<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; Remaja</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/category/psikologi-remaja/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Psikologi Zone, hadir sebagai media berita psikologi. Fokus pada pemberitaan terkait kesehatan mental dan perilaku,  baik dari dalam maupun luar negeri.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 12:45:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Wanita Lebih Beresiko Kecanduan Facebook</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/wanita-lebih-beresiko-kecanduan-facebook/065116610</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/wanita-lebih-beresiko-kecanduan-facebook/065116610#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 15:45:16 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6610</guid>
		<description><![CDATA[Amerika Serikat, Psikologi Zone &#8211; Hasil sebuah penelitian baru mengatakan bahwa wanita memiliki potensi lebih... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/wanita-lebih-beresiko-kecanduan-facebook/065116610">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6614" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/facebook.jpg" alt="Wanita Lebih Beresiko Kecanduan Facebook" title="Wanita Lebih Beresiko Kecanduan Facebook" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6614" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (facebook.com)</p></div><strong>Amerika Serikat, Psikologi Zone</strong> &#8211; Hasil sebuah penelitian baru mengatakan bahwa wanita memiliki potensi lebih besar dari pada pria mengalami kecanduan pada jejaring sosial. Studi tersebut dipublikan dalam Psychological Reports Journal. </p>
<p>Penelitian ini dilakukan oleh Cecilie Schou Andreassen, Torbjorn Torsheim, Geir Scott Brunborg, dan Stale Pallesen dari Department of Psychosocial Science University of Bergen, Norway.</p>
<p>Para psikolog yang tergabung dalam penelitian ini melibatkan 423 pelajar. Para peneliti akan mengamati tanda-tanda perilaku adaptif saat mereka menggunakan Facebook. Para peneliti menggunakan sebuah alat ukur yang disebut &#8220;Bergen Facebook Addiction Scale&#8221;. </p>
<p>Alat ukur tersebut dapat mengetahui bagaimana skor adiktif partisipan berdasarkan  tingkat penggunaan Facebook. Nilai skala diukur mulai dari skala satu hingga skala lima. Selain menggunakan alat ukur, para siswa juga diminta memberikan komentar terkait dengan dorongan perasaan mereka untuk menggunakan Facebook. Termasuk saat kegagalan mereka untuk mengakses facebook dan pembatasan pengunaan jejaring sosial tersebut.</p>
<p>Berdasarkan data yang telah dikumpulkan selama penelitian berlangsung, beberapa peserta menunjukkan tanda-tanda mengalami bentuk kecanduan Facebook. Bentuk adiktif tersebut sama dengan apa yang dialami seseorang yang mengalami kecanduan obat-obatan, alkohol, dan zat kimia lainnya. </p>
<p>Menurut para peneliti, siswa yang berusia lebih muda memiliki potensi lebih besar mengalami kecanduan jejaring sosial seperti Facebook dibandingkan dengan pelajar yang usianya lebih tua. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, wanita memiliki resiko lebih besar dibanding pria. </p>
<p>Para peneliti juga menambahkan, seseorang yang mengalami kecemasan atau ketidaknyamanan sosial lebih berpotensi  menjadi pengguna setia situs jejaring sosial seperti facebook. Kondisi semacam ini bisa terjadi lantaran mereka merasa diberikan kemudahan untuk menyalurkan perasaan menggunakan teknologi dibandingkan saat berkomunikasi langsung. (kmp/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/wanita-lebih-beresiko-kecanduan-facebook/065116610/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Tabu Bicara Seks? Hati-hati Bisa Bahaya</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/masih-tabu-bicara-seks-hati-hati-bisa-bahaya/065116497</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/masih-tabu-bicara-seks-hati-hati-bisa-bahaya/065116497#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 10:23:20 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6497</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Banyak orang yang masih menganggap tabu urusan seks, sebab membicarakan dianggap... