Ilmu Psikologi | Artikel Psikologi OnlineBloom

Duh, Anakku Suka Membantah

Published on Thursday, August 6, 2009 by Muhammad Baitul Alim

anak membantahTak selamanya anak bersikap manis dan penurut. Bahkan di saat-saat tertentu anak justru sering membantah. Jangan kaget menghadapinya. Dengan penanganan yang tepat, anak yang suka membantah bisa kok dijinakkan.

Dalam rentang usia 8 sampai 11 tahun, anak bisa tampil mengejutkan orangtua dengan tiba-tiba menjadi “doyan” membantah. Kapan waktu tepatnya, tentu tak ada patokan pasti. Usia 8 samapai 11 tahun perilaku membantah yang memusingkan kepala orangtua lebih sering ditemukan.

Pada masa ini, anak memang mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa remaja. Pada saat ini, anak sangat ingin menunjukkan identitas pribadi, sementara orientasi dirinya justru sedang bergeser. Dalam berbagai perbedaan kepentingan dan “rasa” anak pun memunculkan sikap membantah sebagai unjuk diri.

Membantah sebagai protes

Bila sikap membantah muncul pada rentang usia 8 sampai 9 tahun, jelas ini penyebabnya bisa jadi sikap orangtua yang terlalu melindungi atau over protective. Padahal di usia anak 8-9 tahun, anak tidak suka perlindungan yang berlebihan dan bahkan sedang memiliki rasa ingin tahu amat besar terhadap lingkungan. Bila terlalu dibatasi, tentu saja anak cenderung memberontak, menolak, yang kemudian diartikan orangtua sebagai sikap membantah.

Tapi sebaliknya, anak usia dibawah 8 tahun ini pun juga bisa membantah sebagai wujud protes. Misalnya, anak protes yang karena orangtuanya terlalu sibuk, hingga kurang memperhatikan dirinya. Padahal, bagi anak, perhatian dan kasih sayang orang tua merupakan faktor penting bagi keamanan dan kenyamanan hidupnya.

Karena itulah perhatian dan kasih sayang orangtua perlu diukur dalam porsi pas, agar tidak diterima anak terlalu besar dan membuat anak tertekan. Sebalikknya membiarkan anak tanpa aturan pun tidak baik. Ada juga orang tua yang mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan menuruti semua keinginan anak dan semua serba boleh. Yang seperti itu juga salah dampaknya nanti anak menjadi susah diatur.

Pola asuh tarik ulur

Kadang sikap membantah juga muncul sebagai suatu bentuk ungkapan perbedaan pendapat. Beda pendapatnya sendiri, tentu sah-sah saja. Karena kita semua memahami bahwa tak mungkin selamanya pendapat orangtua dan anak sering sejalan.

Namun, dibutuhkan sebuah dialog dan kompromi agar perbedaan pendapat ini bisa dijembatani dan tidak hancur hanya dalam kubangan saling membantah. Jembatan akan memudahkan orang tua dan memandang perbedaan untuk dicari jalan tengah, bukan sebagai jalan anak untuk membantah orangtua atau sebaliknya jalan orang tua yang marah pada anak.

Idealnya, pola asuh terbaik menerapkan system demokratis, dimana orang tua mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan cara tarik ulur kadang dibatasi namun suatu saat dilepas. Dengan pola asuh ini orang tua mau mendengarkan pendapat atau ide dari anak-anaknya, tapi tetap memberi batas.

Misalnya pada jam 6 malam anak mau menonton televisi. Orangtua tidak langsung melarang karena pasti akan terjadi perbedaan pendapat dan anak membantah, tetapi cobalah bernegoisasi, bahwa anak boleh menonton dengan syarat setelah jam 7 harus belajar. Bila melanggar, konsekuesi yang disepakati harus jelas. Misalnya, besok tidak boleh menonton lagi.

Penerapan dengan cara ini bisa meyakinkan anak bahwa orangtua memberikan kepercayaan  sekaligus memintanya menjaga tanggung jawab dan disiplin.

Bangun kepercayaan dan jadilah sahabat anak

Meski demikian masa peralihan dari anak menuju dewasa, memang merupakan masa kritis pada anak, sehingga orangtua perlu memahaminya pula. Bila dimasa sebelumnya belum terbangun kepercayaan yang kokoh, orientasi anak tentu akan lebih dominan tersedot pada teman sebayanya. Maka jurus jitu untuk menjadi sahabat anak dimasa peralihanya adalah dengan membangun komunikasi yang efektif, sejak sekarang.

Baca juga artikel pendukung lainya

23 Responses
    • kunjungan balik neh…..makasih ya udah mamapir ke blogku…..aku ijin ya ngambil artikelnya keren-keren…hehehehe…..

