Ilmu Psikologi | Artikel Psikologi OnlineBloom

Konformitas Dalam Perilaku Tawuran Supporter Sepak Bola

Published on Wednesday, October 28, 2009 by Muhammad Baitul Alim

tawuran-sepak-bolaLiga Indonesia adalah kompetisi sepak bola antarklub di Indonesia. Liga Indonesia diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia dan Badan Liga Amatir (BLA) yang berada di bawah PSSI. Terdapat lima tingkatan liga terdiri dari liga super, divisi utama, divisi satu, divisi dua, dan divisi tiga. Liga super merupakan liga yang mempunyai tingkatan tertinggi dari keempat liga lainnya di indonesia. Disamping liga ini adalah liga terpanas dalam bidang persepakbolaanya tetapi juga terpanas dalam segi tawuran antar suporter.

Pada waktu sekarang ini tentunya sudah tidak asing lagi dengan perilaku tawuran yang dilakukan oleh berbagai suporter di kancah liga super indonesia. Bahkan tawuran seperti ini tidak jarang mengakibatkan luka-luka hingga berujung pada kematian.

Tawuran ini sangat mudah dipicu dengan saling olok-mengolok antar suporter, tensi pertandingan, kepemimpinan wasit, dan masih banyak pemicu lainnya. Pemicu inilah yang memudahkan munculnya tawuran antar suporter yang merasa geram, tidak terima, ataupun kesal terhadap suporter lawan..

Lokasi tawuran sendiri sering juga terjadi dikota-kota besar di indonesia, khususnya daerah barat indonesia. Hal ini senada dengan seringnya pertandingan-pertandingan klub elit di indonesia. Klub elit inilah yang memiliki suatu magnet yang luar biasa dalam mendatangkan keuntungan bagi pihak penyelenggara tetapi juga mendatangkan kerusakan di daerah kota akibat tawuran.

Fanatisme dalam persepakbolaan di indonesia memang sangat berlebihan dan bersifat lokal bukan secara universal. Inilah yang dapat mengakibatkan munculnya permusuhan antara pendukung tim satu dengan tim yang lain. Berbeda dengan liga eropa seperti halnya inggris. Fanatisme lebih bersifat universal akibat meratanya pemain tim nasional inggris diberbagai klub liga inggris, dan juga di dukung dengan prestasi yang diraih oleh tim nasional mereka.

Jika tim nasional indonesia memiliki reputasi yang baik di kancah internasional maka fanatisme lokal akan berubah menjadi fanatisme universal, akibat meratanya pemain tim nasional yang mereka gandrungi. Sehingga sehingga pemain Medan dianggap juga milik orang Surabaya, pemain Surabaya jadi milik orang Makassar, dan seterusnya.

Kefanatikan lokal dapat membuat suatu kelompok menjadi sangat solid kerena mereka mempunyai keterikatan bersama sehingga sikap imitasi dari sebagian besar anggota suporter yang masih remaja ini dikhawatirkan memicu problem sosial yang lebih serius. Mungkin awalnya hanya senang, namun selanjutnya memberi contoh sehingga ikut senang merusak.

Definisi konformitas menurut Brehm dan Kassin mengatakan bahwa kecenderungan untuk mengubah persepsi, pendapat, perilaku seseorang sehingga konsisten dalam perilaku atau norma kelompok. Setiap seseorang yang masuk kedalam suatu kelompok maupun kelompok pendukung sepakbola memiliki kecenderungan untuk menyamakan presepsi, pendapat dan perilaku seseorang terhadap kelompoknya.

Menurut penelitian Rahayu Sumarlin tahun 2009, bahwa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya konformitas adalah

  • Memiliki ikatan yang kuat terhadap kelompoknya.
  • Merasa bahwa kelompoknya merupakan hal yang penting dalam hidupnya dan sangat besar pengaruhnya.
  • Ukuran kelompok karena besarnya jumlah anggota kelompok yang sangat berpengaruh dan cenderung untuk lebih memilih anggota kelompok dengan jumlah yang banyak.
  • Suara bulat karena lebih memilih keputusan bersama dari pada memperhatikan pendapat sendiri.
  • Status karena tingginya status seseorang yang ada dikelompok dianggap bisa dijadikan contoh karena ada sesuatu hal yang lebih dari orang tersebut.
  • Tanggapan umum seperti lebih percaya fakta dari pada kabar yang baru didengar.
  • Komitmen umum seperti tidak mempunyai komitmen terhadap siapapun.
  • Pengaruh informasi karena subjek bisa memperoleh informasi dari kelompoknya tersebut.
  • Kepercayaan terhadap kelompok karena subjek sudah mengenal lama kelompoknya sehingga subjek percaya terhadap pendapat kelompoknya.
  • Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian diri sendiri karena merasa tidak percaya diri dan tidak yakin kepada diri sendiri sehingga membuat subjek menjadi bergantung kepada teman-temannya.
  • Rasa takut terhadap celaan sosial dan penyimpangan seperti mau melakukan apa saja untuk kelompok agar tidak disisihkan dan di cela.