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/masih-tabu-bicara-seks-hati-hati-bisa-bahaya/065116497">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6498" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/pendidikan-seks.jpg" alt="Masih Tabu Bicara Seks? Hati-hati Bisa Bahaya" title="Masih Tabu Bicara Seks? Hati-hati Bisa Bahaya" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6498" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Pendidikan Seks di Cina (apadehal.com)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Banyak orang yang masih menganggap tabu urusan seks, sebab membicarakan dianggap hanya untuk orang dewasa dan seks sangat pribadi. Padahal seks adalah kebutuhan dasar manusia seperti halnya makan dan minum.</p>
<p>Menganggap seks adalah hal yang tabu dengan alasan norma tertentu, bisa berbalik menjadi bumerang karena setiap penanganan masalah kesehatan reproduksi bisa terhambat dan tidak berjalan dengan baik.</p>
<p>“Orang yang menganggap seks itu tabu adalah bahaya laten. AIDS masuk ke Indonesia pada tahun 1998. Banyak orang yang tidak percaya penyakit tersebut bisa masuk ke sini karena Indonesia adalah negara religius. Akhirnya penanganan AIDS kurang optimal,” kata Zoya Amirin, M.Psi, psikolog seksual dalam sebuah acara live streaming bertema Blogger Bicara Seks oleh BlogDetik, Kamis (3/5).</p>
<p>Ia mengaku prihatin dengan pembubaran sejumlah lokalisasi yang beralasan agama. Bila lokalisasi tersebut dibubarkan, maka para PSK yang biasa menaungi sebuah lokasi justru akan menyebar ke berbagai tempat. Kondisi ini malah membuat kondisi kesehatan para PSK sulit diatur dan dipantau. </p>
<p>“Dengan tersebarnya para PSK. Malah lebih sulit memberi perawatan dan memantau masalah kesehatannya. Kalau dibubarkan penyakitnya bisa kemana-mana,” papar Zoya.</p>
<p>Berbeda dengan negara tetangga Singapura, Zoya juga memberikan contoh, disana para PSK mendapatkan id card dan didata dengan rapi. Hal ini dapat membuat pengawasan dan pantauan kondisi kesehatan lebih mudah. Bila mereka tidak mematuhi pemeriksaan kesehatan, izin operasi mereka bisa dicabut dan dilarang.</p>
<p>Bila seks dibicarakan dengan cara yang baik, masyarakat akan terbuka wawasannya, misalnya bagaimana seks yang aman dan sehat. Khusus bagi anak-anak dan remaja, mereka sudah seharusnya mendapatkan pengajaran sex education yang baik. Usia remaja adalah masa puber, mereka perlu diajarkan pentingnya kontrasepsi.</p>
<p>Mengajarkan pentingnya kontrasepsi bukan berarti menyetujui anak melakukan seks bebas, namun mengenalkan apa bahaya seks bebas, misalnya terjangkit penyakit seksual menular dan hamil di luar nikah.</p>
<p>“Saya pernah menyuruh mahasiswa saya yang rata-rata usianya 20 tahunan untuk membeli kondom. Setelah membeli kondom, saya tanya apakah dengan membeli kondom lantas mereka jadi ingin berhubungan seks? Ternyata tidak. Jadi bukan kondom yang menjadi masalahnya, tapi kesiapan mental,” ungkap Zoya. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/masih-tabu-bicara-seks-hati-hati-bisa-bahaya/065116497/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahagia dengan Bentuk Tubuh, Terhindar dari Depresi</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/bahagia-dengan-bentuk-tubuh-terhindar-dari-depresi/065116474</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/bahagia-dengan-bentuk-tubuh-terhindar-dari-depresi/065116474#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 07:01:50 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[anoreksia nervosa]]></category>
		<category><![CDATA[bentuk tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6474</guid>
