Peran Psikologi dalam Perang dan Militer

Janice H. Laurence (Temple University)

Amerika Serikat, Psikologi Zone – Ketika Amerika Serikat diminta untuk menanyakan faktor keberhasilan dalam perang abad ke-20 dan konflik abad ke-21, maka yang dicari adalah jawaban pada bidang-bidang seperti fisika, kimia dan teknologi informasi. Namun ada bidang keilmuan yang memiliki kontribusi dalam perang modern dan tidak terlihat, yaitu psikologi.

Menurut Janice H. Laurence, profesor perkembangan dewasa dan organisasi di Temple’s College of Education, bidang psikologi memiliki pengaruh dalam sebuah perang melalui berbagai cara. Sebaliknya, ia mengatakan, perang modern seharusnya memerlukan inovasi dalam bidang psikologi yang memiliki aplikasi jauh melampaui militer.

Laurence, yang baru saja pensiun dari Pentagon sebagai direktur penelitian dan analisis di Kantor Wakil Menteri Pertahanan, Personalia dan Kesiapan, telah mengumpulkan sebuah pengetahuan terbaru dari bidang psikologi militer dan menerbitkannya dalam buku berjudul The Oxford Handbook of Military Psychology (Januari, 2012), rilis Temple University (31/1).

Topik yang dibahas di buku pegangan ini mencakup bidang klinis, psikologi industri/organisasi, eksperimen, dan sosial. Kontributor dalam buku ini adalah para ahli internasional terkemuka dalam psikologi militer.

“Militer merupakan tempat penelitian mutakhir tentang kepemimpinan”, kata Laurence.

Penelitian menarik dalam sebuah kepemimpinan saat kelangsungan hidup dan kesejahteraan dipertaruhkan dalam sebuah perang. Psikologi militer sedang membangun pengetahuan yang dapat menginformasikan strategi mengembangkan pemimpin yang efektif.

Kondisi perang modern saat ini, memiliki prosedur evakuasi yang cepat dan telah membawa perbaikan dalam psikologi konseling dan klinis untuk mengatasinya.

“Kami melihat perkembangan menarik dalam pengobatan gangguan stres, cara terbaik menangani trauma dan bagaimana membangun ketahanan,” katanya.

Daerah lain yang menunjukkan hubungan penting antara militer dan psikologi adalah perekrutan, pelatihan, memotivasi, menjaga, mengelola, mengintegrasikan dan mempertahankan anggota militer. Bahkan aplikasinya dapat diterapkan dalam arena non-militer.

“Pengetahuan yang diperoleh dari psikologi militer meningkatkan kehidupan manusia dalam semua domain,” tutup Laurence. (mba)