RSS

Beranda » Konsultasi Psikologi » Hubungan Ayah dan Sudara Perempuan Ibu

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi

Konsultasi oleh Dani Tri Astuti, S. Psi. M.Psi, Psikolog Berpengalaman sebagai konselor dan tester di beberapa institusi pendidikan dan rumah sakit. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre “LOVE”, assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.

Tentang Dani Tri AstutiEmail Dani Tri Astuti

Pertanyaan:

Dear kakak-kakak psikolog. Tahun 2009 lalu ibu saya meninggal, kemudian ayah saya memutuskan untuk tak menikah lagi. Tapi belakangan beliau malah menjadikan alasan tersebut untuk menjalin hubungan jarak-jauh dengan saudara perempuan (dari ibu) saya.

Masalahnya, perempuan itu sudah berkeluarga. Saya sudah bicara berkali-kali. Tapi beliau selalu marah dan menjadikan alasan tak menikah sebagai tamengnya. Saya bingung harus bagaimana. Saya sama sekali enggak nyaman dengan situasi ini. Mohon bantuannya, ya Terimakasih (M.T, 19, Mahasiswa)

Jawaban

Dear Mutiara,

Fokus utama yang dialami oleh ayah adalah emptiness . Emptiness merupakan suatu reaksi dari perubahan yang sangat significant, sehingga menimbulkan perasaan kekosongan dalam dirinya (kesepian). Perubahan yang significant ini adalah ditinggal meninggal oleh ibu, dimana ibu merupakan seseorang yang dicintai ayah.

Kebiasaan ayah, menjalin hubungan jarak-jauh dengan saudara ibu, merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh ayah untuk mengisi kekosongan yang ada dalam dirinya. Artinya ayah merasa kesepian, sehingga ia butuh teman. Ayah membutuhkan quality time dengan orang yang membuatnya nyaman maka ia akan merasa hidupnya tidak hampa.

Jalan keluarnya adalah membuat kehidupan ayah menjadi lebih berkualitas, sehingga ayah mampu menjalankan aktivitas seperti semula (saat sebelum ibu meninggal). Sebelumnya ada beberapa hal yang perlu menjadi renungan anda, yaitu: “Rutinitas yang dilakukan ayah sehari-hari apa saja? Lalu sejauh ini bagaimana hubungan anda dengan ayah anda? Apakah anda dan ayah masih meluangkan waktu bersama, seberapa sering? Atau justru anda tenggelam dalam kesibukan anda sehingga melupakan bahwa ayah anda membutuhkan perhatian dari anak-anaknya”.

Saran kami adalah lakukan pendekatan dengan ayah anda dengan cara:

  1. Menghabiskan waktu bersama yang berkualitas, seperti membahas buku bersama, membahas film, atau saling membicarakan aktivitas yang telah dilakukan pada siang hari.
  2. Saat anda mengingatkan ayah akan kebiasaanya menelpon kerabat ibu, anda gunakan bahasa dan intonasi yang terjaga dan tepat, karena dengan kondisi ayah anda saat ini, membuatnya lebih sensitive.
  3. Bantu ayah anda menerima bahwa, ibu anda sudah meninggal dan buatlah kondisi ayah anda selalu nyaman.
  4. Kenalkan ayah dengan dunia baru, seperti mendalami hobi ayah yang selama ini menjadi kesenangan ayah.
  5. Berilah terus motivasi, dan minta lah pendapat ayah meskipun anda dapat mengatasi masalah tersebut sendiri, karena tujuannya adalah memelihara eksistensi dirinya sehingga ia tetap merasakan bahwa dirinya masih berarti.
  6. Anda juga dapat menjalin komunikasi dengan saudara ibu, sehingga anda dapat mengetahui dari saudara ibu, sesungguhnya apa saja yang sering di share oleh ayah dengannya. Dengan harapan anda dapat melihat permasalahan dari kaca mata ayah.

Mungkin berat pada awalnya untuk dijalankan, namun perlu diingat semakin lama usia pohon, maka semakin sulit untuk dibentuk, dibandingkan dengan usia pohon yang lebih muda. Maka dari itu anda lah yang perlu menyesuaikan dengan kondisi ayah, namun tetap anda harus terus memberikan pengertian kepada ayah anda.

Ketika seseorang yang berarti dalam hidupmu pergi, jangan terus bersedih. Karena kamu akan kehilangan dirimu dan lupa bahwa dirimu juga sangat berarti.







Dapatkan update terbaru via Twitter @psikologizone. Atau, gabung komunitas Psikologi Zone di Facebook.