		<description><![CDATA[Amerika Serikat, Psikologi Zone &#8211; Banyak kalangan remaja terutama perempuan, menganggap bentuk tubuh dan berat... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/bahagia-dengan-bentuk-tubuh-terhindar-dari-depresi/065116474">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6475" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/gadis-remaja.jpg" alt="Bahagia dengan Bentuk Tubuh, Terhindar dari Depresi" title="Bahagia dengan Bentuk Tubuh, Terhindar dari Depresi" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6475" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Amerika Serikat, Psikologi Zone</strong> &#8211; Banyak kalangan remaja terutama perempuan, menganggap bentuk tubuh dan berat badan adalah aspek penting bagi diri mereka. Bila berat badan naik atau bahkan terlalu kurus, tidak jarang remaja perempuan ini mengalami stres.</p>
<p>Hal ini semakin diperparah dengan fakta sebuah penelitian baru di Amerika Serikat mengatakan, gadis remaja yang cenderung merasa puas pada berat dan bentuk tubuh memiliki tingkat harga diri yang lebih tinggi.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan oleh Kerri Boutelle, seorang profesor psikiatri dan pediatri di University of California, San Diego, School of Medicine.</p>
<p>Ia mengatakan, penelitian ini mengambil 103 gadis remaja yang memiliki kelebihan berat badan dari data survei antara tahun 2004-2006.</p>
<p>Para remaja ini dinilai dari berbagai faktor seperti kepuasan diri pada tubuhnya, penghargaan diri, gejala kecemasan dan depresi, serta perilaku mengontrol berat badan.</p>
<p>&#8220;Kami menemukan bahwa gadis remaja yang sangat puas pada tubuhnya cenderung tidak melakukan kontrol perilaku untuk berat badan yang buruk seperti, berpuasa, mengurangi makan atau memuntahkan makanan,&#8221; kata Boutelle, Senin (30/4).</p>
<p>Boutelle menjelaskan, hubungan positif yang diperlihatkan dalam penelitian ini dapat membantu intervensi gadis remaja yang mengalami depresi dan kecemasan karena kelebihan berat badan. Meningkatkan kepuasan diri pada berat dan bentuk badan adalah salah satu kuncinya.</p>
<p>Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Adolescent Health tersebut juga menunjukkan, gadis remaja yang cenderung puas dengan bentuk tubuh, tidak mudah terkena depresi atau perilaku tidak sehat lainnya.</p>
<p>&#8220;Fokus penelitian ini terletak pada peningkatan citra diri (<em>self-image</em>) sekaligus memberikan motivasi dan kemampuan dalam mengontrol berat badan yang efektif, dimana dapat membentuk melindungi gadis remaja dari depresi, kecemasan atau kemarahan yang kerap kali berhubungan dengan kelebihan berat badan,&#8221; papar Boutelle. (upi/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/bahagia-dengan-bentuk-tubuh-terhindar-dari-depresi/065116474/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galau Bisa Menyebabkan Gangguan Kejiwaan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/galau-bisa-menyebabkan-gangguan-kejiwaan/065116389</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/galau-bisa-menyebabkan-gangguan-kejiwaan/065116389#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 11:45:53 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[bipolar]]></category>
		<category><![CDATA[Galau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6389</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikoloi Zone &#8211; Miris, galau sudah menjadi tren bagi kalangan remaja di Indonesia. Padahal... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/galau-bisa-menyebabkan-gangguan-kejiwaan/065116389">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6390" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/depresi-trauma.jpg" alt="Galau Bisa Menyebabkan Gangguan Kejiwaan" title="Galau Bisa Menyebabkan Gangguan Kejiwaan" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6390" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikoloi Zone</strong> &#8211; Miris, galau sudah menjadi tren bagi kalangan remaja di Indonesia. Padahal galau yang memiliki intensitas yang terlalu sering, bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan pada remaja. Gangguan tersebut dinamakan dengan bipolar, yaitu sebuah bentuk gangguan jiwa yang bersifat episodik atau berulang dalam jangka waktu tertentu. Gangguan ini biasa dimulai dari gejala perubahan mood (suana hati) dan bisa terjadi seumur hidup.</p>
