<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; home schooling</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/tag/home-schooling/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Portal informasi psikologi, ilmu psikologi, dan terapan psikologi. Membahas trauma, stress, depresi, perkembangan, sosial, dan gejala psikologis lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 02:17:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Home Schooling, Sebuah Alternatif Pendidikan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/home-schooling-sebuah-alternatif-pendidikan/065113248</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/home-schooling-sebuah-alternatif-pendidikan/065113248#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 16:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardhi Nurrahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Alternatif Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[home schooling]]></category>
		<category><![CDATA[Orangtua sebagai guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3248</guid>
		<description><![CDATA[Seiring berkembangnya jaman dan teknologi, kita harus merubah pola pikir kita yang beranggapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3254" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-medium wp-image-3254" src="http://images.psikologizone.com/2011/07/home_sweet_home-Copy-209x89.jpg" alt="Home Schooling, Sebuah Alternatif Pendidikan" width="209" height="89" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (sepocikopi)</p></div>
<p>Seiring berkembangnya jaman dan teknologi, kita harus merubah pola pikir kita yang beranggapan bahwa belajar itu di dalam kelas atau di depan meja belajar. Pola pikir tersebut tidak salah, namun kurang tepat untuk zaman sekarang. Seperti yang kita tahu, kita telah masuk ke dalam sebuah era digital yang semuanya dituntut serba praktis dan cepat.</p>
<p>Pola belajar dengan duduk di kelas dan mendengarkan guru menjelaskan dianggap tak lagi mumpuni untuk mengejar ketertinggalan kita diberbagai bidang. Maka, muncullah berbagai macam pola dan cara ajar baru.</p>
<p><em>Home schooling </em>adalah salah satunya. Dulu, metode ini digunakan untuk mereka yang tak bisa pergi ke sekolah umum dengan berbagai alasan. Sejak lahir telah menjadi selebriti, tak punya waktu luang, hingga menganggap kurikulum sekolah umum kurang memadai.</p>
<p>Metode ini menawarkan keluwesan dalam mengajari si kecil mengenai berbagai macam hal dengan aplikatif. Kita bisa mengajarkan si kecil menghitung dengan mengajaknya memasak atau bermain kelereng. Dua hingga tiga konsep pembelajaran bisa didapat dalam sebuah kegiatan.</p>
<p>Selain itu, kita bisa mengawasi secara langsung bagaimana perkembangan si kecil secara langsung. Sehingga, minat dan bakat si kecil bisa dilatih sedari dini. Hal-hal tersebut adalah sebagian  dari keuntungan <em>home schooling</em>.</p>
<p>Namun, walau sudah cukup lama berkembang di Indonesia. Tetap saja ada kelemahan dari metode ini. Bila di sekolah umum seorang anak akan belajar berinteraksi dengan sebayanya, bisa jadi, seorang si kecil yang belajar di rumah tidak akan mempelajari hal itu. Hal lain yang agak menghambat adalah perbedaan kurikulum yang diujikan saat si kecil akan mengambil ujian kesetaraan A, B, dan C.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/home-schooling-sebuah-alternatif-pendidikan/065113248/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Homeschooling Indonesia</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/pengertian-homeschooling-indonesia/06511347</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/pengertian-homeschooling-indonesia/06511347#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 23:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[home schooling]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://images.psikologizone.com//?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia homeschooling sudah ada sejak lama. Sedangkan pengertian Homeschooling (HS) sendiri adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-348" title="Homeschooling" src="http://images.psikologizone.com/2009/11/homeschooling.jpg" alt="Homeschooling" width="150" height="150" />Di Indonesia homeschooling sudah ada sejak lama. Sedangkan pengertian Homeschooling (HS) sendiri adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah &#8220;home education&#8221;, atau &#8220;home-based learning&#8221; yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.</p>
<p>Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah &#8220;sekolah rumah&#8221;. Ada juga orangtua yang secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah &#8220;sekolah mandiri&#8221;. Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang terpenting adalah esensinya.<span id="more-347"></span></p>
<p>Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.</p>
<p>Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.</p>
<p>Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.</p>
<p>Keberadaan homeschooling Indonesia telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (10) yang berbunyi:</p>
<p>&#8220;Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri&#8221;</p>
<p>Dalam praktek homeschooling tidak harus memenuhi penyetaraan pendidikan. Pendidikan kesetaraan adalah hak dan bersifat opsional. Jika praktisi homeschooling menginginkannya, mereka dapat menempuhnya. Jika tidak, mereka tetap dapat memilih dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi Penyetaraan ini digunakan untuk dapat dihargai dan setara dengan hasil pendidikan formal, tentu setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.</p>
<p>Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA.</p>
<p><strong>Kelebihan homeschooling:</strong></p>
<ul>
<li>Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.</li>
<li>Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.</li>
<li>Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.</li>
<li>Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.</li>
<li>Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).</li>
<li>Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).</li>
<li>Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua</li>
</ul>
<p><strong>Kekurangan homeschooling:</strong></p>
<ul>
<li>Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua</li>
<li>Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.</li>
<li>Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.</li>
<li>Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.</li>
</ul>
<p>Semua sistem pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu sistem sesuai untuk kondisi tertentu dan sistem yang lain lebih sesuai untuk kondisi yang berbeda. Daripada mencari sistem yang super, lebih baik mencari sistem yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan kondisi kita.</p>
<p>Sistem pendidikan anak melalui sekolah memang umum dan sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun lamanya. Saat ini, pendidikan melalui sekolah menjadi pilihan hampir seluruh masyarakat.</p>
<p>Tetapi sekolah bukanlah satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Sekolah hanyalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan memperoleh pendidikannya. Sebagai sebuah institusi/sistem belajar, sekolah tidaklah sempurna. Itulah sebabnya, selalu ada peluang pembaruan untuk memperbaiki sistem pendidikan; baik di level filosofi, insitusi, approach, dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai sosok yang bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak pada masa depannya, orang tua memiliki tanggung jawab sekaligus pilihan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang rasional bagi orang tua; memiliki kelebihan dan kekurangan inheren di dalam sistemnya.</p>
<p>Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kita telah memberikan yang maksimal untuk anak-anak kita, dengan segala batasan (constraint) yang kita miliki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/pengertian-homeschooling-indonesia/06511347/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

