<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Psikologi Zone, hadir sebagai media berita psikologi. Fokus pada pemberitaan terkait kesehatan mental dan perilaku,  baik dari dalam maupun luar negeri.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 12:45:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Terapi Multifase, Penanganan Gangguan Bipolar</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/terapi-multifase-penanganan-gangguan-bipolar/065116701</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/terapi-multifase-penanganan-gangguan-bipolar/065116701#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 12:45:50 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Klinis]]></category>
		<category><![CDATA[bipolar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6701</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Gangguan bipolar adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang bisa terjadi... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/terapi-multifase-penanganan-gangguan-bipolar/065116701">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6240" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/depresi-trauma.jpg" alt="Penderita Bipolar Berisiko Bunuh Diri" title="Penderita Bipolar Berisiko Bunuh Diri" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6240" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Gangguan bipolar adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang bisa terjadi berulang kali dalam jangka waktu tertentu. Bentuk gejala bipolar bisa ditandai dengan gejala perubahan perasaan (mood).</p>
<p>Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr. AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K) dalam sebuah seminar beberapa waktu lalu. </p>
<p>Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa deteksi awal merupakan bentuk penanganan penting pada bentuk gangguan bipolar, berupa edukasi pada masyarakat, serangkaian tes dan survei. </p>
<p>&#8220;Ini sebagai proses awal. Proses selanjutnya dapat dilakukan melalui pemeriksaan lanjut dalam bentuk wawancara klinis dan diagnosis dini,&#8221; kata dia serta menambahkan kadang deteksi gangguan bipolar butuh waktu lama.</p>
<p>Setelah gangguan bipolar tersebut dideteksi, ia menambahkan, maka  penderita bisa mendapatkan terapi untuk mengontrol dampak yang diakibatkan oleh gangguan tersebut pada kualitas hidup.</p>
<p>Menurut Perwakilan Majelis Kehormatan Profesi PDSKJI Prof. Dr. Tuti Wahmurti A. Sapiie, SpKJ(K), penanganan pada bentuk gangguan bipolar dapat diatasi dengan melakukan terapi multifase secara berturut-turut. Diantaranya seperti terapi psikofamaka dan psikososial.</p>
<p>&#8220;Terapi harus bersifat menyeluruh, seperti obat, psikoterapi, serta dukungan keluarga dan masyarakat,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Ia mengatakan, bentuk terapi multifase merupakan cara yang efektif mencegah komplikasi karna gangguan bipolar. Berbagai dampak dari gangguan ini seperti gangguan pekerjaan, masalah relasi, narkoba, hingga bunuh diri.</p>
<p>Pada fase terakhir, ia menjelaskan, pada tahap selanjutnya penderita gangguan bipolar diharapkan mampu merespon bila terjadi perubahan mood. Kemampuan ini bisa dilatih saat terapi.</p>
<p>Ketekunan, ketabahan dan optimisme merupakan faktor lain yang ikut mendukung penyembuhan. Bukan hanya berlaku pada penderita, namun juga pihak keluarga dalam pendampingan. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/terapi-multifase-penanganan-gangguan-bipolar/065116701/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:53:42 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6697</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta. Psikologi Zone &#8211; Mendongeng sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan orang tua. Namun, masih... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6698" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/mendongeng.jpg" alt="Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng" title="Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6698" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta. Psikologi Zone</strong> &#8211; Mendongeng sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan orang tua. Namun, masih banyak orang tua yang justru merasa kesulitan saat mendongeng untuk anaknya. </p>