<p>&#8220;Remaja yang dikenal sedang mengalami masa-masa galau, memang sangat mudah terserang depresi,&#8221; ungkap Dr A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K) Kepala Departemen Psikiatri RSCM.</p>
<p>Seseorang harus jeli melihat gejala bipolar sebagai bentuk penyesuaian diri atau sudah merupakan episode depresi.</p>
<p>&#8220;Kita harus lihat apakah itu hanya berupa penyesuaian diri pada keadaan atau kah sudah merupakan episode depresi,&#8221; kata Agung saat dalam seminar ‘Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?’ di Hotel JW Marriott Jakarta, Rabu (25/4).</p>
<p>Episode depresi biasa terjadi pada penderita bipolar, minimal setiap hari selama dua minggu.</p>
<p>&#8220;Hal ini dapat terlihat dari perilakunya, yang tidak mau bertemu dengan orang-orang, pesimistik, memikirkan sesuatu yang nihilistik, maka kemungkinan untuk dapat terpicu bipolar 30 persen,&#8221; papar Agung.</p>
<p>Perlu dibedakan antara depresi reaktif dan depresi pada gangguan bipolar. Tentu cara membedakannya dengan melakukan serangkaian tes tertentu. Hal ini diucapkan oleh dr.Handoko Daeng, SpKJ(K) Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), yang saat itu hadir dalam acara seminar.</p>
<p>&#8220;Jenis depresi yang berbeda, karena setiap orang pasti dapat merasakan sedih dan pesimis. Namun bila itu terjadi terus menerus atau disebut sebagai episode depresi, maka perlu dikhawatirkan,&#8221; jelas Daeng.</p>
<p>Beberapa masalah lain yang perlu diperhatikan adalah gangguan bipolar bisa mengakibatkan bunuh diri bagi penderitanya. Angka bunuh diri yang diakibatkan gangguan bipolar 20 kali lebih tinggi dibanding angka bunuh diri dalam populasi umum tanpa gangguan bipolar, yaitu 21,7 persen dibanding satu persen. </p>
<p>Ia mengatakan, bila dibandingkan dengan penderita skizofrenia, bipolar juga 2-3 kali berpotensi melakukan tindakan bunuh diri. Ada sekitar 10 hingga 20 persen penderita bipolar mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dan 30 persen lainnya pernah mencoba bunuh diri. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/galau-bisa-menyebabkan-gangguan-kejiwaan/065116389/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Geng Motor Picu Trauma Pengendara Malam Hari</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/aksi-geng-motor-picu-trauma-pengendara-malam-hari/065116384</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/aksi-geng-motor-picu-trauma-pengendara-malam-hari/065116384#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 11:38:01 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[geng motor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6384</guid>
		<description><![CDATA[Bandung, Psikologi Zone &#8211; Berbagai kasus dan perilaku kriminal geng motor membuat psikolog Universitas Padjadjaran,... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/aksi-geng-motor-picu-trauma-pengendara-malam-hari/065116384">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6385" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/geng-motor-2.gif" alt="Aksi Geng Motor Picu Trauma Pengendara Malam Hari" title="Aksi Geng Motor Picu Trauma Pengendara Malam Hari" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6385" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (inilah.com)</p></div><strong>Bandung, Psikologi Zone</strong> &#8211; Berbagai kasus dan perilaku kriminal geng motor membuat psikolog Universitas Padjadjaran, Zainal Abidin khawatir. Hal ini dapat membuat efek traumatis bagi banyak pengguna sepeda motor saat berkendara malam hari. Masyrakat yang ingin keluar pada malam hari harus berpikir ulang.</p>
<p>&#8220;Pasti akan berdampak karena dari tindakan yang dilakukan oleh konon dari TNI itu akan mempengaruhi kondisi di lapangan, terutama orang yang suka berkeliaran tengah malam,&#8221; ungkap Zainal, Senin (16/4).</p>
<p>Ia mengatakan, supaya efek traumatis ini bisa direda, aparat kepolisian seharusnya bisa menciptakan rasa aman bagi pengguna jalan, terutama mereka yang berkendara di malam hari.</p>
