Ilmu Psikologi | Artikel Psikologi OnlineBloom

Modifikasi Perilaku, Aktifitas Aversif

Published on Tuesday, November 24, 2009 by Muhammad Baitul Alim

Modifikasi Perilaku, Aktivitas AversifHukuman positif (positive punishment), peristiwa aversif diterapkan bergantung pada terjadinya perilaku bermasalah, dan hasilnya diharapkan mengalami penurunan di masa depan. Suatu perilaku bermasalah dapat menurun dari penerapan kegiatan aversif.

Aversif menurut bahasa adalah suatu perilaku atau aktifitas yang tidak penyenangkan. Lebih detailnya aversif sendiri adalah perilaku probabilitas yang rendah, biasanya orang tidak akan memilih untuk terlibat kedalam bentuk hukuman positif (positive punishment) didasarkan pada Premack principle, yang menyatakan bahwa ketika persyaratan untuk terlibat dalam perilaku probabilitas rendah (kegiatan aversif) dikondisikan pada terjadinya perilaku probabilitas  tinggi (perilaku bermasalah), perilaku probabilitas tinggi akan menurun di masa depan (Miltenberger & Fuqua, 1981).

Contoh Bentuk Perilaku Aversif

Alisa sedang marah pada ayahnya karena ayahnya tidak jadi mengajaknya ke taman. Kemudian Alisa mengambil crayon dan dan mulai mencoret-coret tembok dapur. Ketika dia mencoret dengan menggambar sebuah lingkaran yang cukup besar ayahnya memergokinya kemudian dengan tegas ayahnya berkata bahwa dia tak boleh melakukan hal itu. Kemudian ayahnya mengambil detergen dan kain perca dan menyuruh Alisa untuk membersihkan tembok. ayahnya hanya berdiri dan melihat Alisa membersihkan tembok tanpa banyak bicara.

Setiap kali Alisa mengeluh ayahnya tidak menghiraukannya, dan apabila Alisa berhenti membersihkan tembok ayahnya menggunakan physical prompted (bimbingan fisik ; menggerakkan tangannya) agar dia tetap melanjutkan membersihkan tembok sampai bersih. Sekali Alisa sudah selesai membersihkan crayon di tembok, ayahnya membawanya ke tembok lainnya untuk dibersihkan.

Ayahnya tetap diam dan tidak memberikan perhatian jika Alisa mengeluh, dia hanya memberikan physical prompted (bimbingan fisik ; menggerakkan tangannya) apabila Alisa berhenti membersihkan. Setelah selesai 15 menit dia menyuruh Alisa untuk berhenti dan memperbolehkannya bermain kembali. Setelah kejadian itu Alisa tidak mengulangi perbuatannya lagi untuk mencoret coret tembok.

Walaupun aversive stimulus adalah sebuah event lingkungan yang dapat menjadi Punisher (hukuman), sebuah aktivitas aversif dapat menjadi Punisher perilaku lain. Seseorang akan mencoba untuk menghindari atau melarikan diri dari suatu aktivitas aversif. Akibatnya terapis sering kali harus menggunakan bimbingan fisik (physical guidance) untuk menggerakkan klien dalam aktivitas aversif bagi perilaku bermasalah.

Ketika menerapkan suatu kegiatan aversif sebagai Punisher positif, terapis memerintahkan klien untuk terlibat dalam aktivitas eversif pada perilaku bermasalah. Jika klien tidak terlibat dalam kegiatan yang diperintahkan, terapis kemudian menggunakan bimbingan fisik (physical guidance) untuk membuat klien terlibat dalam perilaku aversif. Akhirnya, klien harus terlibat dalam kegiatan atas perintah untuk menghindari bimbingan fisik (physical guidance) yang sebelumnya mengikuti perintah.

Berbagai jenis prosedur hukuman positif menggunakan berbagai jenis kegiatan aversif sebagai berikut:

  1. Overcorrection
  2. Positive Practice
  3. Restitution
  4. Contingent Excersice
  5. Guided Compliance
  6. Physical Restraint (Pengekangan Fisik)

Metode ini adalah metode opsi terakhir digunakan setelah metode modifikasi perilaku yang lain tidak efektif digunakan. Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini.