<p>Menurut Awam Prakoso, seorang pendongeng dari Kampung Dongeng, banyak dari mereka mengaku tidak bisa bercerita, padahal pada dasarnya semua orang mampu bercerita. </p>
<p>&#8220;Mendongeng itu mudah, ceritanya bisa diambil dari kejadian sehari-hari atau hal-hal yang menarik di sekitar kita. Yang penting orang tua harus pandai mengkreasikan cerita tersebut dan membuat cerita dongeng dengan hubungan sebab-akibat, sehingga lebih mudah dicerna oleh anak,&#8221; ujar Awam yang mampu menirukan suara-suara binatang.</p>
<p>Mendongeng memiliki banyak manfaat bagi orang tua dan anak, termasuk meningkatkan hubungan emosional di antara keduanya.</p>
<p>&#8220;Mendongeng sebagai kegiatan sehari-hari sangatlah penting untuk menciptakan manusia yang memiliki kecerdasan emosional dan intelektual,&#8221; kata psikolog anak Efnie Indrianie dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (17/5).</p>
<p>Menurut Efnie, cerita dalam sebuah dongeng hendaknya terkandung nilai moral yang akan menjadi panutan bagi anak hingga dewasa kelak. Bukan hanya itu, mendongeng juga perlu menampilkan kegiatan yang bisa menarik perhatian anak.</p>
<p>&#8220;Anak-anak usia balita masih mengandalkan indera pengecap sehingga untuk memulai satu kegiatan, termasuk mendongeng, dapat diawali dengan memberikan cemilan, misalnya es krim, yang dapat membuat mereka tertarik perhatiannya,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara itu, Senior Brand Manager Wall&#8217;s in Home, Nuning Wahyuningsih mengatakan, suasana kebersamaan saat bersama anak merupakan nilai yang sangat penting bagi perkembangan psikologis anak.</p>
<p>Wall&#8217;s Dreamy Creamy melalui produk terbarunya ikut mendorong kegiatan mendongeng dengan kampanye &#8220;Ibu adalah Pendongeng Terbaik untuk Anaknya&#8221;.</p>
<p>Nuning mengatakan, kegiatan tersebut didukung dengan sebuah survei yang dilakukan di Inggris pada 500 anak dengan usia 3-8 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa 2/3 anak ingin orang tua mereka meluangkan waktu untuk mendongeng sebelum tidur. Survei tersebut lebih menginginkan ibu dari pada ayah untuk bersama mendongeng. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prof Harre Analisis Mengapa Orang Menjadi Teroris</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/prof-harre-analisis-mengapa-orang-menjadi-teroris/065116691</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/prof-harre-analisis-mengapa-orang-menjadi-teroris/065116691#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 12:44:10 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6691</guid>
		<description><![CDATA[Amerika Serikat, Psikologi Zone &#8211; Berbagai aksi kejahatan dalam bentuk tindak kriminal sering kita jumpai,... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/prof-harre-analisis-mengapa-orang-menjadi-teroris/065116691">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6692" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/Profesor-Horace-Romano-Harr.jpg" alt="Prof Harre Analisis Mengapa Orang Menjadi Teroris" title="Prof Harre Analisis Mengapa Orang Menjadi Teroris" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6692" /><p class="wp-caption-text">Prof Horace Romano Harre (Fairfax NZ)</p></div><strong>Amerika Serikat, Psikologi Zone</strong> &#8211; Berbagai aksi kejahatan dalam bentuk tindak kriminal sering kita jumpai, termasuk aksi terorisme di berbagai negara. </p>
<p>Salah satu teroris yang paling banyak dibicarakan adalah Al Qaeda. Namun, bagaimana sebetulnya tindak terorisme bisa terjadi?</p>