<p>&#8220;Para penegak hukum memiliki kewajiban menciptakan rasa aman. Berbeda kalau para pengendara merasa aman, rasa trauma itu tidak akan muncul dan ini harus dikondisikan oleh petugas. Baik tengah malam atau menjelang pagi,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Zainal sendiri tidak sepakat bila Jakarta disebut sebagai kota yang sudah tak aman lagi. Menurutnya, kondisi ketidakamanan muncul hanya saat malam hari, sebab kondisi tersebut berpotensi terjadi kekerasan, termasuk tindakan kriminal oleh geng motor.</p>
<p>&#8220;Kalau sampai di sana mungkin terlalu jauh. Kalau melihat konteks kekerasan yang dilakukan oleh geng motor itu kan lihat jadwalnya tengah malam menjelang pagi. Mungkin yang merasa bahwa ada rasa tidak aman di situ adalah anggota masyarakat yang sering beraktivitas di jam-jam itu. Berbeda kalau tindakan itu tidak kenal waktu, bisa menciptakan keresahan secara umum. Sehingga dampaknya terbatas,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Pada beberapa saat lalu ada sebuah konvoi dan melakukan penyerangan pada orang-orang yang berada di pinggir jalan secara acak. Diduga aksi ini dilakukan oleh 200 orang kelompok TNI dengan mengenakan pita kuning. Penyerangan tersebut ditengarai oleh aksi pembalasan karna salah satu rekan mereka ditusuk oleh anggota geng motor.</p>
<p>Pihak kepolisian sendiri belum mengungkap siapa pelaku penyerangan. Polisi mengatakan masih mendalami kasus ini. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/aksi-geng-motor-picu-trauma-pengendara-malam-hari/065116384/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikolog: Mengatasi Geng Motor Perlu Ketegasan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/psikolog-mengatasi-geng-motor-perlu-ketegasan/065116206</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/psikolog-mengatasi-geng-motor-perlu-ketegasan/065116206#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 10:25:26 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[geng motor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6206</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Berbagai macam tindakan kekerasan dan kriminalitas sudah semakin memprihatinkan dengan adanya... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/psikolog-mengatasi-geng-motor-perlu-ketegasan/065116206">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6207" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/geng-motor.gif" alt="Psikolog: Mengatasi Geng Motor Perlu Ketegasan" title="Psikolog: Mengatasi Geng Motor Perlu Ketegasan" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6207" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (flickr)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Berbagai macam tindakan kekerasan dan kriminalitas sudah semakin memprihatinkan dengan adanya geng motor. Kurangnya pengawasan dari pihak kepolisian membuat geng motor semakin brutal dan meresahkan masyarakat. Padahal peran kepolisian adalah sebagai pengayom keamanan.</p>
<p>Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia mengatakan, kepolisian tidak seharusnya melakukan pembiaran pada geng-geng motor. Polisi harus berani bertindak tegas dan represif pada kelompok yang sudah berkali-kali melakukan tindakan kriminal.</p>
<p>&#8220;Kalau yang bertindak kriminal harus tegas. Jangan kasih toleransi pada anggota geng motor yang bertindak kriminal,&#8221; tutur Muluk, di Jakarta, Senin (16/4).</p>
<p>Aksi dan tindakan geng motor akhir-akhir ini sudah membuat masyarakat resah. Sudah terjadi beberapa kasus keributan yang melibatkan sejumlah geng motor hingga menimbulkan korban jiwa.</p>
<p>Menurut Muluk, kondisi semacam ini berawal dari kegiatan anak remaja yang berkumpul satu sama lain. Lantaran tidak ada kegiatan, mereka mulai dengan adu balap motor liar di jalanan.</p>
<p>Aksi balap motor liar akhirnya berkembang pada tindakan kriminalitas seperti pemalakan dan perampokan skala kecil. Bila aksi semacam ini tidak ditanggapi serius maka akan beralih pada masalah yang lebih besar.&#8221;Ini soal pembiaran yang terus-menerus,&#8221; katanya.</p>
