
Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi
Konsultasi oleh Uswatun Hasanah.S.Psi.M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, direktur dan konsultan pendidikan anak, rekan ahli psikologi di beberapa lembaga, dan pernah menjadi pembicara di berbagai acara seminar, pelatihan dan talk show.
Tentang Uswatun Hasanah – Email Uswatun Hasanah

Pertanyaan:
Usia perkawinan kami terbilang sangat muda 1 tahun, dan kami pun telah dikaruniai seorang anak berusia 2 bulan.
Aku terkadang pulang telat karena kesibukan ku di kantor yang harus menyelesaikan pekerjaan. Aku pun mengabari kalau mau pulang terlambat, istriku pun mengijinkanku. Sesampai di rumah istriku marah dan terkadang sampai menendangku, hal itu terus berulang jika aku pulang telat.
Pada bulan mei tepatnya tanggal 4, kami pun diakarunia seorang anak perempuan, Aulia namanya. Aku sangat senang karena aku sekarang telah menjadi seorang Ayah, dan dengan senang nya aku pun memberitahukan bahwa anakku sudah lahir kepada orangtua ku.
Aku belum bisa membawa anakku kepada orangtua ku, karena usia yang terbilang muda. Ibu ku pun menjenguk cucu pertamanya ke rumah mertua ku, aku sangat senang melihat ibu ku tertawa bermain bersama anakku.
Hari demi hari pun berlalu Setelah kami punya anak. Kesabaranku pun terus di uji dengan menahan semuanya, aku tidak bisa berperan sebagai suami sebagaimana mestinya. Semua mengenai anakku, mertuaku yang urus. Memandikan, mencuci pakaian, menggendongnya, menidurkannya. Aku cuman bisa melihat tanpa bisa melakukan apa2.
Suatu ketika aku pun memaksakan istriku untuk tinggal bersama orangtuaku, dengan mengatakan bahwa aku suami untuk mu dan ayah buat anakku. Dimana aku tinggal, istriku harus ikut. Dengan kesal istriku pun menuruti apa kemauanku, tapi hal yang tidak diduga olehku.
Istriku marah besar di rumah orangtuaku, istriku pun marah, menamparku dan mencakarku. Tersentak aku kaget melihat perlakuan istriku, aku tampar dia dengan pelan sambil mengingatkan bahwa aku suamimu.
Malam pun berlarut, dia pun menjerit kesakitan akan kepala yang dia alami ketika masih kecil. Dia membangunkanku, tapi aku malah tertidur sampai aku pun tersadar bahwa istriku perlu pertolongan. Aku segera membawanya ke UGD, ini sakit yang sering dia alami ketika apa keinginan dia tidak terikuti.
Istriku pun tertidur setelah pulang dari UGD. Besoknya aku membangunkan dia untuk mengingatkan dia bekerja.
Sepulang aku kerja, dan sepulang istriku kerja. Aku menyapa istriku, tapi lyat raut wajahnya yang kesal entah mengapa. Kulihat HP istriku ada di sebelahku, dan kulihat serta kubaca tiap sms masuk di HP istriku. SMS yang gag jelas dari lelaki yang berbunyi, Hi Anty…(Nama istriku), Lagi ngapain…Udah nyampe rumah?.
Tidak lama dari situ, ada telp masuk dari pria yang tidak aku kenal. Aku angkat, dan berkata “Hallo…”. Sebelum dia menjawab, dia langsung mematikan menutup HP nya. Aku pun membaca sms terakhir dari kaka iparku, yang isinya…
De kamu makin kurus, kamu ntuh knapa? Coba banyak sholat trus ngaji, minta sama Allah. Jalanin apa yang menurut kamu yakin, dan tinggalin apa yang menurut kamu ragu. Itu isi dari sms kaka iparku.
Dengan coba menahan emosiku, aku menanyakan baik2. Kamu kenapa, pulang kerja langsung cemberut. Dan itu siap laki-laki yang telp kamu, tapi begitu aku angkat langsung di tutup. Dia menjawab gpp, itu hanya temen kerja.
Bun…kita ngontrak yuk, tanya ku kepada istriku. Dia menjawab, “kita udah gag bisa berlanjut Pih, bunda mau cerai”. Ku coba untuk menahan emosi dia, membuka pikiran dia tapi tetap akan keinginannya untuk memintaku cerai.
Pertengkaran ini pun terus berlanjut sampai sekarang, kucoba rayu istriku tapi tetap dengan pilihannya dia. dari awal nikah, istriku meminta cerai sudah yang ketiga kalinya, tapi dengan ada dukungan dari kakaknya dia semakin kuat untuk meminta cerai.
Pertanyaan ku:
Apa yang harus aku lakukan, doa, usaha yang terus aku lakukan dengan meminta pada mertuaku untuk menyadarkan istriku untuk tidak bercerai, tidak lupa aku sholat agar dikuatkan imanku, mengaji minta petunjuk akan hal yang tidak aku mengerti, sudah lima hari kita tidak bertemu karena keinginan dia untuk bercerai.
Seberapa besar kah peran seorang orangtua ataupun kakak, ketika anaknya sudah menikah? Atas cerita diatas, apa perilaku yang salah terhadapku? Aku benar2 sayang terhadap Istri dan Anakku. (B, 27, Pegawai Swasta)
Jawaban:
Saudara B yang baik dari cerita yang anda ungkapkan diatas terlihat tampak jelas bahwa peran anda keluarga kurang kuat. Dari awal perkawinan anda kurang tegas dalam menyikapi persoalan yang ada dalam rumah tangga anda, sehingga menimbulkan ketidakpuasan hati.
Sampai-sampai istri anda sanggup melakukan KDRT terhadap anda. Persoalan rumah tangga selalu terjadi akibat ketidakpuasan dan ketidakterbukaan dalam menyelesaikannya. Istri anda memiliki karakter yang keras dan gampang panik. Ketidakpuasan dan ketidakterbukaan yang dirasakanya dalam rumah tangganya mengakibatkan dia merasa ingin mencari teman untuk bicara yang dapat memberikan pencerahan bagi fikiranya.
Ketika dia mendapatkan teman yang menurutnya cocok, maka teman itu dapat menjadi malaikat baginya. Keinginan kuat untuk bercerai dengan anda mungkin akibat persoalan yang saya ungkapkan diatas.
Dalam rumah tangga, anggota keluarga yang paling inti adalah Suami, Istri, dan Anak. Yang lain merupakan anggota tambahan seperti orang tua, kakak. Peran orang tua dan kakak hanya bisa memberikan saran untuk persoalan anda, tapi segala keputusan ada pada anda dan istri.
Cobalah untuk mendekatinya kembali dan ajak dia berbicara dari hati kehati dan mintalah dia untuk mempertimbangkan kembali keputusannya karena akibat perceraian ini anak akan menjadi korban. Dalam posisi ini anda masih memiliki posisi yang kuat karena anda tidak berkeinginan untuk menceraikanya serta segala kewajiban nafkah lahir batin masih anda penuhi.
Jadi tidak mudah bagi pengadilan untuk mengabulkan permintaan istri. Mulai saat ini tunjukkan kepada istri kesungguhan anda untuk berubah lebih tegas dan memiliki peran yang kuat dalam keluarga. Jemput istri anda sekarang, ajak pulang untuk memperbaiki semuanya demi anak-anak, semoga berhasil.
| Tweet |





