rasakan apabila mereka merasakan adanya keselarasan antara apa yang diharapkan dengan apa yang dapat diperoleh, atau antara kebutuhan dan penghargaan.</p>
<p>Spector (1997) dalam bukunya Job Satisfaction: Application, Assessment, Causes, and Consequences, kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaan mereka dan perbedaan aspek pada pekerjaannya. Ini lebih pada apakah orang tersebut suka atau tidak suka pada pekerjaanya. Dalam pengukuran umum, kepuasan kerja adalah variabel sikap. Pada beberapa waktu lalu pemahaman kepuasan kerja lebih pada asas kebutuhan, misalnya gaji sebagai bentuk pemenuhan atas kebutuhan dasar secara fisik. Pada saat ini banyak pendekatan yang lebih fokus pada perhatian proses kognitif dibandingkan pada asas kebutuhan. Perspektif sikap telah menjadi salah satu yang mendominasi pemahaman tentang kepuasan kerja.</p>
<p>Sebuah malapetaka bila kepuasan kerja diabaikan oleh pihak manajemen, maka dampaknya dapat mengganggu performa kerja, seperti kebosanan, malas, gangguan fisik, kecemasan, depresi, dan perilaku kontraproduktif. Hal ini diketahui melalui sebuah penelitian oleh Ranz, Stueve dan McQuistion (2001) dalam jurnalnya yang berjudul The Role of the Psychiatrist: Job Satisfaction of Medical Directors and Staff Psychiatrists.</p>
<p>Pertanyaan yang penting adalah bagaimana menciptakan kepuasan kerja? Menurut Saba (2011) dalam jurnal International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, kepuasan kerja dapat terjadi dalam sebuah iklim yang sehat dan positif. Iklim yang positif tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja tetapi juga produktifitas kerja. Perlu digarisbawahi bahwa manager, human resource specialists, supervisor dan pekerja harus mampu mengeksplorasi bagaimana kepuasan kerja dapat ditingkatkan. Salah satu aspek meningkatkan kepuasan kerja bukan hanya soal uang, namun kondisi tempat karyawan bekerja juga menentukan kepuasan mereka. (mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/pentingnya-kepuasan-kerja-karyawan/065113819/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Herzberg dan Kepuasan Kerja Karyawan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/teori-herzberg-dan-kepuasan-kerja-karyawan/06511451</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/teori-herzberg-dan-kepuasan-kerja-karyawan/06511451#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 23:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan kerja karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[teori herzberg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://images.psikologizone.com//?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Tampaknya semua ahli setuju untuk memasukan teori Herzberg dalam pandangan teori kepuasan kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_452" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-452" title="Teori Herzberg dan Kepuasan Kerja Karyawan" src="http://images.psikologizone.com/2009/12/kepuasan-kerja-karyawan.jpg" alt="Teori Herzberg dan Kepuasan Kerja Karyawan" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi</p></div>
<p>Tampaknya semua ahli setuju untuk memasukan teori Herzberg dalam pandangan teori kepuasan kerja karyawan. Pemilihan ini disebabkan karena teori Herzberg diturunkan atas pembagian hierarki kebutuhan Maslow menjadi kebutuhan atas dan bawah.</p>
<p>Maslow membagi kebutuhan manusia berdasarkan hierarki dari kebutuhan yang paling rendah ke kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan manusia versi Maslow pertingkatan adalah: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.</p>
<p>Dalam buku Psikologi Industri Organisasi oleh Ino Yuwono dkk. pada tahun 2005, pembagian dua buah atas dan bawah itu membuat teori Herzberg <span id="more-451"></span>dikenal orang sebagai <em>two factor theory</em> atau <em>motivator hygiene theory</em>. Kebutuhan tingkat atas pada teori Herzberg yang diturunkan dari maslow adalah penghargaan dan aktualisasi diri yang disebut sebagai <em>motivator</em>, sedangkan kebutuhan yang lain digolongkan menjadi kebutuhan bawah yang disebut sebagai <em>hygiene factor</em>.</p>
<p><img src="http://images.psikologizone.com/2009/06/skema-kepuasan-kerja-2.jpg" alt="Teori Herzberg dan Kepuasan Kerja Karyawan" /></p>
