Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pernikahan memberi kesempatan pada dua manusia untuk saling merasakan cinta yang mendalam, tetapi juga dapat membangkitkan amarah dan benci yang paling intens. Pernikahan melibatkan perasaan saling bergantung dan saling membutuhkan. Siapapun yang merasa kehilangan antara sifat bergantung dan saling membutuhkan, tentu akan muncul sifat geram, yang kemudian akan timbul pertengkaran.
Pada artikel sebelumnya telah disebutkan tujuh tipe pertengkaran antara suami istri dalam kehidupan rumah tangga, berikut adalah lanjutan beberapa tipe tersebut dan cara menghindari pertengkaran yang tidak fair atau menyakitkan bagi kedua belah pihak.
Menggeneralisasi
Dalam pertengkaran ini, suami atau istri melemparkan kesalahan begitu luas sehingga tidak bisa dibuktikan. “Pokoknya, dimata kamu, aku selalu salah. Tidak ada satu pun yang aku bisa lakukan untuk menyenangkan kamu!”
Pertanyaan yang menjatuhkan
Dalam pertengkaran seperti ini, salah satu pihak melemparkan pertanyaan yang dapat menjatuhkan pasangannya. Misalnya, “Kenapa sih kamu nggak bisa hemat sedikit?” atau “Kenapa sih, kamu nggak bisa lebih jantan dan tegas menghadapi orang lain?” Si penanya sama sekali tidak ingin tahu apa jawaban pasangannya.
Mengancam
Mungkin anda sudah tahu model pertengkaran dengan bentuk ancaman. Pesan yang ada disini adalah: Untuk jangka pendek, ancaman-ancaman seperti ini mungkin akan berhasil. Tetapi untuk memelihara kelanggenan pernikahan anda, ancaman seperti ini sama sekali tidak ada gunanya.
Bercanda
Mungkin pernah anda saksikan suami yang berusaha mengubah suatu protes istrinya menjadi olok-olok. Sesudah teriakan dan air mata si istri, si suami tertawa lalu berkata, “Sudah deh, besok kan hari gajian.” Pertengkaran seperti ini sering menunjukkan bahwa salah satu pihak menganggap pasangannya tidak perlu terlalu dianggap serius.
Menggunakan perantara
Mungkin anda pernah melakukan hal yang sama, yakni menyatakan ketidakpuasan anda melalui pihak ketiga, “Aduh, maaf kami telat, Bu Jono. Maklum, suami saya malas sekali.” Atau “Bagaimana tidak terlambat Bu Jono, soalnya Elida kalau dandan…lama sekali.”
Mengubah pembicaraan
Anda mengubah topik pembicaraan, meskipun pasangan anda sudah memberi tanda bahwa ingin membicarakan sesuatu. “Saya sedang cemas dengan rapor si Andi.” “Aku juga. Oh ya, omong-omong, tadi saya ketemu Mariam dan dia bilang suaminya….”
Tak mengacuhkan
Contohnya seperti, “Saya nggak tahan kalau kamu terus-terusan meributkan soal saya meletakkan sepatu bukan pada tempatnya. Hari ini saya capek sekali di kantor dan kamu ribut soal sepatu…”
Menumpahkan amarah
Suami atau istri, misalnya, melempar atau merusak barang karena marah. Dengan kata lain, menyatakan amarah dengan tingkah laku dan bukan dengan kata-kata.
Pertengkaran fisik
Suami atau istri menggunakan kekuatan fisik untuk menyakiti pasangannya.Ini adalah salah satu bentuk pertengkaran yang paling tidak fair. Jika anda mengalami hal ini, minta pertolongan pada ahli sesegera mungkin.
Begitu banyak cara bertengkar yang dianggap tidak jujur dan tidak fair. Bagaimana bisa menghindarinya? Ada dua hal yang perlu anda ingat untuk itu. Yang pertama adalah bahwa anda bertengkar bukan untuk sekadar bertengkar atau mencari kalah menang, tetapi mencari jalan keluar yang paling baik bagi kedua belah pihak,
Yang kedua adalah menyadari, setiap orang memiliki ambang kelemahan (psychological belt-line). Usahakan agar anda bisa tetap respek pada pasangan dan jangan menyerang ambang kelemahannya, karena itu tindakan menyakiti yang paling tidak bijaksana.
Dengan mengingat dua pegangan sederhana itu, rasanya anda akan bisa menegoisasikan berbagai konflik dalam hubungan berumah tangga. Anda akan bisa bertengkar tanpa mengancam keharmonisan rumah tangga anda.


