Dengan kesibukan kita, mungkin kita lupa bersyukur kepada Tuhan bahwa kita diciptakan dalam bentuk dan sifat yang terbaik dibandingkan dengan mahluk yang lain. Perbedaan utama kita dengan mahluk yang lain, ialah kemampuan kita berfikir dan merasakan dengan moral yang jauh lebih tinggi daripada mahluk lainnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Tuhan menitahkan kita sebagai ‘pemimpin’ bagi mahluk yang lain. Hal tersebut bukanlah perkara yang datang begitu saja sebab Tuhan telah memberikan kita kenikmatan kekuatan pemikiran dan perasaan moral tersebut.
Kekuatan itulah yang disebut sebagai budaya. Dari asal kata BUDI dan DAYA. Budi bermakna pemikiran/ perasaan sedangkan daya berarti kemampuan. Hal tersebut bermakna bahwa hanya manusialah yang mempunyai kekuatan tersebut untuk membuat kehidupan dirinya dan mahluk yang lain menjadi lebih baik. Hanya manusialah yang mempunyai budaya yang lebih baik dari mahluk lain.
Dengan kekuatan tersebut maka manusia diharapkan mampu memimpin alam semesta ini. Tetapi tentu saja, menjadi pemimpin tidaklah mudah sebab kita pasti diminta pertanggungjawaban terhadap semua amal perbuatan kita dalam memimpin, setidaknya memimpin diri kita sendiri. Sudahkah kita mengendalikan diri dalam berkomunikasi? Asking is thinking yang saya sajikan diatas tentunya berkaitan dengan budaya manusia, terutama dalam proses berkomunikasi.
Para sosiolog dan antropolog menyarikan bahwa budaya merupakan proses konvensi atau kesepakatan berdasarkan pemikiran dan perasaan manusia dengan kumpulannya. Termasuk salah satunya ialah kesepakatan bahasa. Perlu ditekankan dalam pemaknaan bahasa di sini bukan saja perihal komunikasi verbal tetapi juga bahasa yang mengarah kepada non verbal. Secara jelas, mungkin kita tetap bisa hidup tanpa budaya dan bahasa, namun tidak sebaik sekarang.
Mungkin kita tetap bisa hidup di zaman batu karena budaya dan bahasa yang disepakati pada saat itu lebih sederhana daripada sekarang ini. Namun karena kita telah terbiasa dengan kemajuan budaya dan bahasa kita sehingga kalau sekarang kita diminta kembali ke zaman batu tentunya akan mengalami tekanan (stress).
Mengapa stress? Karena terjadi kesenjangan antara harapan kita yang ingin berkomunikasi dan berbudaya secara maju namun realitanya kalau kita kembali ke zaman batu, hal tersebut tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, fenomena akan selalu kembali merujuk kepada konteksnya (Albert Camus). Oleh karena pentingnya budaya dalam proses komunikasi sebagai salah satu determinan atau faktor penentu maka Burgon & Huffner (2002) menjelaskan bahwa budaya merupakan salah satu fondasi utama dalam proses komunikasi. Pernyataan ini mempunyai alas an bahwa budaya merupakan faktor pembentuk adanya bahasa yang disepakati dalam komunitas tertentu.
Sekali lagi, perluasan jenis bahasa ini termasuk bahasa verbal dan non verbal. Contoh bahasa yang terbentuk dengan kesepakatan budaya secara verbal ialah Bahasa Indonesia. Sedangkan contoh bahasa yang terbentuk dengan kesepakatan budaya secara non verbal dalam konteks budaya Indonesia ialah ‘anggukan’ yang berarti setuju atau ‘ya’. Mungkin akan berbeda kalau kita melihat dalam konteks budaya lain, seperti ‘anggukan’ di konteks budaya India berarti ‘tidak’ atau ‘nehi’ dan sebaliknya untuk ‘gelengan’ kepala. Sekali lagi semua terikat dalam suatu konteks budaya.
Bahasa dalam Lintas Budaya
Kita tidak dapat menafikan bahwa bahasa sangat terpengaruh oleh budaya. Oleh karena zaman globalisasi ini maka memungkinkan budaya saling bersinggungan. Persinggungan dan pertemuan budaya inilah yang memungkinkan manusia memasuki alam lintas budaya. Menurut catatan Burgon & Huffner (2002), beberapa perbedaan bahasa dalam lintas budaya dapat terlihat dari;
- contoh: Perbedaan bahasa non verbal ‘anggukan’ dalam konteks budaya Indonesia dengan India, cipika-cipiki (touching) dalam konteks budaya timur dengan barat.
- Perbedaan contoh: intonasi yang meninggi di Jawa Timur akan dirasa intonasi ‘mendikte’ oleh orang yang mempunyai orientasi budaya Jawa Tengah atau Yogyakarta.
- contoh: kata Perbedaan pemaknaan bahasa/ kata ‘butuh’ dalam konteks budaya Indonesia dimaknai sebagai keperluan dan dalam konteks budaya Malaysia dimaknai sebagai alat kelamin.
- konteks budaya Jawa Timur cenderung lebih asertif Perbedaan diksi dalam menyampaikan pendapat daripada konteks budaya Jawa Tengah yang cenderung ‘unggah-ungguh’ sehingga diksinya pun berbeda. Contoh: leveling diksi penyebutan ‘kamu’ dalam konteks budaya Jawa Tengah yang berjenjang, yaitu ‘kowe’, ‘sampeyan’, ‘panjenengan’, ‘pangandika’.
Oleh:
M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi.
Burgon & Huffner. 2002. Human Communication. London: Sage Publication.
| Tweet |