    Dalam sebuah kelompok setiap anggota tidak lepas dari kata konformitas dimana sesorang memiliki kecenderungan untuk berperilaku sama sesuai dengan norma kelompok. Jika proses imitasi sudah berkembang dengan mencontoh, maka konformistas akan lebih mudah untuk dilakukan.

    Konformitas memiliki pengaruh kuat dalam terjadinya tawuran antar suporter, berawal dari salah satu anggota sebagai pemicu perilaku, maka yang lain juga akan memiliki kecenderungan untuk melakukan hal yang sama. Bisa dengan mengolok, melempar batu, bersorak sorak dan lainnya.

    Random Posts


    Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
    29 Responses
      • UntungLah suporter SRIWIJAYA FC kagak pernah tawuran walopun Menang atau Kalah itu Hal biasa dalam pertandingan.. Gimana Mo maju LSI jika antar suporter tawuran mulu… kn katanya mau jadi tuan rumah Piala dunia yg akan datang.. Perbaikan Citra SEpakbola dalam negeri sungguh diperlukan :-) ..btw ditunggu komeng baliknya sob

        [Reply]

        danuakbar.com Reply:

        sriwijaya emank yang paling yahud..

        hm.. buat supporter indonesia, jgn lagi dech tawuran2 g penting itu..
        hanya merusak citra aja… g membawa perubahan positif..!

        [Reply]

      • kira-kira ada gak ya cara gak terkonformitasi ??

        [Reply]

      • Sudah saatnya, para generasi muda, melakukan hal-hal “nafsyu”, TIDAK BERGUNA ! Renungkanlah. Pada kesempatan “Sumpah Pemuda” kali ini, mari kita telaah dan ikuti apa yang mereka lakukan. Mereka akan menangis bila mengetahui ternyata generasi muda Indonesia, setelah merdeka malah “berfoya-foya dan brutal”. Masa lihat bola antar dareah saja rusuh. Lihatlah para pejuang pemuda kita, yang berlatarbelakangbeda, namuntetap satu, MALI DONK!

        [Reply]

      • dari dunia olahraga…sudah menunjukan sikap mental yang belum dewasa….hal ini cerminan dari masih rendahnya pendidikan yang kita alami….
        dan semoga bangsa kita dapat berubah…..

        [Reply]

      • kayaknya tawuran bukan saja dari kalangan masyarakat….. pendukung caleg pun juga tawuran…

        [Reply]

      • kapan sih,… gag ada tawuran lagi??? kapan tenang dan damainya Indonesia, klo selalu ada tawuran… hufth :(

        [Reply]

      • cpd tawuran teruz,,,,,

        [Reply]

      • ya itulah, kita harus banyak belajar dewasa dan belajar malu untuk membuat sesuatu yg mirip anak kecil termasuk tawuran

        [Reply]

      • ini yg bikin malu nama mahasiswa. kaum intelektual yg seharusnya bisa bertindak bijak dan terpelajar tapi tidak ubahnya spt preman pasar. sungguh memalukan

        [Reply]

      • sedih kalau ada tawuran seperti ini.
        ternyata banyak faktor penyebabnya yah.
        FTS friend.

        [Reply]

      • kayaknya di Indonesia tu olahraga khususnya sepakbola kalo ga’ da tawuran kurang afdhol, ga’ rame katanya..

        [Reply]

      • Sepak bola indonesia tidak akan pernah maju jika supporternya belum dewasa… :)

        [Reply]

      • nonton romeo juliet dah… wajah sepak bola indonesia yang hancur!

        [Reply]

      • tawuran itu identik dengan pemikiran yang primitif..

        [Reply]

      • walah kok tawuran mulu sih kapan indonesia bisa maju kalau penduduknya masih doyan ama yang namanya tawuran :D

        [Reply]

      • memang sungguh ironis,, pada saatnya sekarang ini Indonesia baru akan memulai berkembang sepakbolanya dari segi kulitas, kuantitas dan manajemen yang profesional.

