<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/category/psikologi-keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Psikologi Zone, hadir sebagai media berita psikologi. Fokus pada pemberitaan terkait kesehatan mental dan perilaku,  baik dari dalam maupun luar negeri.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 12:45:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Angka Pernikahan Dini di Kabupaten Banjar Tergolong Tinggi</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/angka-pernikahan-dini-di-kabupaten-banjar-tergolong-tinggi/065116602</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/angka-pernikahan-dini-di-kabupaten-banjar-tergolong-tinggi/065116602#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 06:40:15 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6602</guid>
		<description><![CDATA[Martapura, Psikologi Zone — Sorotan berbagai pihak kini ditujukan pada Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/angka-pernikahan-dini-di-kabupaten-banjar-tergolong-tinggi/065116602">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6603" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/pernikahan.jpg" alt="Jumlah Pernikahan Dini di Kabupaten Banjar Tergolong Tinggi " title="Jumlah Pernikahan Dini di Kabupaten Banjar Tergolong Tinggi " width="250" height="150" class="size-full wp-image-6603" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Martapura, Psikologi Zone</strong> — Sorotan berbagai pihak kini ditujukan pada Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Tercatat, angka pernikahan dini di kabupaten tersebut cenderung tinggi.</p>
<p>&#8220;Tingginya angka pernikahan dini itu membuat Kabupaten Banjar mendapat sorotan di antara kabupaten dan kota lain di Kalsel,&#8221; ungkap Muhammad, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Banjar, Kamis (11/5).</p>
<p>Walaupun ia tidak menyebutkan angka yang tercatat, menurutnya pernikahan dini di Kabupaten Banjar dipengaruhi oleh beberapa faktor.</p>
<p>Ia mengatakan, beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena ini adalah faktor sosial dan budaya masyarakat, ekonomi, pendidikan, geografis atau psikologis keluarga.</p>
<p>&#8220;Faktor lain yang cukup mempengaruhi adalah sifat masyarakat Banjar yang tergolong agamis dan mayoritas menganut mazhab Imam Syafi&#8217;i, banyak dari mereka berlatar pendidikan klasik atau mendalami kitab kuning,&#8221; paparnya.</p>
<p>Menurutnya, paham yang dipegang oleh masyarakat membuat mereka akhirnya berprinsip, lebih baik mencegah kerusakan dari pada terlanjur mengalami kejadian yang tidak diinginkan.</p>
<p>Ia menjelaskan, cara yang dapat dilakukan untuk menekan angka pernikahan dini adalah dengan melakukan sosialisasi. Pihaknya telah melakukan sosialiasi tentang pernikahan dini di aula Kantor Badan Kependudukan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Banjar,  Martapura, Rabu kemarin.</p>
<p>Acara ini dihadiri juga oleh perwakilan Dinas Sosial, Bagian Kesra, BPS, Departemen Agama Kabupaten Banjar, Bappeda, dan pasangan calon mempelai. Tujuannya agar mereka memiliki kesadaran atas persiapan dalam pernikahan.</p>
<p>&#8220;Sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran calon mempelai untuk lebih dulu mematangkan usia, fisik, dan mental sebelum memutuskan untuk melangsungkan perkawinan,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemerinrah telah merumuskan usia ideal yang bisa menjadi patokan bagi pasangan calon mempelai untuk siap menjalin hubungan rumah tangga.</p>
<p>&#8220;Usia ideal  berumah tangga sesuai ketentuan BKKBN adalah perempuan mencapai usia 19 tahun dan laki-laki 25 tahun karena usia itu dinilai sudah matang, baik secara fisik maupun emosional,&#8221; ujar Aminullah, Kasubbid Analisis Dampak Sosial Ekonomi BKKBN Pusat. (kmp/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/angka-pernikahan-dini-di-kabupaten-banjar-tergolong-tinggi/065116602/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modal Cinta Saja Tidak Cukup Untuk Menikah</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/modal-cinta-saja-tidak-cukup-untuk-menikah/065116547</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/modal-cinta-saja-tidak-cukup-untuk-menikah/065116547#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 12:26:50 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6547</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Merencanakan pernikahan adalah hal yang mulia, namun cukupkah hanya bermodalkan cinta?... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/modal-cinta-saja-tidak-cukup-untuk-menikah/065116547">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6548" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/menikah.jpg" alt="Modal Cinta Saja Tidak Cukup Untuk Menikah" title="Modal Cinta Saja Tidak Cukup Untuk Menikah" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6548" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Merencanakan pernikahan adalah hal yang mulia, namun cukupkah hanya bermodalkan cinta? Menurut psikolog Ratih Ibrahim, membina hubungan pernikahan tidak cukup bila hanya bermodal cinta.</p>
<p>Ia mengatakan, anggapan yang mengatakan bahwa cinta sudah cukup untuk menjalin hubungan rumah tangga bisa menjadi sangat menjerumuskan. Bila pasangan tahu bahwa hubungan mereka hanya bermodal cinta, seharusnya jangan dilanjutkan terlalu dalam.</p>
<p>Ratih menganjurkan aspek pertama yang harus dipertimbangkan saat akan menikah adalah akal sehat. Emosi cinta perlu diselaraskan dengan rasional akal sehat. </p>
<p>&#8220;Ih gila ya nggak berperasaan, bukan begitu. Tapi akal sehat harus dipakai benar-benar. Apalagi perkawinan. Perkawinan itu akal sehat juga harus jalan, bukan pakai makan perasaan saja,&#8221; jelasnya di kantor Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (7/5/2012).</p>
<p>Mengapa perasaan bukan dijadikan satu-satunya modal dalam pernikahan? Menurut Ratih, perasaan bisa hanya bertahan sementara dan yang menyelamatkan pernikahan justru akal sehat.</p>
