Ilmu Psikologi | Artikel Psikologi OnlineBloom

Fenomena Kampung Pengemis

Published on Friday, December 25, 2009 by Muhammad Baitul Alim

fenomena kampung pengemisGencarnya pemberitaan media massa soal Kampung Pengemis memberikan pandangan tentang suatu masyarakat dimana sebagian besar penduduknya memiliki profesi sebagai seorang pengemis. Bahkan di Kampung Lio, Kecamatan Pancoran Mas, Depok Jawa Barat, hampir seluruh kepala keluarganya di desa ini, diduga terlibat dengan sindikat perdagangan anak untuk dijadikan sebagai anak jalanan dan sebagai profesi pengemis.

Dalam sebuah kampung yang dianggap sebagai kampung pengemis memiliki kriteria tersendiri dan berbeda-beda di setiap kampung pengemis di daerah lainnya. Kriteria setiap kampung ditentukan oleh mayoritas penduduk asal kampung tersebut, pengemis dari Kampung Kebanyakan dan Desa Sukawarna, Kecamatan Serang, rata-rata berasal dari kampung tersebut. Mereka berstatus janda dan istri yang ditinggal kerja suaminya keluar daerah. Pengemis asal Kampung Waru, Kecamatan Cipocok Jaya, didominasi lanjut usia (lansia) yang hidup sendiri dan tak diurus keluarganya. Sementara pengemis dari Kramatwatu dan Kasemen, lebih banyak pengemis musiman yang beroperasi setiap bulan Ramadhan.

Sedangkan di daerah Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.  Disebut sebagai kampungnya pengemis, dikarenakan banyak warga yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas, atau pengamen. Walaupun tidak semua warganya, karena juga ada penduduk yang karyawan, pegawai, atau pedagang. Namun, para pengemis atau pengumpul barang bekas di kedua kampung itu tidak tidur di emperan layaknya gelandangan. Mereka mengontrak kamar atau bahkan rumah meski berukuran sempit. Tidak jarang, kamar berukuran 1,5 meter x 2 meter dihuni dua sampai tiga orang.

Sedangkan dari pelacakan dan penelitian M. Ali Humaidy, pihaknya menemukan beberapa kesimpulan atas fenomena di Desa Pragaan Daja Sumenep. Misalnya mengenai soal kriteria pengemis. Pengemis dibagi menjadi 2 kriteria yaitu pengemis konvensional dan nonkonvensional.

Untuk pengemis konvensional, peneliti merujuk kepada mereka yang biasa mengemis secara door to door, berada di emperan toko dan sebagainya. Ciri mereka biasanya menggunakan baju compang camping dan jauh dari layak.

Sedangkan pengemis nonkonvensional lebih maju atau bisa dikatakan sebagai pengemis modern. Dianggap modern lantaran telah memanfaatkan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan. Misalnya, menggunakan nama-nama di alamat buku telepon. Mereka yang termasuk pengemis modern biasanya tidak berpakaian compang camping, tapi lebih necis. Dan, mereka tidak door to door. Tapi, dengan banyak mengirim proposal atau menemui langsung membawa surat permintaan dana.

Dilihat secara empiris di lapangan, para pengemis di daerah sumenep, kondisi ekonominya bisa dibilang mampu. Indikatornya, mereka memiliki rumah keramik, sepeda motor, bahkan ada yang memiliki parabola.

Dari beberapa studi lapangan itu, terdapat hubungkan teori kemiskinan, kemiskinan fisik dan psikologis. Warga Pragaan Daja Sumenep misalanya yang  mengemis lebih kepada miskin secara psikologis. Mereka miskin secara psikologis lantaran sebenarnya mampu, tapi menjadikan kegiatan mengemis sebagai mata pencaharian.

Kebanyakan pengemis menganggap kalau meminta-minta merupakan suatu perbuatan yang mulia dari pada mencuri. Mereka terus berada dalam pemahaman itu, padahal keliru. Jelas-jelas tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.

Selain aspek psikologis, adanya faktor ekological context yang menjadi penyebab lain dari masalah ini. Misalnya, dari segi regulasi ekonomi, di Desa Pragaan Daja Sumenep jauh dari aktifitas pasar. Juga dari segi geografis, warga setempat hidup di tempat tidak produktif.

