RSS

Beranda » Opini » Gangguan Jiwa Penyakit Utama Dunia

Gangguan Jiwa Penyakit Utama Dunia

Ilustrasi

Satu dari empat orang di dunia akan terkena gangguan jiwa pada satu tahap dalam kehidupannya, demikian laporan organisasi kesehatan dunia WHO pada tahun 2001. Sekitar 450 juta orang kini telah menderita gangguan seperti itu, sehingga menempatkan penyakit jiwa sebagai penyakit utama duina.

Pengobatan memang dapat dilakukan, tetapi hampir dua pertiga dari penderita gangguan jiwa tidak pernah mencari bantuan profesional kesehatan yang dapat menanganinya. Hal ini terjadi karena cap buruk yang diberikan masyarakat terhadap gangguan jiwa.

Belum lagi deskriminasi dalam memperlakukan mereka, serta ketidakpedulian masyarakat dalam pencegahan gangguan jiwa.

Gangguan jiwa bukanlah kesalahan seseorang. Pada kenyataanya, jika ada kesalahan, maka hal ini biasanya lebih mengarah pada bagaimana cara kita merespon orang yang mengalami gangguan mentalnya.

Dengan tulisan ini, dapat diharapkan akan dapat menghapus cap buruk yang selama ini diberikan kepada penderita gangguan jiwa, sehingga akan memulai era baru kesehatan masyarakat dalam menangani kesehatan jiwa.

Sampai sekarang, lebih dari 40% negara di dunia tidak mempunyai undang-undang mengenai kesehatan jiwa di masyarakat dan 30% negara di dunia tidak mempunyai program mengenai kesehatan jiwa. Perhatian pemerintah mengenai kesehatan jiwa itu sendiri masih sangat rendah. Hanya sekitar 25% negara di dunia tidak mempunyai obat-obatan dasar untuk menangani schizofrenias, depresi, dan epilepsi.

Paradigma baru diperlukan dalam menangani penyandang gangguan jiwa. Seperti diketahui, semakin lama rumah sakit besar sudah tidak lagi menjadi pilihan utama bagi tempat untuk menangani penderita gangguan jiwa maupun keluarganya.

Alasannya, antara lain karena mereka menganggap tempat tersebut membuat mereka kehilangan kemampuan sosialnya, mengalami pembatasan yang berlebihan, mengalami pelanggaran hak asasi manusia, kehilangan kemerdekaan, bahkan mengurangi kesempatan pemulihan.

Sebaiknya negara-negara mulai membangun alternatif pengasuhan masyarakat dengan lebih terencana. Kekeliruan tindakan menghadapi persoalan ini akan merefleksikan  komitmen negara dan masyarakat dalam menangani masalah kesehatan jiwa.

Mungkin anda pernah menonton film nyata berjudul A Beautiful Mind, yakni sebuah cerita menarik tentang gangguan jiwa yang disebut dengan schizophrenia. Schizophrenia adalah nama umum untuk sekelompok reaksi psikotis, dicirikan dengan adanya pengunduran atau pengurungan diri, gangguan pada kehidupan emosional, afektif dan bergantung pada tipe dan adanya halusinasi, delusi, tingkah laku, negativistis dan kemunduran atau kerusakan progresif.

Sedangkan dalam cerita ini, tokoh utama bernama John Nash adalah seorang yang bisa dibilang jenius dari pola berpikir matematikanya. Hingga kemudian ia mengalami gangguan schizophrenia yang ditandai dengan gejala halusinasi dan tidak bisa membedakan antara kenyataan dan dunia fantasi yang ia ciptakan.

Dia seakan melihat, berinteraksi, dan menjalin persahabatan dengan seseorang yang sebenarnya tidak nyata atau tidak bisa dilihat oleh orang lain (halusinasi). Bahkan ia sempat masuk rumah sakit jiwa dan pernah mencoba untuk membunuh  isterinya atas perintah dunia fantasinya. Film ini dapat memberikan pandangan tentang gejala perilaku schizophrenia pada kita.

Sehingga seperti yang sudah dikatakan diatas. Dengan film ini, juga dapat diharapkan akan dapat menghapus cap buruk yang selama ini diberikan kepada penderita gangguan jiwa, sehingga akan memulai era baru kesehatan masyarakat dalam menangani kesehatan jiwa.

NB: Banyak para blogger yang kurang teliti dalam menanggapi film ini, kebanyakan dari mereka menganggap ini adalah film mengenai kepribadian ganda, yang sebenarnya adalah sebuah film yang menggambarkan perilaku gangguan jiwa yang disebut dengan Schizophrenia.

Jika memang anda belum melihatnya silahkan download film ini dengan mengklik disini. Film ini berbahasa inggris (mudah dipahami) dan berdurasi lebih dari 2 jam. Selamat menonton…







Dapatkan update terbaru via Twitter @psikologizone. Atau, gabung komunitas Psikologi Zone di Facebook.