Random Posts

23 Responses
    • wah… bisa jdi pelajaran nie….
      klo suatu saat punya anak sperti Alisa….
      nice posting kag….
      makasih yah pelajarannya…. :)

      [Reply]

    • wah… ini pembahasannya agak berat bagi saya mah, tapi betul kalau memberi hukuman harus di sertai dengan tujuan untuk mendidik dan tidak semata mata menghukum tanpa ada alasan lain di balik hukuman yang di berikannya itu dan di berikan secara bertahap tidak langsung yang berat. itu saja ah..salam.

      [Reply]

    • berkunjung balik ke tempat sahabat… Blognya Oke bangetz…

      [Reply]

    • berkunjung balik ke tempat sahabat… Blognya Oke bangetz…

      [Reply]

    • Jujur, pada saat membacanya saya masih kurang paham akan pengkondisian dari sikap aversif tersebut.
      walaupun dari cerita yang digambarkan dari si Alisa pada saat diberikan hukuman oleh Ayahnya.
      Saya hanya membayangkan sikap yang dirasakan oleh Alisa saja. Pendapat saya, Sikap dari Ayahnya ini sebenarnya tidak membantu dalam penyelesaian masalah yang baik terhadap anak.

      Kalau boleh diambil penyelesaian perkara, pada saat Alisa mencorat-coret, tindakan ayahnya yang pertama sudah benar yaitu berusaha memberi pengertian agar alisa tdk melakukan ini, dan apa salahnya tindakan selanjutnya kalau Ayahnya lebih baik selain memberikan saran dan juga ikut membersihkan apa yang dilakukan si Alisa. Jadi saling membersihkan bersama-sama.

      Karena moody si Alisa memang harus dipahami dan dikembalikan seperti semula, jangan sampai mood yang kurang baik itu semakin menjadi.

      Yah… namanya juga pendapat,hehehe
      b’Coz saya masih kurang paham mengenai ini, (aversif)…
      ^_^

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      ^_^ saya bisa memahaminya mas. Hal ini mungkin akan lebih dimengerti bagi yang mendalami ilmu psikologi dari awal, seperti mahasiswa psikologi. Karena memang mencakup beberapa teori dasar psikologi.

      Sebenarnya peristiwa aversif adalah suatu kegiatan yang tidak menyenangkan bagi yang melakukan (dalam hal ini membersihkan tembok bagi alisa), nah membersihkan tembok merupakan suatu bentuk hukuman bagi alisa. Tujuan dari hukuman itu adalah agar alisa tidak lagi mencoret coret tembok diwaktu yang akan datang, karena konsekuensinya, ia akan di suruh membersihkan tembok, dimana membersihkan tembok adalah perilaku yang tidak disukai oleh alisa.

      Metode ini, merupakan metode opsi terakhir bila metode modifikasi perilaku yang lain tidak efektif lagi dilakukan. Dan ada beberapa metode dalam hal modifikasi perilaku, dan metode tersebut juga berdasarkan teori teori dasar psikologi.

      [Reply]

      phonank Reply:

      Oh begitu….
      yah mulai bisa saya pahami,
      tp gak terlalu buruk dengan cara seperti itu.
      yah walaupun meninggalkan sebuah psikis (rasa takut),,

      bukan begitu..?

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      Benar mas, dalam metode ini dapat menyerang perasaan anak…oleh karena itu merupakan prosedur terakhir untuk dilakukan.

    • Masih ada bahasan mengenai ini ga selanjutnya..??
      hehe…
      masih bingung,hohoohoo

      [Reply]

    • Aversif… heuum kalo lama2 didiamkan bisa2 bukannya coret2 dinding aja nanti barang2 di rmh mulai dipecahin.. heheheh abis dah.. yg kayak gini harus mendapat bimibingan ortu yg tepat dn ortu jgn bertindak kasar (hukuman yg lebay) trhdap anak berikan dahulu penjelasan dg baik kpd si anak (dirayu2 gitu) :D ..postingan yg bagus sob ;-)

      [Reply]

    • mantap. baca artikel keren sambil ngopi di sini.