Pemerintah juga perlu introspeksi diri. Karena pemerintah selama ini sudah mengajarkan masyarakatnya secara tidak langsung menjadi pengemis. Bantuan-bantuan dengan dalih mengangkat derajat orang miskin tanpa seleksi yang ketat, sama saja dengan meninabobokan dan mengajarkan masyarakat menjadi manja, malas, dan tanpa usaha. Beberapa kasus justru setelah memperoleh bantuan, uangnya dipakai untuk memancing ataupun kenikmatan kehidupan dunia lain. Bantuan yang dilakukan pemerintah tidaklah salah apabila sampai pada tahap tertentu dihentikan, serta kepada siapa bantuan itu diberikan haruslah tepat.

Random Posts

31 Responses
    • wah.. kali ini tulisannya berkonteks luas…!!! kren info-nya.. baru tau ane ada driteria2 pengemis kyak gitu…!! thx for sharing bos…!! ^^

      [Reply]

    • wah2,,biasanya mereka kaya2 tapi hobinya ngemis…

      [Reply]

    • Ternyata ada yah kampung pengemis
      dicolek$-colek$ aja sekalian

      [Reply]

    • perLu ada Wadah untuk Membimbing semua permasalahan ini !!

      [Reply]

    • Saran aku jangan di beri receh, agar gak ada lagi yang minta2 kayak gitu…

      Tp khusus di sini …receh selalu ada buat mu sob…..dgn syarat recehnya di kirim balik…wkwkwkwkw….

      Alias gak ikhlas dunk jadinya…hehehehehehe

      [Reply]

    • itulah orang2 yang kurang dengan spiritual, karena ketika minimnya spiritual maka mereka bisa melakukan dengan nafsu tapi bukan menggunakan akal…. pesen saya hiduplah dengan apa adanya dan perbanyak mendekatkan diri kita kepada tuhan yang maha kuasa karena itu adalah kunci kesuksesan.

      [Reply]

    • Ternyata banyak juga kampung pengemis di Indonesia, yang saya tahu selama ini hanya di Madura saja….
      Mengemis mungkin memang lebih baik daripada mencuri, tapi derajatnya yang berada di sekitar Nol baik dimata manusia maupun dihadapan Tuhan.

      [Reply]

    • Baru tahu kalau ada kampung pengemis. Ayong dong pemerintah, berdayakan mereka. Atau kita sebaiknya sebagai masyarakat jangan memberi sumbangan atau memberi uang pada pengemis. Mari kita salurkan bantuan atau ZIS ke tempat yang benar agar sasarannya tepat.

      [Reply]

    • Baru tahu kalau ada kampung pengemis. Ayong dong pemerintah, berdayakan mereka. Atau kita sebaiknya sebagai masyarakat jangan memberi sumbangan atau memberi uang pada pengemis. Mari kita salurkan bantuan atau ZIS (Zakat infaq Sedekah) ke tempat yang benar agar sasarannya tepat.

      [Reply]

    • PR nih buat pemerintah agar bisa mengentaskan kemiskinan

      [Reply]

    • artikelnya bagus-bagus sobat thaks ya selalu berkunjung ke blog saya

      [Reply]

    • Gepeng sudah jadi profesi di zaman ini di mana sulit mendapatkan lapangan pekerjaan mau usaha gak ada modal, mau kerja ndak punya ketrampilan. smestimya sih ada pembinaan keterampilan dari pemerintah. perda larangan ngasih duit buat gepeng di denda. kata ustadz yusuf mansyur itu adalah kesempatan kita untuk jadi ladang amal dan ibadah.

      [Reply]

    • daerah kampung pengemis juga nihh (medan satria bekasi) belah sonoan dikit sudah masuk kampung ane sob
      Ipin’s Cool

      [Reply]

    • klo menrut ane pengemis asli ato palsu mendingan kita kasih receh aja, toh kita dpt pahala dr keikhlasan kita memberikan apa yg mereka inginkan, yg paling penting yg aspal ini perlu disadarkan bahwa yg mereka lakukan tidak sesuai dgn etos kerja (kerjaan orang malas -_-) dan yg pling penting, ada tempat yg sesuai bagi para org yg benar2 kesulitan untuk mendapat pekerjaan nih..!!