<p>&#8220;Setiap aktivis Al Qaeda berbeda, namun mereka semua nampaknya memiliki pengalaman yang tidak bahagia. Saat usia mereka sekitar 17 atau 18 tahun, banyak masalah terjadi antara mereka dengan keluarga.&#8221; kata Profesor Profesor Horace Romano Harre, psikolog yang mengajar di Washington DC dan Oxford, Amerika Serikat, dikutip dari Fairfax New Zealand, (16/5).</p>
<p>Bukan hanya itu, masalah internal dalam keluarga diperkuat pihak luar yang ikut mempengaruhi bagaimana cara mereka berpikir.</p>
<p>&#8220;Kondisi keluarga yang tidak sesuai harapan, membuat mereka bertemu dengan seseorang yang mengajaknya masuk dalam kelompok kecil. Perkumpulan ini merupakan bagian dari proses untuk membentuk sikap terorisme.&#8221; lanjut Profesor Horace Romano Harre atau akrab dipanggil Rom Harre.</p>
<p>Ia bekerja dengan CIA untuk menganalisis otobiografi Al Qaeda untuk mengetahui mengapa seseorang bisa menjadi teroris. Namun, menurutnya, tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang akan menjadi teroris.</p>
<p>Beberapa tokoh dunia yang sangat misteri dan membuatnya penasaran adalah Pol Pot, Joseph Stalin, dan Adolf Hitler.</p>
<p>&#8220;Saya sangat tertarik, bagaimana mereka bisa melakukan hal keji itu? bagaimana rasanya menjadi Adolf Hitler, misalnya? Saat mereka tertidur, apa yang akan dilakukan besok? Saya mencoba membayangkan apa yang mereka pikirkan, Tidakkah anda merasa sesuatu hal mengerikan ada dalam diri mereka?&#8221; jelas Rom Harre.</p>
<p>Prof Harre, 84, telah menerima gelar doktor kehormatan dari Peru, Finlandia, Belgia dan Denmark, dan dianugerahi Lifetime Achievement Award pada 2009 oleh American Psychological Association.</p>
<p>Walaupun usianya sudah terlalu tua, namun ia tidak berniat pensiun dan tetap melajutkan analisisnya.</p>
<p>&#8220;Saya memutuskan tidak ingin pensiun dan saya sudah memeriksakan diri untuk melawan Alzheimer, semua orang tetap ingin saya bekerja, jadi saya akan bekerja,&#8221; katanya. (fnz/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/prof-harre-analisis-mengapa-orang-menjadi-teroris/065116691/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Layanan Kesehatan Mental di Cina Kurang</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/layanan-kesehatan-mental-di-cina-kurang/065116684</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/layanan-kesehatan-mental-di-cina-kurang/065116684#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 11:50:29 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Klinis]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6684</guid>
		<description><![CDATA[Cina, Psikologi Zone &#8211; Semakin meningkatnya masalah kesehatan mental yang terjadi di Masyarakat, tidak dibarengi... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/layanan-kesehatan-mental-di-cina-kurang/065116684">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4799" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/01/Peresmian-Jurnal-Psikologi-Berbahasa-Inggris-Pertama-di-Cina-366x236.png" alt="Peresmian Jurnal Psikologi Berbahasa Inggris Pertamadi Cina" title="Peresmian Jurnal Psikologi Berbahasa Inggris Pertamadi Cina" width="250" class="size-large wp-image-4799" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (Peresmian PsyCh Journal - cas)</p></div><strong>Cina, Psikologi Zone</strong> &#8211; Semakin meningkatnya masalah kesehatan mental yang terjadi di Masyarakat, tidak dibarengi dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadai.  Psikiater Yao Xueyang mengatakan, jumlah pasien yang masuk ke Pusat Kesehatan Mental Yichang sudah melebihi daya tampung.</p>
<p>&#8220;Kami memiliki lebih dari 30 dokter disini, dengan empat sampai lima yang bekerja di departemen rawat jalan. Mereka menerima rata-rata 100 pasien setiap hari,&#8221; katanya. Sambil menghela nafas ia menambahkan, &#8220;para pasien yang terus berdatangan membuat beban para dokter dan perawat sangat berat.&#8221;</p>
<p>Hanya ada sekitar 40 psikiater di seluruh Yichang, sebuah kota di tengah Provinsi Hubei dengan jumlah penduduk 4 juta. Itu berarti satu psikiater untuk setiap 100.000 orang.</p>
<p>Di negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, disana ada lebih dari 11 psikiatri yang melayani 100.000 orang.</p>