      [Reply]

    • mas baitul,bagus2 nie artikel’e…bs dibuat referensi nie:) diperbanyak lagi zoo…yg lbh bagus lg…

      [Reply]

    • Thank’s infonya sob

      [Reply]

    • bagus bgt artikelnya,tapi gmana klo ank g seperti alisa?misal hiperaktif atau kadang ank yang seperti itu sedang membutuhkan perhatian.

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      Anak yang hiperaktif (ADHD) biasanya dilakukan terapi behavioral, yang bisa dilakukan oleh orangtua dan guru disekolah agar anak dapat berkonsentrasi dalam mengerjakan suatu tugas.

      [Reply]

    • Man taaa…..aaa…aaaa….aaaa…aaab banget postingnya…..mampir dimalam yg pekat…sukses selalu

      [Reply]

      Setiyono Reply:

      Keren deh

      [Reply]

    • Artikel psikology ni emang keren. Bisa buat pengalaman. Makasih ya sob pelajaran ini n sangat berharga buat kami. Makasih

      Setiyo
      http://setizone.co.cc

      [Reply]

    • memang jaman sekarang kalau memberikan hukuman pada anak tanpa hukuman fisik kayaknya gak jaman gitu..hehehh,justru terlalu sering kita melakukan physical guidance (dlm arti kata yg terlalu keras,dan itu di jaman sekarang saya liat sering terjadi) itu sangat berbahaya pada perkembangan emosional anak,kalau sudah terlalu parah itu nantinya mungkin bisa berakhir pada kondisi psikis sianak,misalkan sesudah dewasa nantinya dia akan menjadi seorang yg pasif atau yg parahnya bisa kemungkinan sampai menjadi psikopat.

      [Reply]

    • thanks, artikel menari, cuma mesti download lg nyelesaikn bacaanx?

      [Reply]

    • tlg dong jwbx…
      “bgmn memunculkan perilaku dan bagaimana memadamkan perilaku?beserta contohnya!”

      atas jawb n bntuanx, trma kash bxk….!!!!!

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      Sebenarnya pertanyaannya terlalu umum. Perilaku dan dalam konteks seperti apa yang harus dimunculkan dan dihilangkan atau dikurangi? Karena pada dasarnya perilaku manusia sangat banyak sebabnya.Misalnya, ketika seorang anak yang malas belajar, kita bisa memberinya stimulus berupa reward sebagai motivasi untuk dia agar mau untuk belajar. sedangkan meghilangkan perilaku bisa dengan memberikan sebuah punishment atau hukuman. Tetapi dalam penerapannya harus dikaji lebih dalam sebelum melakukan intervensi.

      [Reply]

    • Assalamu’alaikum,,
      sblm dn ssudahnya sya ucapkan terimakasih atas izinnya untuk berlangganan artikel psikologi ini.
      Saya mau tanya,,
      1. Gimana caranya mendamaikan 2 org yg lg berselisih, sedangkan beberapa cara telah dicoba. Misal: menceritakan kebaikan antara keduanya secara bersilang(menceritakan kebaikan si A kpd si B dn sebaliknya)
      2. tolong kasih masukan y buat ngadepin qiyadah(pemimpin yg over “easy going”). padahal jundinya(anak buahnya) tdk peka dg keinginan si pemimpin yg terlalu membiarkan anak buah dg model pendidikan “pembiaran”. sedangkan realita krg sesuai dg keinginan pemimpin. jazakumullah..

      [Reply]

Have Your Say
Your Name ↓
Your Email ↓
Your Website ↓
Tell us what you think of this story ↓
You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Advertisements
Berlangganan Artikel
Cek email untuk konfirmasi berlangganan artikel
Bergabung Bersama Kami
Chat Box