      [Reply]

    • semakin ndak percaya ama yg nama na pengemis..
      kLo mw beramaL, mending jgn meLaLui pengemis aja deeehh..
      masi bnyk jLn yg Laen.. :)

      [Reply]

    • SAYA JUGA TERKADANG TERGANGGU KETIKA BERHENTI DI LAMPU MERAH KEMUDIAN BEGITU BANYAK PENGEMIS…YANG TIDAK LAZIM, TERKADANG ADA YANG BERPURA-PURA CACAT ATAU BERPENYAKIT DI BAGIAN ORGAN TUBUHNYA, DENGAN ASESORIS PERBAN YANG DIBUBUHI OBAT MERAH ATAU BETADIN SEOLAH BENAR-BENAR TERLUKA, AKAN TETAPI KALAU KITA PERHATIKAN BERBULAN-BULAN DIA BERPENAMPILAN SEPERTI ITU, RASANYA MENJADI JANGGAL SAJA….
      ADA PULA YANG MENYURUH ANAK BALITANYA UNTUK MENGAMEN ATAU MENGEMIS, SEMENTARA IBUNYA DUDUK-DUDUK SANTAI DI SALAH SATU SUDUT PEREMPATAN SAMBIL MENGAWASI ANAKNYA YANG BEROPERASI…
      KALAU SUDAH BEGITU SAYA SERING TIDAK IHKLAS UNTUK MEMBERIKAN RECEHAN KEPADA MEREKA, KARENA SEPERTINYA ADA EXPLOITASI ANAK DI SANA…
      MENURUT SAYA SEBAIKNYA AMAL UANG KITA, DISALURKAN DENGAN CARA YANG LEBIH ACCOUNTABLE DAN JELAS PERUNTUKANNYA, SEPERTI PANTI ASUHAN DAN TEMPAT-TEMPAT SOSIAL LAIN….
      PERLU ADA TINDAKAN PEMERINTAH UNTUK MENGATASI PERSOALAN SEPERTI ITU SECARA SERIUS, MASYARAKATPUN JUGA HARUS PUNYA KOMITMEN UNTUK PARTISIPASI MEMBERIKAN PENDIDIKAN KEPADA MEREKA DENGAN NASEHAT ATAU TEGURAN, TERUTAMA BAGI MEREKA YANG KEBETULAN TINGGAL DEKAT DENGAN MEREKA, SELAIN ITU TENTUNYA HARUS ADA INSENTIF EKONOMI BAGI MEREKA, DARI SOLIDARITAS WARGA LAIN YANG DIKELOLA OLEH KOMUNITAS, UNTUK MEMBIAYAI ATAU MEMBERIKAN MODAL USAHA BAGI MEREKA, ATAU MEMBANTU MENYEKOLAHKAN MEREKA….INTINYA KOMITMEN BERSAMA…

      [Reply]

    • SAYA JUGA TERKADANG TERGANGGU KETIKA BERHENTI DI LAMPU MERAH KEMUDIAN BEGITU BANYAK PENGEMIS…YANG TIDAK LAZIM, TERKADANG ADA YANG BERPURA-PURA CACAT ATAU BERPENYAKIT DI BAGIAN ORGAN TUBUHNYA, DENGAN ASESORIS PERBAN YANG DIBUBUHI OBAT MERAH ATAU BETADIN SEOLAH BENAR-BENAR TERLUKA, AKAN TETAPI KALAU KITA PERHATIKAN BERBULAN-BULAN DIA BERPENAMPILAN SEPERTI ITU, RASANYA MENJADI JANGGAL SAJA….
      ADA PULA YANG MENYURUH ANAK BALITANYA UNTUK MENGAMEN ATAU MENGEMIS, SEMENTARA IBUNYA DUDUK-DUDUK SANTAI DI SALAH SATU SUDUT PEREMPATAN SAMBIL MENGAWASI ANAKNYA YANG BEROPERASI…
      KALAU SUDAH BEGITU SAYA SERING TIDAK IHKLAS UNTUK MEMBERIKAN RECEHAN KEPADA MEREKA, KARENA SEPERTINYA ADA EXPLOITASI ANAK DI SANA…
      MENURUT SAYA SEBAIKNYA AMAL UANG KITA, DISALURKAN DENGAN CARA YANG LEBIH ACCOUNTABLE DAN JELAS PERUNTUKANNYA, SEPERTI PANTI ASUHAN DAN TEMPAT-TEMPAT SOSIAL LAIN….
      PERLU ADA TINDAKAN PEMERINTAH UNTUK MENGATASI PERSOALAN SEPERTI ITU SECARA SERIUS, MASYARAKATPUN JUGA HARUS PUNYA KOMITMEN UNTUK PARTISIPASI MEMBERIKAN PENDIDIKAN KEPADA MEREKA DENGAN NASEHAT ATAU TEGURAN, TERUTAMA BAGI MEREKA YANG KEBETULAN TINGGAL DEKAT DENGAN MEREKA, SELAIN ITU TENTUNYA HARUS ADA INSENTIF EKONOMI BAGI MEREKA, DARI SOLIDARITAS WARGA LAIN YANG DIKELOLA OLEH KOMUNITAS, UNTUK MEMBIAYAI ATAU MEMBERIKAN MODAL USAHA BAGI MEREKA, ATAU MEMBANTU MENYEKOLAHKAN MEREKA….INTINYA KOMITMEN BERSAMA…