<p>&#8220;Karena risiko pekerjaan yang kadang berbahaya, upah yang rendah, dan stigma sosial yang luas, sangat sedikit orang yang memasuki bidang psikiatri ketika mereka lulus dari sekolah kedokteran,&#8221; kata Yichiang.</p>
<p>Cina mengalami kekurangan jumlah psikiater sejak lama, terutama pada daerah tengah dan barat. Angka dari Departemen Kesehatan menunjukkan, pada tahun 2010 hanya ada sekitar 20.000 psikiater untuk melayani penduduk negara dengan 1,3 milyar orang.</p>
<p>Statistik dari Pusat Nasional Cina untuk kesehatan mental mengatakan, pada 2009 sekitar 170 juta orang memiliki semacam penyakit jiwa, dan jumlah pasien dengan tingkat kronis melebihi 16 juta.</p>
<p>Menurut Departemen Kesehatan Cina, Persebaran staf kesehatan mental juga tidak merata. Kebanyakan mereka berada di kota besar bagian timur, dengan sekitar 29 persen di wilayah tengah dan kurang dari 23 persen di wilayah barat.</p>
<p>Selain itu, lebih dari 80 persen dari ahli kesehatan mental bekerja di rumah sakit jiwa dan kurang dari 20 persen yang bekerja di rumah sakit umum.</p>
<p>Menyadari kondisi yang kian mendesak, pemerintah Cina berusaha meningkatkan program dan kebijakan untuk memperbaiki kurangnya layanan kejiwaan. Di Shanghai, kesehatan mental telah diprioritaskan oleh departemen kesehatan untuk memulai babak baru reformasi kesehatan.</p>
<p>Sementara itu, para ahli dan lembaga kesehatan mental Cina juga mencari cara yang efektif dan inovatif untuk meningkatkan pelayanan melalui program bersama dengan pihak luar.</p>
<p>Disponsori oleh US National Institute of Health, program ini diprakarsai oleh departemen kesehatan global dan kedokteran sosial dari Harvard Medical School, Pusat Kesehatan Mental Shanghai dan Peking University Institute.</p>
<p>Dalam program ini, sebanyak 40 peneliti akan menerima pelatihan yang keras dari para profesional tiga lembaga tersebut. Selain itu, 80 psikiater klinis dari Cina akan dilatih di Beijing dan Shanghai. (cd/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/layanan-kesehatan-mental-di-cina-kurang/065116684/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masuk SD, Sekolah Syaratkan Punya Ijazah</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/masuk-sd-sekolah-syaratkan-punya-ijazah/065116677</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/masuk-sd-sekolah-syaratkan-punya-ijazah/065116677#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 12:35:32 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[paud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6677</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Sangat disayangkan ada sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang memberlakukan peraturan bahwa... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/masuk-sd-sekolah-syaratkan-punya-ijazah/065116677">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6678" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/siswa-sd.jpg" alt="Masuk SD, Sekolah Mensyaratkan Punya Ijazah" title="Masuk SD, Sekolah Mensyaratkan Punya Ijazah" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6678" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Sangat disayangkan ada sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang memberlakukan peraturan bahwa anak wajib memiliki ijazah TK atau preschool sebagai syarat pendaftaran masuk SD. Hal ini diungkapkan oleh Najelaa Shihab, praktisi pendidikan. </p>
<p>Ia mengatakan, pendidikan yang lebih cepat belum tentu bisa menjamin anak akan baik juga dalam perkembangannya. Misalnya, anak yang cepat bisa berjalan, tidak dijamin memiliki kekuatan fisik lebih baik dari pada anak yang saat itu masih merangkak.</p>
<p>&#8220;Salah. Kalau buat saya mengharuskan anak untuk TK dulu untuk masuk SD, itu nggak ada dasarnya sama sekali. Yang penting kita lihat setiap anak. Sebenarnya anak ini sudah siap atau belum?&#8221; jelas wanita lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia ini, di di Four Seasons Hotel, Kuningan, Jakarta, (10/5).</p>