      [Reply]

    • kunjungan balik. lam kenal. artikelnya bermanfaat bgt tuh… trims

      [Reply]

    • emang gampang2 susah klo menghadapi anak yg suka membantah.
      solusi terbaiknya mgkn dlm bentuk negosiasi win-win solution yang paling tidak bersifat mendidik si anak. soalnya klo ditekan atau dikekang malah nanti si anak bisa bersikap mau menang sendiri di kemudian hari.

      [Reply]

    • kunjungan balik..
      wewwwwww… infonya keren…… sukses sll deh…

      [Reply]

    • Kunjungan siang nih.. wah banyak artikel yg menarik nih..

      [Reply]

    • Lain kali aku copy beberapa artikel, boleh kan, blognya siiip!

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      Boleh saja…asal terdapat sumbernya ya?

      [Reply]

    • Kalau aku punya anak ntar nich tau dech jadi apa tuh anak kalau berani membantah..Pokoknya ga banyak omong..perlindungan anak mau protes kek mau tuntut gw kek kagak perduli..Tuh anak udah mulai kurang ajar,berani membantah..!!! Sorry Emosi..

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      @ deogracias
      anak adalah buah hati kita. Anak adalah titipan tuhan yang diberikan pada kita. Sudah sepatutnya kita menjaga dan menyayanginya.

      [Reply]

    • makasih dh berkunjung sob, mau liat2 nee

      [Reply]

    • Info Menarik nih…Buat Belajar menhadapi Anak…walaupun Anak q Masih Kecil…

      [Reply]

    • artikel yg bagus nih, makasih.

      [Reply]

    • kapan2 aku copy yah…

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      @sda
      Sebelumnya kami mohon maaf…untuk selanjutnya artikel di psikologizone tidak boleh di copy walapun menyertakan alamat web kami. Mungkin dulu tidak apa-apa, sebagai starting poin untuk memberikan kita semangat bagi para blogger dalam memposting. Tetapi alangkah baiknya jika untuk seterusnya kita berusaha memberikan penyajian melalui karya sendiri bukan hanya copy dan paste. Kita masih bisa sharing dan berbagi informasi tentang semua hal. Terimakasih

      [Reply]

    • info yg menarik sob, biar pun blom punya anak boleh juga nich tuk nambah ilmu ^_^

      [Reply]

    • Saya pernah dengan Teori Elentika dari Dr. Zakiah Drajat……. Punya referensi lengkap tentang itu?…. Ma kasih

      [Reply]

    • wah harus dicegah ini betul..3x

      [Reply]

    • sebenernya aku tipe anak yang suka membantah juga sih,heheheh
      tapi sekarang udah ga lagi ko,alhamdullilah

      [Reply]

    • klo suatu saat nanti, ina dikarunia baby,… klo sampe membantah ina,… kira2 ina bisa gag yah??? menanggapinya tanpa emosi??? hihihihi….

      mudah2an bisa,… coz “anakku buah hatiku” hihihihihi….

      [Reply]

    • alhamdulillah terbantu banget ma info ini, jd inspirasi tuk mngatasi muridku yg suka membantah…thx.

      [Reply]

    • pola asuh demokratis menurut saya masih kurang tepat utk menghadapi anak yang suka membantah. Saya lebih setuju pola asuh situasional dengan cara menelusuri alasan mengapa anak membantah. Misalnya kalau mereka membantah karena ingin mengetes otoritas ortu saya akan terapkan pola asuh otoriter, tapi klu membantah karena perbedaan pendpt dalm suatu topik, pola asuh demokratis bs diterapkan.

      [Reply]

    • saya minta pendapat /penerangan kepada rekan /saudara2, tentang masalah saya : anak saya perempuan usia 11 tahun,…. ya alloh sudah setahun ini ngak bisa diatur,.. melawan ke sumua orang . mamahnya,guru, termasuk kesaya….. saya minta penerangn kepada semua yang pernah mengetahui pengalaman pada anak usia ini

      [Reply]

      Muhammad Baitul Alim Reply:

      Bpk Deni Fajar, coba dekati anak baik bapak sendiri, ibu ataupun keduanya, berikanlah waktu yang lebih untuk memberikan perhatian pada anak. Carilah sebab mengapa anak bersikap seperti ini, bisa juga anak menjadi melawan karena anak merasa orangtua kurang memperhatikan dia, memarahi dan membentak bukanlah cara yang baik dalam mengatasi anak. Sebaiknya gunakan pendekatan yang lebih nyaman dan penuh kehangatan agar anak tidak merasa di intimidasi oleh sikap orangtua.

      [Reply]

Have Your Say
Your Name ↓
Your Email ↓
Your Website ↓
Tell us what you think of this story ↓
You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Advertisements
Berlangganan Artikel
Cek email untuk konfirmasi berlangganan artikel
Bergabung Bersama Kami
Chat Box