      [Reply]

    • menyedihkan iaa..
      di balik indonesia yg sedang berkembang tetapi msh terdapat banyak pengemis apa lg ada kampung pengemis..

      [Reply]

    • untuk tu kita harus hati2 kl mau memberi pengemis, kl pengemisnya masih sehat n segar badannya saya ga mau kasih coz mereka bisa kerja lain seharusnya. perlu penanganan n bimbingan untuk mereka.

      [Reply]

    • belom ada updatean mas?

      [Reply]

    • Inilah Potret bangsa kita.
      Dimana tanahnya yang luas, sumber daya alam yang melimpah. Namun masyarakatnya sendiri seperti orang yang putus asa, mereka menjadi pengemis. Bahkan setiap tahunnya jumlah pengemis dinegara kita kian bertambah banyak.

      Apalagi sumber datangnya para pengemis sudah teroganisir dari kampung-kampung.
      Wah2… ini sih bisa sudah masuk kategori organisasi pengemis, apa iyah..? maybeee…

      Padahal dari segi fisik dan mental, rata-rata yang jadi pengemis cukup layak mencari pekerjaan yang lebih baik dari mengemis. Namun apa daya, mengemis ternyata pekerjaan yang lebih mudah, hanya dengan bermodalkan berani malu.

      [Reply]

    • Miris memang, tapi dimulai dari diri sendiri saya berusaha untuk tidak menjadi salah satu yang seperti itu, dan itu akan jauh lebih membantu.

      [Reply]

    • “salam kenal semua, meski terlambat saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2010″

      [Reply]

    • kerja sama aja yg penting halal sob………..

      [Reply]

    • jujur sob dari artikel2 bapak, saya yg agak tau cuma yg ini…hehehe

      [Reply]

    • artikelnya bagus banget pak..

      [Reply]

    • sungguh sangat disayangkan bila masih ada org yang masih menistakan diri menjadi pengemis..

      [Reply]

    • memang pengemis selalu ada dimana-mana, sulit dibedakan pengemis yg benar2 susah yang mana, pernah suatu hari saya melihat pengemis yang makannya ayam kentucky, wah lumayan juga tuch jadi pengemis yang akhirnya mereka pada menjadi malas, tapi kalo emang mau beri yach ihklas in aja, mungkin dapat gantinya nanti,trims artikelnya

      [Reply]

    • Fenomena yang ironis…. mungkin itu potret kecil dari Pemerintah Indonesia yang juga suka dengan (mengemis) bantuan hutang dari luar negeri. Good Posting bro…

      [Reply]

    • bukan bangsa pengemis,,,,???

      tanya kenapa,,,,???

      [Reply]

    • bukan bangsa pengemis,,,,???

      tanya kenapa,,,???

      [Reply]

Have Your Say
Your Name ↓
Your Email ↓
Your Website ↓
Tell us what you think of this story ↓
You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Advertisements
Berlangganan Artikel
Cek email untuk konfirmasi berlangganan artikel
Bergabung Bersama Kami
Chat Box