<p>Menurut wanita yang akrab dipanggil Elaa ini, anak yang memiliki kemampuan membaca lebih cepat, tidak berarti ia akan menjadi pembaca yang lebih baik dari pada anak lain. Hal yang sama berlaku pada anak yang diharuskan memiliki ijazah untuk masuk SD, perkembangan mereka bisa berbeda-beda.  </p>
<p>Semua perlu dikembalikan lagi pada situasi dan kondisi anak. TK memang secara lembaga tidak wajib diikuti, namun stimulasi pada usia pra sekolah itu perlu.</p>
<p>&#8220;Jadi harus dibedakan, stimulasi itu nggak selalu dalam bentuk TK. Tiap anak wajib dapat rangsangan kognitif, sosial dan emosional tapi apakah itu lewat preschool, TK atau tempat lain tidak jadi masalah. Yang tidak diwajibkan adalah TK sebagai sebuah lembaga tapi stimulasi anak usia preschool di bawah lima tahun harus,&#8221; papar Elaa. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/masuk-sd-sekolah-syaratkan-punya-ijazah/065116677/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara Keluarga Korban Sukhoi, Media Perlu Selektif</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/wawancara-keluarga-korban-sukhoi-media-perlu-selektif/065116670</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/wawancara-keluarga-korban-sukhoi-media-perlu-selektif/065116670#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 08:54:03 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[himpsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6670</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Maraknya pemberitaan mengenai korban pesawat Sukhoi pada hari Rabu lalu membuat... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/wawancara-keluarga-korban-sukhoi-media-perlu-selektif/065116670">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6671" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/pesawat.jpg" alt="Wawancara Keluarga Korban Sukhoi, Media Perlu Selektif" title="Wawancara Keluarga Korban Sukhoi, Media Perlu Selektif" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6671" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Maraknya pemberitaan mengenai korban pesawat Sukhoi pada hari Rabu lalu membuat berbagai media gencar mengajukan pertanyaan pada pihak keluarga korban. Hendaknya para jurnalis bisa mengedepankan empati saat mengumpulkan bahan pemberitaan, misalnya tidak menanyakan perasaan yang bersangkutan.</p>
<p>&#8220;Kemarin ada yang nanya, bagaimana perasaan Anda, ya sedihlah itu nggak perlu ditanyakan,&#8221; kata Mira Rumeser, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), di RS Polri Sukamto Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (14/5).</p>
<p>Menurutnya, penggalian informasi yang dilakukan oleh rekan media sebaiknya lebih mengutamakan empati. Mereka harus bisa memposisikan diri sebagai anggota keluarga yang merasakan dampak dari musibah tersebut.</p>
<p>&#8220;Kira-kira bagaimana perasaanku, sebelum bertanya coba tanyakan kalau aku dalam posisi itu gimana,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Ia mengatakan, perlu sikap hati-hati karena kondisi pihak keluarga yang pasti dalam situasi yang sensitif dan rentan, mudah bersedih kembali dan tersinggung.</p>
<p>Psikolog yang ikut dalam posko Himpsi di RS Polri Sukamto Kramat Jati ini juga mengingatkan untuk lebih selektif lagi, misalnya menanyakan perihal yang sensitif seperti persoalan asuransi dari pihak Sukhoi.</p>
<p>&#8220;Ya jangan sekaranglah nanya-nya. Seolah-oleh untung dapat duit. Sementara bagi yang kehilangan itu nilainya nggak akan tergantikan,&#8221; katanya. (mi/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/wawancara-keluarga-korban-sukhoi-media-perlu-selektif/065116670/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sering Mengalami Halusinasi</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/sering-mengalami-halusinasi/065116665</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/sering-mengalami-halusinasi/065116665#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 02:18:24 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6665</guid>