        Ehh.. masih ada kendala yang harus dihadapi, yaitu Tawuran Suporternya,, ck.ck.ck

        harus ada tindakan dan sanksi yang tegas dari komdis

        [Reply]

      • ah… hanya org2 cemen yang suka tawuran..

        [Reply]

      • Sedih melihat kenyataan hidup persepakbolaan Indonesia yang senantiasa diwarnai dengan tawuran. Apakah ini merupakan ciri perilaku bangsa Indonesia yang suka menyikapi suatu suasana dengan tidak sportif? Sampai kapan suporter yang rata-rata adalah generasi muda menyadari sikap sok hebat tapi kekanak2an ini?

        [Reply]

      • Makasih infonya..

        [Reply]

      • Dalam menyikapi perilaku suporter di Indonesia tidak bisa dilihat dari hanya satu sisi saja, karena banyak faktor yang membuat mereka berperilaku seperti yang disebut di atas.
        Hal ini berbeda dengan lima sampai sepuluh tahun silam, sekarang mungkin lebih damai walaupun masih sesekali tersiar “keributan” suporter juga tawuran antar suporter.

        Salah satu permasalahannya adalah dari PSSI itu sendiri,
        Apabila ingin mengubah kefanatikan lokal maka pengurus PSSI khususnya, harus mau berubah untuk maju atau mau digantikan mereka yang lebih mumpuni dalam mengurus sepak bola sehingga salah satunya adalah pembinaan dan pengelolaan sepak bola di tanah air berjalan ke arah “jalan yang lurus”.
        Sehingga sepak bola Indonesia bisa lebih maju dan mampu bicara dalam tingkat regional dan internasional yang pada akhirnya akan mengubah dari fanatik lokal menjadi fanatik universal.

        Mohon maaf terlalu panjang komen-nya,
        Mungkin yang Anda maksud di sini adalah perilaku tawuran secara universal, bukan menitikberatkan pada tawuran suporter sepak bola di Indonesia.

        [Reply]

        Muhammad Baitul Alim Reply:

        Terimkasih atas solusi untuk PSSInya. Disini yang dibahas memang pesepakbolaan di indonesia. Dan memang benar bahwa dalam perilaku ini banyak sekali faktor yang mempengaruhi, tetapi kali ini yang dibahas, bagaimana jika dipandang dari sudut konformitas dari suatu kelompok dalam perilaku tawuran ini.

        [Reply]

      • wahhhh kalo mau tawuran pantasnya di RING ya sobbb?? palagi pemain sepak bola banyak yang nonton,hehe

        nice info sobat!!!

        [Reply]

      • Ga tawuran ga rame !!! Ada doktrinisasi-doktinisasi kepada para anggota antara para suportor satu agar membenci suporter lain yg menjadi lawan atau musuh bebuyutannya. Entah apa yg ada dalam benak mereka, tp yg jelas hal ini yg menylitkan Indonesia untuk bersatu.

        [Reply]

      • Gw cuma mau bilang kenapa sih bangsa kita ini senangnya tauwuran aja gak anak-anak sekolah, anak kuliahan hingga para wakil rakyat emangnya udah gak tahan mau perang atau memang udah pada sok jadi jagoan ?!

        [Reply]

      • knapa banyak orang yang tidak berlapang dada yah!!
        Fiuuhh,,, makin anarkis saja!!

        [Reply]

      • menurut saya, selain pake emosi, mereka itu ada yg cuma ikut2an tawuran, itu yg terjadi pada para perusuh yg masih barusia antara 14-17 tahun

        [Reply]

      • tawuran dalam sepakbola kita emang sering terjadi. pemicunyapun bermacam-macam, dari saling ejek antar supporter sampai kepemimpinan wasit yang dianggap kurang fair. Semoga aja para supporter di Indonesia semakin tertib dan gak ada lagi tawuran antar supporter. Dukung Tim Nasional supaya berprestasi dan ditakuti da kawasan Asia Tenggara (Asia Tenggara dulu dunianya nanti aja).

        [Reply]

    Have Your Say
    Your Name ↓
    Your Email ↓
    Your Website ↓
    Tell us what you think of this story ↓
    You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Advertisements
    Berlangganan Artikel
    Cek email untuk konfirmasi berlangganan artikel
    Advertisements
    Bergabung Bersama Kami
    Statistik
    Chat Box