
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
Banyak kasus TKI Arab Saudi menyisakan ketidakjelasan dalam penyelesaian masalah hukum dan keamanan bagi para penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Saat ini (18/6/11), kembali muncul dengan adanya kasus Ruyati yang dihukum pancung dengan meninggalkan dugaan kekerasan oleh majikan.
Melihat sejumlah kasus yang pernah terjadi di Arab Saudi, akan menjadi perbincangan menarik bila dikaitkan dengan kultur dan perilaku masyarakat disana. Bagaimana penjelasan Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono, Guru Besar bidang Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tentang hal ini? Muhammad Baitul Alim dari Psikologi Zone berkesempatan melakukan wawancara dengan beliau.
Berikut adalah petikan wawancara tersebut.
Sisa-sisa tradisi perbudakan bangsa Arab sejak jaman jahiliyah menjadi kajian mengurai akar kekerasan yang kerap dialami TKI, benarkah hal ini dan mengapa perilaku ini masih ada, melihat jaman jahiliyah sudah tidak ada sejak islam datang?
Siapa bilang jaman Jahiliyah sudah hilang sejak Islam datang? Perliaku orang Arab sekarang masih belum jauh berbeda dari jaman Jahiliyah. Termasuk dalam hal konsep mereka tentang perbudakan. Karena mereka sudah membayar TKW maka mereka menganggap mereka sudah membeli TKW dan TKW itu dalam persepsi mereka adalah hak penuh dari majikan. Semasa Rasullulah wafat belum semua hal bisa diselesaikannya, termasuk tentang perbudakan. Waktu itu berhubungan kelamin dengan budak tidak dihitung sebagai zina, dan konsep itu masih dipraktikkan sampai sekarang.
Apa yang bisa anda jelaskan mengenai statement, bahwa perilaku beragama tidak selalu identik dengan kultur dan perilaku pemeluknya, sehingga hal ini tidak menjadi jaminan di Arab Saudi akan aman?
Perilaku beragama tidak berkorelasi dengan apapun juga kecuali dengan perilaku beragama itu sendiri. Tidak usah Arab, Indonesia pun, yang matoritasnya adalah Muslim yang sangat religius, nyatanya juga menyandang predikat negara paling korup, hadist “kebersihan adalah bagian dari iman” tinggal slogan, nyatanya sampah berserakan, dan musholla rata-rata jorok (mukena di musholla bau) dst. Agama baru mencerminkan perilaku orang, kalau orang mengaitkan agamanya (sholatnya, puasanya, dzikirnya) dengan perilaku nyata. Banyak bangsa lain yang tidak beragama lebih Islami dari negara-negara muslim atau yang berpenduduk muslim.
Bagaimana anda menanggapi fenomena perilaku masyarakat yang tetap berminat untuk menjadi TKI di Arab Saudi dengan pertimbangan faktor spiritual, walaupun jaminan atas kekerasan belum pasti?
Saya kira pertimbangan TKW ke Arab adalah dorongan ekonomi, bukan agama,
Bagaimana pendapat anda bila pengiriman TKI pembantu rumah tangga ke Arab Saudi masih tetap dilakukan melihat ada kecenderungan perbedaan kultur budaya dan perilaku masyarakat yang mengakibatkan kekerasan terjadi?
Sebetulnya yang jadi masalah hanya TKW, bukan TKI laki-laki. Di Arab banyak TKI laki-laki, bekerja macam-macam (supir, mekanik, tukang dll), mereka tidak ada masalah. Juga perempuan Indonesia di Arab yang bukan bekerja sebagai PRT (wanita Madura berdagang penganan di Mekah) tidak ada masalah. Konsep perbudakan tidak berlaku buat mereka.
Sebaliknya, tidak di Malaysia, TKW juga sering mengalami masalah (walaupun tidak ada yang dhukum pancung, kebanyakan penyiksaaan) dan pelakunya adalah majikan Cina. Saya menduga karena ada kebiasaam memelihara gundik di budaya mereka sejak zaman nenek moyang mereka. Majikan dari etnik Melayu dan India, hampir tidak pernah bermasalah dgn PRTnya (muslim Malaysia tidak anti poligami, tetapi berzina dengan PRT tetap haram, karena PRT di Malaysia bukan budak).
Lain halnya dengan TKI laki-laki di Malaysia. Mereka sering dikejar-kejar polisi, tetapi karena kebanyakan mereka adalah imigran gelap yang melanggar hukum.
Apa saran yang mungkin anda bisa berikan bagi mereka yang memutuskan untuk bekerja di Arab Saudi, mengingat kultur kita berbeda dengan mereka?
Setiap TKW (dan juga TKI) harus dilatih dalam dua hal: (1) jadi pekerja yang profesional, termasuk jadi TKW profesional (banyak TKW tidak mengikuti training dulu, langsung diberangkatkan oleh PJTKO demi kejar setoran), (2) mengenal kebiasaan orang Arab dan tahu caranya menyelamatkan diri kalau ada masalah. Mereka pun harus dilindungi dengan kontrak dan undang-undang yang bisa mengamankan mereka dari semua ancaman, dan pemerintah harus melindungi TKW melalui perjanjian bilateral dengan pemerintah Saudi Arabia (dan Malaysia juga).