		<description><![CDATA[Konsultasi oleh Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi, Psikolog berpengalaman dalam psychological testing di berbagai institusi pendidikan... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/sering-mengalami-halusinasi/065116665">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2084" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px"><img class="size-full wp-image-2084" title="Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi" src="http://images.psikologizone.com/2011/07/Israele-Euaggelioni-single.jpg" alt="Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi" width="140" height="175" /><p class="wp-caption-text">Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi</p></div>
<blockquote><p>Konsultasi oleh <strong>Israele Euaggelion, S.Psi. M.Psi</strong>, Psikolog berpengalaman dalam psychological testing di berbagai institusi pendidikan dan perusahaan Indonesia. Tergabung dalam lembaga Psychological Assesement.Centre “LOVE”, assessment centre di bidang klinis, pendidikan, serta industri dan organisasi.</p></blockquote>
<p><a href="http://www.psikologizone.com/konsultasi" target="_blank">Tentang Israele Euaggelion</a> &#8211; <a href="http://www.psikologizone.com/konsultasi" target="_blank">Email Israele Euaggelion</a></p>
<p><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-QI-3a9ItDfI/TfWr2x0VV-I/AAAAAAAAAKI/MPzl4s_WOXY/s800/line-konsultasi-pz.gif" alt="" /></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Saya sering mengalami halusinasi. Saya merasa orang-orang yang ada disekitar saya mengejek saya dan membicarakan saya, dimana pun saya berada dan bahkan orang-orang yang tidak saya kenal seolah membicarakan bahkan mengikuti ucapan yang saya pernah ucapkan, hal itu sangat mengganggu sehingga akhirnya membuat saya tidak ingin keluar dari kamar.</p>
<p>Sebenarnya hal ini pernah terjadi 2 tahun sebelumnya tapi kemudian hilang dan akhir-akhir ini muncul kembali dan sangat membebani saya. Dulunya saya sempat mengalami depresi karena ada masalah dengan teman, pacar, dan kuliah yang bersamaan dan saya mulai menjauhi teman-teman dan merasa kesepian, lalu saya mulai merasa kalau teman-teman saya membicarakan saya dan kemudian munculah halusinasi2 itu. Kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi masalah ini? mohon bantuannya. terimakasih (KL, 23, Mahasiswa)</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Dear KL,</p>
<p>Kesepian yang dirimu rasakan sebenarnya merupakan perasaan yang muncul akibat dari persepsi dan pikiran negatif serta ketakutan/kecemasan yang dirimu rasakan sendiri. Cobalah untuk belajar berpikir positif serta belajar untuk menerima kondisi serta situasi yang terjadi di sekitar dirimu. Sebagai seorang manusia, tentunya kita tidak bisa hidup dengan tanpa masalah dan menemukan orang-orang yang menyenangkan kita selalu. Ada kalanya kita akan menemui beberapa orang yang tidak sesuai dengan harapan kita. Mereka tentunya akan menimbulkan perasaan kurang nyaman bagi Karila. Perasaan tertekan dan tekanan/stress yang diakibatkan oleh ketidaknyamanan ini akan terakumulasi dan menjadi tekanan yang berat bagi dirimu. Tekanan ini akhirnya membuat dirimu menjadi sedemikian tertekan dan mengakibatkan dirimu untuk mulai berhalusinasi dan merasa curigaan terhadap sahabat-sahabatmu. Perasaan curiga dan halusinasi ini merupakan ketakutan yang dirimu munculkan sendiri. Kondisi ini akan semakin parah bila tidak diselesaikan dan ditanggulangi dengan baik.</p>