<p>Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi semacam ini adalah melakukan sikap represif dengan melakukan penyitaan motor yang digunakan. Motor bisa ditahan bila tertangkap saat balapan liar.</p>
<p>Ketegasan yang sama perlu diterapkan pada kasus tindakan kriminal melalui proses hukum.</p>
<p>Kedua, sikap preventif atau pencegahan, bisa dilakukan dengan cara melakukan identifikasi pada setiap geng motor yang ada.</p>
<p>Ketiga, perlu juga pihak terkait memfasilitasi penyaluran keinginan mereka dengan membuat sebuah perlombaan yang legal.</p>
<p>&#8220;Buatlah kompetisi-kompetisi balap pemula dan sebagainya,&#8221; katanya. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/psikolog-mengatasi-geng-motor-perlu-ketegasan/065116206/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angka Bunuh Diri Remaja Meningkat di Kanada</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/angka-bunuh-diri-remaja-meningkat-di-kanada/065116126</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/angka-bunuh-diri-remaja-meningkat-di-kanada/065116126#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 11:07:14 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6126</guid>
		<description><![CDATA[Kanada, Psikologi Zone &#8211; Jumlah rata-rata angka bunuh diri di Kanada meningkat dari usia anak... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/angka-bunuh-diri-remaja-meningkat-di-kanada/065116126">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_3266" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-medium wp-image-3266" title="Angka Bunuh Diri Remaja Meningkat di Kanada" src="http://images.psikologizone.com/2011/07/bunuh-diri-gantung-diri.gif" alt="Angka Bunuh Diri Remaja Meningkat di Kanada" width="250" height="132" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (tmpi)</p></div><strong>Kanada, Psikologi Zone</strong> &#8211; Jumlah rata-rata angka bunuh diri di Kanada meningkat dari usia anak hingga remaja. Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian baru yang telah dilakukan selama 30 tahun terakhir.</p>
<p>Penelitian ini dipublikasikan melalui Jurnal Kesehatan Kanada yang juga mencatat perubahan metode bunuh diri yang dipakai, mulai dari memakai senjata, racun hingga pencekikan.</p>
<p>&#8220;Kami berpesan bahwa semua kasus bunuh diri merupakan sebuah tragedi dan tren yang mengganggu,&#8221; kata Robin Skinner, seorang epidemiologi dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada di Ottawa, Selasa (10/4).</p>
<p>Tercatat pada tahun 1980, 0,6 per 100 ribu anak perempuan berusia 10 hingga 14 tahun melakukan bunuh diri, peningkatan terjadi pada tahun 2008 sebanyak 0,9 per 100 ribu anak perempuan. Peningkatan juga terjadi pada remaja perempuan berusia 15 hingga 19 tahun dari tahun 1980 sebanyak 3,7 per 100 ribu menjadi 6,2 per 100 ribu pada 2008.</p>
<p>Secara holistik, bunuh diri adalah penyebab utama kematian warga negara Kanada usia 10 hingga 19 tahun setelah kecelakaan.</p>
<p>Sebaliknya, penelitian tersebut mencatat tidak ada perubahan yang signifikan pada angka bunuh diri di kalangan anak laki-laki usia 10 hingga 14 tahun. Namun, ada penurunan yang cukup tajam pada anak laki-laki usia 15 hingga 19 tahun. Pada tahun 1980 tercatat 19 per 100 ribu melakukan bunuh diri dan 6,2 per 100 ribu pada 2008.</p>
<p>Studi ini tidak meneliti mengapa sejumlah kasus bunuh diri bisa meningkat di kalangan anak perempuan dalam 28 tahun terakhir, atau mengapa angka tersebut justru menurun pada anak laki-laki. Peneliti juga menunjukkan adanya kestabilan dalam metode bunuh diri, yaitu dengan cara mati lemas.</p>
<p>Banyak para pelaku bunuh diri memilih menggantungkan diri sebagai metode yang bersih, cepat dan tidak menyakitkan bagi mereka.</p>
<p>Laurence Kirmayer dari Departemen Psikiatri di Universitas McGill di Montreal ikut memberikan komentar, peningkatan angka rata-rata bunuh diri di kalangan anak perempuan bisa disebabkan oleh metode yang dipilih sangat mematikan.</p>