<p>Terdapat faktor-faktor tertentu yang diasosiakan dengan kepuasan kerja dan faktor-faktor tertentu yang disosiasikan dengan ketidakpuasan kerja. Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja antara lain:</p>
<ol>
<li>Tanggung jawab (<em>responsibility</em>), besar kecilnya yang dirasakan dan diberikan pada tenaga kerja.</li>
<li>Kemajuan (<em>advancement</em>), besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja dapat maju dalam pekerjaannya.</li>
<li>Pencapaian (<em>achievement</em>), besar kecilnya tenaga kerja mencapai prestasi kerja yang tinggi.</li>
<li>Pengakuan (<em>recognition</em>), besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerja atas kinerjanya.</li>
<li>Pekerjaan itu sendiri (<em>work it self</em>), besar kecilnya tantangan bagi tenaga kerja dari pekerjaannya.</li>
</ol>
<p>Semua faktor diatas sering kali berhubungan dengan isi (<em>content</em>) dari sebuah pekerjaan, itu mengapa seringkali disebut juga <em>content factor</em>. Sedangkan kelompok-kelompok faktor yang berhubungan dengan ketidakpuasan dalam pekerjaan seringkali disebut dengan <em>context factor</em>. Faktor faktor ini adalah:</p>
<ol>
<li>Kebijakan perusahaan (<em>company policy</em>), derajat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja dari semua kebijakan dan peraturan yang berlaku diperusahaan.</li>
<li>Penyeliaan (<em>supervision</em>), derajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan oleh tenaga kerja.</li>
<li>Gaji <em>(salary</em>), derajat kewajaran gaji/upah sebagai suatu imbalan atas hasil kerjanya (<em>performance</em>)</li>
<li>Hubungan antar pribadi (interpersonal relations), derajat keseuaian yang dirasakan dalam berinteraksi dengan tenaga kerja lainnya.</li>
<li>Kondisi kerja (<em>working condition</em>), derajat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan pekerjaannya.</li>
</ol>
<p><em>Content factor</em> dalam teori Herzberg sering disebut dengan motivator, yaitu faktor faktor yang dapat mendorong orang untuk dapat memenuhi kebutuhan tingkat atasnya dan merupakan penyebab orang menjadi puas atas pekerjaannya. Bila <em>content factor</em> ini tidak ada, maka akan dapat menyebabkan seseorang tidak lagi puas atas pekerjaannya atau orang tersebut dalam keadaan netral, merasa tidak ”<em>puas</em>” tetapi juga tidak merasa ”<em>tidak puas</em>”.</p>
<p>Sedangkan <em>context factor</em>, yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan ini sering disebut dengan <em>hygiene factor</em>, dimana pekerjaan memberikan kesempatan untuk seseorang dalam pemenuhan kebutuhan tingkat bawah. Bila <em>context factor</em> yang tidak terpenuhi, tidak ada, ataupun tidak sesuai maka dapat membuat pekerja merasa tidak puas (<em>dissatisfied</em>).</p>
<p>Dalam ketidakterpenuhinya context factor akan membuat tenaga kerja banyak mengeluh dan merasa tidak puas, tetapi bila dipenuhi maka pekerja akan berada pada posisi tidak lagi tidak puas (bukan berarti puas) atau tepatnya dalam keadaan posisi netral.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://images.psikologizone.com/2009/06/skema-kepuasan-kerja.jpg" alt="Teori Herzberg dan Kepuasan Kerja Karyawan" /></p>
<p>Faktor faktor yang masuk kedalam kelompok <em>motivator</em> cenderung merupakan faktor yang menimbulkan motivasi kerja yang lebih bercorak proaktif, sedangkan faktor yang termasuk kedalam kelompok <em>hygiene</em> cenderung menghasilkan motivasi kerja yang lebih reaktif. Faktor hygiene bisa memindahkan ketidakpuasan dan meningkatkan performance, namun sampai titik tertentu, memperbaiki faktor faktor tersebut tidak lagi berpengaruh banyak.</p>
<p>Untuk itu usaha-usaha yang dilakukan untuk lebih meningkatkan <em>peformance </em>dan sikap lebih positif, sebaiknya menggunakan dan berpusat pada faktor faktor <em>motivator</em>. Pekerjaan seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan derajat penghargaan yang tinggi oleh kedua faktor tersebut. Faktor <em>hygiene</em> untuk menghindari ketidakpuasan kerja karyawan dan <em>motivator </em>sebagai faktor yang memastikan kepuasan kerja karyawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/teori-herzberg-dan-kepuasan-kerja-karyawan/06511451/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