<p>Anda perlu memperbanyak dan memperluas pertemanan serta pergaulan di sekitar lingkungan kamu. Beranikan dirimu untuk mencari komunitas baru dan perluas komunitas, seperti di tempat ibadat atau di rumah. Dengan pergaulan yang luas dan banyak, maka hal ini akan membantu dirimu untuk mendapatkan kehidupan baru untuk lebih mampu mengembangkan diri dan menikmati hidupmu.   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/sering-mengalami-halusinasi/065116665/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Depresi Pria dan Wanita Atas Pekerjaan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/perbedaan-depresi-pria-dan-wanita-atas-pekerjaan/065116660</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/perbedaan-depresi-pria-dan-wanita-atas-pekerjaan/065116660#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 11:20:27 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Industri]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6660</guid>
		<description><![CDATA[Kanada, Psikologi Zone &#8211; Sebuah pekerjaan juga memiliki risiko, termasuk gangguan psikologis seperti depresi, baik... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/perbedaan-depresi-pria-dan-wanita-atas-pekerjaan/065116660">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6661" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/stres-kerja.jpg" alt="Perbedaan Depresi Pria dan Wanita Atas Pekerjaan " title="Perbedaan Depresi Pria dan Wanita Atas Pekerjaan " width="250" height="150" class="size-full wp-image-6661" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Kanada, Psikologi Zone</strong> &#8211; Sebuah pekerjaan juga memiliki risiko, termasuk gangguan psikologis seperti depresi, baik pria maupun wanita. Sebuah penelitian baru mengungkapkan ada perbedaan perlakuan yang berbeda dari wanita dan pria atas pekerjaannya.</p>
<p>Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Canada mengatakan, wanita akan merasakan bentuk gangguan depresi saat pekerjaan mereka tidak dihargai dibandingkan dengan pria.</p>
<p>Lain halnya dengan beban pekerjaan, tingginya beban kerja justru akan meningkatkan depresi bagi pria, namun tidak dengan wanita.</p>
<p>Sedangkan konflik dalam sebuah keluarga dan pekerjaan akan mempengaruhi risiko mengalami depresi bagi pria maupun wanita. Perbedaannya adalah pria mengalami depresi saat konflik keluarga masuk dalam dunia kerja mereka, sedangkan wanita akan mengalami depresi saat konflik pekerjaan masuk dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology ini mengukuhkan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa prestasi kerja berperan besar pada identitas pria dibanding wanita.</p>
<p>Walaupun kian banyak wanita memilih bekerja dan justru pria yang mengambil alih urusan rumah tangga. &#8220;Pria dan wanita melihat pekerjaan dan keluarga dengan cara berbeda,&#8221; ungkap Jianli Wang, peneliti dalam studi ini.</p>
<p>Peserta penelitian terdiri dari 2.700 orang yang pada 2007-2011 tercatat mengalami depresi. Para peneliti mengumpulkan data penelitian untuk mengetahui apa yang menyebabkan depresi, terkait dengan keluarga dan pekerjaan mereka.</p>
<p>Dalam kurun waktu selama satu tahun, 3,6 persen peserta diketahui mengalami diagnosis depresi. Depresi tercatat lebih tinggi dialami oleh wanita 4,5 dibandingkan dengan pria yang hanya 2,9 persen.</p>
<p>Wanita yang memiliki pekerjaan <em>full time</em>, berisiko tinggi terkena depresi. Berbeda dengan pria, walaupun mereka bekerja <em>full time</em>, risiko depresi hanya akan terjadi saat beban kerja yang tinggi terjadi.</p>
<p>Ketakutan akan kehilangan pekerjaan juga akan meningkatkan gangguan depresi bagi wanita maupun pria. Para peneliti menekankan bahwa gangguan depresi bisa mempengaruhi prestasi kerja. &#8220;Pengusaha harus memantau besarnya faktor seperti ketegangan dalam pekerjaan untuk mencegah hal negatif,&#8221; kata Wang yang juga profesor di departemen Psikiatri dan Komunitas Ilmu Kesehatan di University of Calgary di Alberta, Kanada. (fox/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/perbedaan-depresi-pria-dan-wanita-atas-pekerjaan/065116660/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Perdagangan Manusia Di Indonesia Terbesar Ke-2</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/kasus-perdagangan-manusia-di-indonesia-terbesar-ke-2/065116654</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/kasus-perdagangan-manusia-di-indonesia-terbesar-ke-2/065116654#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 08:10:24 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perdagangan manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6654</guid>