<p>&#8220;Anak perempuan lebih cenderung memakai racun dari pada senjata, walaupun metode gantung diri memiliki efek yang lebih mematikan, namun racun yang digunakan cenderung memiliki dosis pil yang subletal atau bahan lainnya,&#8221; ungkapnya. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/angka-bunuh-diri-remaja-meningkat-di-kanada/065116126/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>US: Banyak Remaja Putus Asa Punya Pacar Beda Ras</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/us-banyak-remaja-putus-asa-punya-pacar-beda-ras/065116053</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/us-banyak-remaja-putus-asa-punya-pacar-beda-ras/065116053#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 02:21:27 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[ras]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6053</guid>
		<description><![CDATA[Amerika Serikat, Psikologi Zone &#8211; Luke, seorang anak kelas tujuh ras kulit putih, yakin orang... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/us-banyak-remaja-putus-asa-punya-pacar-beda-ras/065116053">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6054" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/pasangan-beda-ras.gif" alt="US: Banyak Remaja Putus Asa Punya Pacar Beda Ras" title="US: Banyak Remaja Putus Asa Punya Pacar Beda Ras" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6054" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (northstarnews)</p></div><strong>Amerika Serikat, Psikologi Zone</strong> &#8211; Luke, seorang anak kelas tujuh ras kulit putih, yakin orang tuanya tidak akan mendukung bila ia berpacaran dengan seorang gadis ras Afrika-Amerika. &#8220;Saya berpikir orang tua saya tidak akan senang bila saya menikahi gadis kulit hitam,&#8221; katanya, menambahkan, &#8220;dan sebaliknya, belum tentu keluarga wanita itu juga menyetujui.&#8221;</p>
<p>Jimmy, siswa kelas tujuh ras Afrika-Amerika, menceritakan bahwa setelah ia memiliki pacar kulit putih, orang tuanya nampak menafsirkan sebagai penghinaan terhadap ras sendiri. &#8220;Mereka berkata, &#8216;Mengapa tidak dengan ras sendiri?&#8221;, ia menjawab, &#8220;itu karena aku hanya suka, tidak ada alasan tertentu.&#8221;</p>
<p>Kisah-kisah mereka menyorot adanya kesenjangan bukan antar ras, tetapi antara generasi. Kedua remaja tersebut ikut berpartisipasi dalam studi Anderson Cooper 360°. Ternyata banyak remaja yang melaporkan keputusasaan berpacaran antar-ras karena penolakan orang tua mereka, atau teman-teman mereka.</p>
<p>Peneliti dari studi AC360° adalah psikolog anak terkenal di Amerika Serikat, Dr Melanie Killen. Ia mengatakan, apa yang diucapkan oleh para orang tua anak kulit putih dan hitam merupakan bentuk kecemasan mengenai masa depan pernikahan antar-ras. Killen, yang juga bekerja sebagai konsultan berpendapat, pandangan orang tua dapat memiliki efek negatif pada persahabatan anak-anak mereka dan sikap rasial secara keseluruhan.</p>
<p>&#8220;Orang tua sering memberi tahu pada anak-anak mereka ketika kecil untuk berteman dengan semua orang, namun ketika anak telah remaja, mereka mulai takut saat anak mereka berteman dengan ras lain,&#8221; kata Killen.</p>
<p>Dia menambahkan bahwa ketakutan utama orangtua pada anak-anak mereka adalah pernikahan antar ras. Sementara pasangan antar-ras bisa menyebabkan sumber konflik bagi beberapa keluarga. Menurut laporan terbaru oleh Pew Research Center, pernikahan antar-ras meningkat di Amerika. Terdapat peningkatan 8,4% dari jumlah pernikahan antar-ras yang hanya 3,2% pada 1980 dan 2010.</p>
<p>Persepsi yang berbeda ditunjukkan oleh orangtua luke. Ayah Luke mengatakan, mungkin anaknya menangkap kesan yang berbeda atas percakapan kami dengan dia.</p>
<p>&#8220;Kita menyukai pacar mereka, namun bukan berarti kami tidak ingin mereka berpacaran dengan sesama ras. Kami tidak tahu apakah ia pernah berpikir tentang perbedaan budaya dan kami membicarakan dengan dirinya, tidak ada benar atau salah, baik atau buruk, hanya berbeda, &#8221; kata Gary, Ayah Luke.</p>