Duh,jangan sampegini deh klo dah nikah…parah..parah…Harus bisa saling menjaga aja intinya…
[Reply]
waaduuuh…jgn sampai pake kekerasan fisik ..NO Way.. gk boleh..kalo mo ribut ya pake omongan aja.. kalo udah maen pukul2an..waaa gk bgt dech kayaknya… btw keep posting yaa.. n komen my posting tuch.. U komen I komen ..
[Reply]
pertengkaran sih menurut ina wajar, karna mungkin beda pendapat, yg penting gag KDRT ajah hehehe…
Kag, aneh ina tiap hari ksini, comment jg, link ina disini gag ada yah?? walah brrti blum tukeran link nie,…. ina pasang skarang link kakag di blog ina,… ntar di link back yah kag
thanks kkag….
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
October 15th, 2009 at 6:23 pm
sudah dibacklink, silahkan dicek…terimakasih ina ^_^
[Reply]
ih,,ngeri masak nikan kerjanya berantem mulu,,,gak akh
[Reply]
betul..bagaimanapun juga kekerasan fisik tidak noleh dilakukan.jangan lupa ada faktor keluarga dalam pernikahan.saran saya sih jaga keseimbangan hubungan dengan pihak keluarga baik dengan keluarga istri maupun keluarga suami..
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
October 15th, 2009 at 6:21 pm
saran yang bagus….menjaga keseimbangan antar dua keluarga
[Reply]
wah senior juga mau berkunjung di tempatnya junior yac……udah pke hostingan ya keren banget tu….
[Reply]
Wach…tambah mantab nie sob artikelnya
[Reply]
jiaahhh.. pokoknya kalo bertengkar, saya selalu jd pengalah!! hahahahaha..
orang sama istri sendiri kok kejam2.. biar salah2 jg dia tetap istri-ku tercinta..
dan dia juga saya dan anda hanyalah manusia biasa, gak ada yg superior dimata Tuhan YME sob!!! yang sabar aja!!!
[Reply]
Muhammad Baitul Alim Reply:
October 15th, 2009 at 6:19 pm
benar…no body perfect.
[Reply]
gw yg belum nikah aj sering bgt brantem ma pacar gw bro…
tp walaupun bgitu, ad feel yg susah gw gambarin kl uda baen gt..
ktika amarah uda mreda n pikiran jernih uda bs bbicara..
[Reply]
berguna bagi yang sudah berkeluarga dan akan berkeluarga. Wonderful posting
[Reply]
Artikelnya keren dan isinya juga sangat menarik.
[Reply]
hihih
tips yag layak dicoba
[Reply]
blm ada posting baru ya.. btw have a nice weekend my dear friend
[Reply]
Siank kawand, aq mampir nie …..
[Reply]
Aku tertarik banget dengan ilmu-ilmu psikologi………
[Reply]
kalo bunda sich, seringnya diem aja kalo lagi marahannn he.he.he
[Reply]
wah bener tuh, jgnkan suami istri deh, waktu pacaran aja cowok kyk gitu. Suka ga acuh atau tidak perduli dg mslh yg ada (“please deh… cm mslh itu aja di bahas”) tapi kl dia ada mslh HARUS didengerin dan ditanggapin walau sekecil apapun. Kalo kita mrh, malah dibecandain, dianggap remeh banget.
[Reply]
baca malah senyum2, kadang keliatan lucu juga, masak dialihkan..besok kan udah gajian.
hehe…
[Reply]
waduh sampai pertengkaran fisik? jangan dong…
[Reply]
haha… ga tau sob blum punya istri saya
[Reply]
Met weekend sob
[Reply]
tapi menikah adalah sebuah keputusan sekali seumur hidup….salah ambil keputusan..
ya bertengkar ye…
ya susah dong….mending happy happy aje ye
berarti jangan buru buru kawin ye……
[Reply]
kembali ke sini,… kog lom update yah??? hihihi
[Reply]
sabar dan saling pengertian mungkin kunci yang paling ampuh…bener dak bro…??? hehheh
[Reply]
templatenya keren nih…
fresh jadinya…
[Reply]
cieeeee,…. baru nie… keren…. lebih fresh hihihihii
[Reply]
Hehehe …. jadi ‘speechless’,
makasiy yah, ‘mayan deh buat diingat2
bagus buat pelajaran bagi manten anyar
[Reply]
Namanya kehidupan 2 individu yang berbeda ‘segalanya’, menyatukan 2 isi kepala dan utk dpt bersinergi memang tidak mudah tp bkn jg berarti sulit.
Jika kita menganggap pernikahan adalah jalan yg masih panjang, pasti bisa temukan ‘win win solution’ utk keduanya
[Reply]