		<description><![CDATA[Yogyakarta, Psikologi Zone &#8211; Human trafficking atau perdagangan manusia di Indonesia dinilai sangat memprihatinkan. Kondisi... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/kasus-perdagangan-manusia-di-indonesia-terbesar-ke-2/065116654">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6655" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/perdagangan-manusia.jpg" alt="Kasus Perdagangan Manusia Di Indonesia Terbesar Ke-2" title="Kasus Perdagangan Manusia Di Indonesia Terbesar Ke-2" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6655" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Yogyakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; <em>Human trafficking</em> atau perdagangan manusia di Indonesia dinilai sangat memprihatinkan. Kondisi ini sangat besar terjadi di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Tindak kejahatan tersebut bisa dialami oleh tetangga, saudara atau bahkan anak-anak.</p>
<p>Perdagangan manusia yang terjadi masuk dalam kategori prostitusi yang ikut melibatkan anak-anak menjadi objek eksploitasi seksual.</p>
<p>Menurut PBB, Indonesia sendiri memasuki peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Indonesia dicap sebagai pengirim, penampung dan sekaligus memproduksi aksi kejahatan ini. Sebab maraknya kondisi ini lantaran himpitan ekonomi yang kian mendesak.</p>
<p>&#8220;Saya seringkali dihadapkan pada pekerja seks komersial (PSK) berusia 12-16 tahun, bahkan di usia segitu sudah ada yang sudah positif mengidap HIV dan menjadi mucikari bagi teman-temannya,&#8221; ungkap psikolog Riza Wahyuni, S.Psi., M.Si, Psi., saat Seminar bertemakan &#8220;Save Our Children from Violence&#8221; di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (14/5).</p>
<p>Ia mengatakan, para korban perdagangan manusia seperti PSK, tidak mengetahui bila ternyata merupakan korban kejahatan. Lantaran mendapatkan iming-iming uang, mereka rela menemani pria hidung belang yang kemudian berakhir pada penyakit seksual.</p>
<p>&#8220;Namun yang lebih penting adalah mengatasi kondisi korban pasca kekerasan dan eksploitasi seksual yaitu <em>support for survival</em> atau dukungan kepada korban agar tidak menyerah dan terus bertahan hidup. Hal ini karena biasanya setelah mengetahui kondisinya, para korban mengalami depresi, suka menyakiti diri sendiri dengan tidak makan, tidak tidur hingga bunuh diri,&#8221; tutur Riza.</p>
<p>Menurutnya, bukan hanya korban, kita juga perlu fokus pada keluarga yang berpotensi memberikan dampak langsung bagi korban, misalnya dikucilkan dan lain sebagainya.</p>
<p>&#8220;Apalagi masyarakat Indonesia paling mudah dipengaruhi oleh <em>labelling</em> (pelabelan atau pencitraan) yang sebenarnya dikategorikan sebagai korban,&#8221; kata salah satu fasilitator IOM-PBB untuk kekerasan perempuan dan anak di Indonesia ini.</p>
<p>Berdasarkan pengalamannya selama kurun waktu 9 tahun dalam penanganan korban kekerasan pada anak dan perempuan, ia mengatakan bahwa korban cenderung tertutup, bahkan berbohong saat memberikan laporan pada konselor.</p>
<p>Belum lagi masalah kehormatan, karena kasus eksploitasi seksual pada kalangan ekonomi atas, kasus ini cenderung ditutup rapat-rapat.</p>
<p>Mengatasi fenomena ini, Riza meminta semua pihak harus aktif mensosialisasikan melalui sekolah, kampus atau tempat tongkrongan para remaja. Lebih baik lagi bila sosialisasi juga ditumbuhkan sikap empati atau meminimalisir stigma negatif pada korban eksploitasi seksual.</p>
<p>&#8220;Saya bersama sejumlah teman-teman psikolog lainnya juga tengah mengupayakan sosialisasi melalui media yang dekat dengan generasi muda seperti komik atau poster,&#8221; tandas Riza. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/kasus-perdagangan-manusia-di-indonesia-terbesar-ke-2/065116654/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