<p>Lain orang tua, lain pandangan. Chantay, ibu Christal mengatakan ia mendukung akan-anaknya berpacaran antar ras, namun ia takut ada persepsi merendahkan diantara sesama ras.</p>
<p>&#8220;Saya membayangkan, bila anak saya membawa pulang gadis kulit putih, apa yang dikatakan oleh saudara perempuannya? Apakah kita tidak cukup baik untuk saudara hitam kita? Apa yang salah dengan kita? Apakah ia suka rambut lurus halus? Aaya dapat meluruskan juga,&#8221; kata Chistal. (cnn/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/us-banyak-remaja-putus-asa-punya-pacar-beda-ras/065116053/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenakalan Remaja, Masa Merepotkan Bagi Orang Tua</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/kenakalan-remaja-masa-merepotkan-bagi-orang-tua/065115878</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/kenakalan-remaja-masa-merepotkan-bagi-orang-tua/065115878#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 08:12:18 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[kenakalan remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=5878</guid>
		<description><![CDATA[Salatiga, Psikologi Zone &#8211; Usia remaja adalah usia yang mencangkup kematangan mental, emosional, sosial dan... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/kenakalan-remaja-masa-merepotkan-bagi-orang-tua/065115878">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4039" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/01/Penyebab-Remaja-Merokok.gif" alt="Kenakalan Remaja, Masa Merepotkan Bagi Orang Tua" title="Kenakalan Remaja, Masa Merepotkan Bagi Orang Tua" width="250" height="197" class="size-full wp-image-4039" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (umm)</p></div><strong>Salatiga, Psikologi Zone</strong> &#8211; Usia remaja adalah usia yang mencangkup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pada masa ini, beberapa faktor tersebut bisa saling berbenturan. orang tua dibuat kerepotan menghadapi masa-masa pubertas remaja. Padahal rumah merupakan basis dari bimbingan orang tua dalam membangun <span class="domtooltips">kepribadian<span class="domtooltips_tooltip" style="display: none">Suatu pola tertentu yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. -Redaksi</span></span> remaja.</p>
<p>&#8220;Banyak orang tua mengatakan usia yang paling menghebohkan, merepotkan, dan menjengkelkan bagi anak mereka adalah usia remaja. Alasan itu dengan mendasarkan munculnya sikap pemberontakan, sulit diatur, egois, dan sebagainya,&#8221; ungkap guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) SMP Negeri 1 Salatiga, Sri Warsinah SPd, (10/3).</p>
<p>Anak yang biasanya suka membantu orang tua, betah di rumah, penurut, berubah menjadi pemalas, jarang di rumah, keras kepala, suka membantah dan lain-lain.</p>
<p>Menurut Sri Warsinah, kenakalan remaja dapat diredam melalui salah satu cara, misalnya memberikan perhatian ekstra pada mereka. </p>
<p>&#8220;Orang tua tidak perlu terlalu cemas sepanjang punya perhatian yang cukup kepada mereka yang menginjak masa remaja. Berikan perhatian dalam hal apapun,&#8221; kata Sri.</p>
<p>Pengawasan bukan dilakukan dengan cara mengekang dan melarang anak tanpa alasan. Orang tua tidak perlu melarang anak selama apa yang mereka lakukan masih wajar. Maksudnya tidak membahayakan dan merugikan dirinya dan orang lain, norma masyarakat, hukum dan agama.</p>
<p>&#8220;Tunjukkan akibat atau resikonya bila mereka melakukan sesuatu, dan itu salah satu cara untuk mengingatkan mereka,&#8221; lanjut beliau.</p>
<p>Sri menambahkan, orang tua perlu mengawasi pergaulan anak, terutama bila berteman dengan usia yang lebih tua 2-3 tahun. Perbedaan usia bisa mempengaruhi bagaimana remaja menerapkan gaya hidup yang mungkin belum waktunya mereka jalani.</p>
<p>Orang tua sebaiknya juga membuka mata akan perkembangan teknologi informasi seperti internet, televisi, telepon genggam dan sebagainya. (sm/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/kenakalan-remaja-masa-merepotkan-bagi-orang-tua/065115878/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

