2:22 am - Jumat Mei 18, 2012
Home » Kolom » Arsip Lama » Fenomena Kampung Pengemis

Fenomena Kampung Pengemis

fenomena kampung pengemisGencarnya pemberitaan media massa soal Kampung Pengemis memberikan pandangan tentang suatu masyarakat dimana sebagian besar penduduknya memiliki profesi sebagai seorang pengemis. Bahkan di Kampung Lio, Kecamatan Pancoran Mas, Depok Jawa Barat, hampir seluruh kepala keluarganya di desa ini, diduga terlibat dengan sindikat perdagangan anak untuk dijadikan sebagai anak jalanan dan sebagai profesi pengemis.

Dalam sebuah kampung yang dianggap sebagai kampung pengemis memiliki kriteria tersendiri dan berbeda-beda di setiap kampung pengemis di daerah lainnya. Kriteria setiap kampung ditentukan oleh mayoritas penduduk asal kampung tersebut, pengemis dari Kampung Kebanyakan dan Desa Sukawarna, Kecamatan Serang, rata-rata berasal dari kampung tersebut. Mereka berstatus janda dan istri yang ditinggal kerja suaminya keluar daerah. Pengemis asal Kampung Waru, Kecamatan Cipocok Jaya, didominasi lanjut usia (lansia) yang hidup sendiri dan tak diurus keluarganya. Sementara pengemis dari Kramatwatu dan Kasemen, lebih banyak pengemis musiman yang beroperasi setiap bulan Ramadhan.

Sedangkan di daerah Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi.  Disebut sebagai kampungnya pengemis, dikarenakan banyak warga yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas, atau pengamen. Walaupun tidak semua warganya, karena juga ada penduduk yang karyawan, pegawai, atau pedagang. Namun, para pengemis atau pengumpul barang bekas di kedua kampung itu tidak tidur di emperan layaknya gelandangan. Mereka mengontrak kamar atau bahkan rumah meski berukuran sempit. Tidak jarang, kamar berukuran 1,5 meter x 2 meter dihuni dua sampai tiga orang.

Sedangkan dari pelacakan dan penelitian M. Ali Humaidy, pihaknya menemukan beberapa kesimpulan atas fenomena di Desa Pragaan Daja Sumenep. Misalnya mengenai soal kriteria pengemis. Pengemis dibagi menjadi 2 kriteria yaitu pengemis konvensional dan nonkonvensional.

Untuk pengemis konvensional, peneliti merujuk kepada mereka yang biasa mengemis secara door to door, berada di emperan toko dan sebagainya. Ciri mereka biasanya menggunakan baju compang camping dan jauh dari layak.

Sedangkan pengemis nonkonvensional lebih maju atau bisa dikatakan sebagai pengemis modern. Dianggap modern lantaran telah memanfaatkan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan. Misalnya, menggunakan nama-nama di alamat buku telepon. Mereka yang termasuk pengemis modern biasanya tidak berpakaian compang camping, tapi lebih necis. Dan, mereka tidak door to door. Tapi, dengan banyak mengirim proposal atau menemui langsung membawa surat permintaan dana.

Dilihat secara empiris di lapangan, para pengemis di daerah sumenep, kondisi ekonominya bisa dibilang mampu. Indikatornya, mereka memiliki rumah keramik, sepeda motor, bahkan ada yang memiliki parabola.

Dari beberapa studi lapangan itu, terdapat hubungkan teori kemiskinan, kemiskinan fisik dan psikologis. Warga Pragaan Daja Sumenep misalanya yang  mengemis lebih kepada miskin secara psikologis. Mereka miskin secara psikologis lantaran sebenarnya mampu, tapi menjadikan kegiatan mengemis sebagai mata pencaharian.

Kebanyakan pengemis menganggap kalau meminta-minta merupakan suatu perbuatan yang mulia dari pada mencuri. Mereka terus berada dalam pemahaman itu, padahal keliru. Jelas-jelas tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.

Selain aspek psikologis, adanya faktor ekological context yang menjadi penyebab lain dari masalah ini. Misalnya, dari segi regulasi ekonomi, di Desa Pragaan Daja Sumenep jauh dari aktifitas pasar. Juga dari segi geografis, warga setempat hidup di tempat tidak produktif.

Pemerintah juga perlu introspeksi diri. Karena pemerintah selama ini sudah mengajarkan masyarakatnya secara tidak langsung menjadi pengemis. Bantuan-bantuan dengan dalih mengangkat derajat orang miskin tanpa seleksi yang ketat, sama saja dengan meninabobokan dan mengajarkan masyarakat menjadi manja, malas, dan tanpa usaha. Beberapa kasus justru setelah memperoleh bantuan, uangnya dipakai untuk memancing ataupun kenikmatan kehidupan dunia lain. Bantuan yang dilakukan pemerintah tidaklah salah apabila sampai pada tahap tertentu dihentikan, serta kepada siapa bantuan itu diberikan haruslah tepat.

garis
garis
Discount School Supply - Extreme Bargains
Dapatkan update terbaru via Twitter @psikologizone. Atau, gabung komunitas Psikologi Zone di Facebook.


Tes Kepribadian Online