<p>&#8220;Kalau akal sehat nggak dipakai terus cuma rasa aja, terus rasanya memudar, mau ngapain coba,&#8221; ujar Direktur Personal Growth.</p>
<p>Aspek lain selain akal sehat saat mempertimbangkan akan menikah adalah kestabilan. Aspek ini bisa meliputi banyak hal. Pertama bisa kestabilan dalam hal pangan, sandang, dan papan, bukan hanya cinta. </p>
<p>&#8220;Cinta kan cukup untuk kita saling memiliki itu cuma ada di lagu aja. Kalau nggak makan, nggak akan sehat, otak juga nggak jalan, juga nggak berfungsi,&#8221; tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.</p>
<p>Ia melihat banyak pernikahan yang justru berakhir dengan ketidakstabilan sandang, pangan dan papan. &#8220;Bubaran lantaran ternyata laper itu nggak enak,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurutnya, pasangan juga tidak boleh melupakan kalau menjalin pernikahan nanti akan dikaruniai anak. Mendampingi setiap perkembangan anak pasti tidak hanya cukup bermodalkan cinta.</p>
<p>&#8220;Memang anak-anak itu bisa dikasih makan atau hidup karena bapak ibunya saling cinta? Bapak ibunya harus punya akal sehat, supaya tahu bagaimana bertanggungjawab untuk memberikan kehidupan yang pantas buat anaknya,&#8221; paparnya. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/modal-cinta-saja-tidak-cukup-untuk-menikah/065116547/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banyak Kekerasan, Cita-cita Kartini Belum Terwujud</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/banyak-kekerasan-cita-cita-kartini-belum-terwujud/065116259</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/banyak-kekerasan-cita-cita-kartini-belum-terwujud/065116259#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 02:37:55 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kdrt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6259</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan baik fisik, psikis, ekonomi dan... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/banyak-kekerasan-cita-cita-kartini-belum-terwujud/065116259">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6260" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/kartini.jpg" alt="Banyak Kekerasan, Cita-cita Kartini Belum Terwujud" title="Banyak Kekerasan, Cita-cita Kartini Belum Terwujud" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6260" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (edited/mba)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan baik fisik, psikis, ekonomi dan kekerasan seksual, membuat harapan besar Kartini dalam pemberdayaan dan kemandirian perempuan sulit tercapai.</p>
<p>&#8220;Semangat utama Kartini, sebagaimana yang terdapat dalam tulisan-tulisannya adalah semangat menegakkan hak-hak utama perempuan, seperti  hak atas pendidikan, kemandirian ekonomi, hak untuk tidak disakiti dan sikap protesnya terhadap budaya atau adat-istiadat yang mendiskriminasi perempuan&#8221;, papar Neng Dara Affiah, Komisioner Komnas Perempuan untuk Pendidikan dan Partisipasi Masyarakat, Jumat (20/4).</p>
<p>Menurutnya, pokok yang harus diperingati saat Hari Kartini adalah merefleksikan dan mengevaluasi apakah cita-cita Kartini telah terwujud atau masih belum.</p>
<p>Kenyataannya, budaya atau adat istiadat yang dulu dikecam oleh kartini masih saja terus ada. Salah satunya adalah jumlah perempuan usia 15 tahun penyandang buta huruf masih lebih banyak dibanding laki-laki. Menurut data Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan tahun 2010 mencatat, ada sebanyak 5,3 juta perempuan penyandang buta huruf, sedangkan laki-laki dengan 2,9 juta orang.</p>
<p>Fakta lain yang juga menjadi tolak ukur kurang terwujudnya cita-cita Kartini adalah jumlah perempuan usia dibawah umur yang ikut dipoligami. Hukum perkawinan masih bias <span class="domtooltips">gender<span class="domtooltips_tooltip" style="display: none">Dimensi sosial dari seks. Istilah ini merujuk pada bagaimana seharusnya laki-laki atau perempuan berperan dalam kehidupan sehari-sehari. -Redaksi</span></span>, dan jumlah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bagi perempuan juga masih tinggi.</p>
<p>Menurut data Komnas Perempuan tahun 2012 menunjukkan, KDRT adalah kekerasan yang paling tinggi yang dialami perempuan di Indonesia, sudah tercatat sebanyak 113.878 kasus. Sedangkan kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat adalah 5.187 kasus dan sisanya dilakukan oleh negara dengan 42 kasus.</p>
<p>Neng Dara menyesalkan bahwa Indonesia memang memiliki instrumen hukum untuk melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan melalui undang-undang, namun penerapannya masih minim.</p>
<p>&#8220;Instrumen hukum ada, tetapi akses pengetahuan masyarakat terhadap Undang-undang atau peraturan tersebut masih sangat terbatas,&#8221; ungkapnya. (kmp/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/banyak-kekerasan-cita-cita-kartini-belum-terwujud/065116259/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikahi Wanita Lebih Tua Masih Dianggap Tidak Lazim</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/menikahi-wanita-lebih-tua-masih-dianggap-tidak-lazim/065116057</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/menikahi-wanita-lebih-tua-masih-dianggap-tidak-lazim/065116057#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 11:45:50 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6057</guid>
		<description><![CDATA[Bandung, Psikologi Zone &#8211; Pernikahan merupakan sebuah tali ikatan antara pria dan wanita, tentu menjadi... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/menikahi-wanita-lebih-tua-masih-dianggap-tidak-lazim/065116057">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2626" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/06/cinta.gif" alt="Menikahi Wanita Lebih Tua Masih Dianggap Tidak Lazim" width="250" class="size-medium wp-image-2626" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (myselfanand)</p></div><strong>Bandung, Psikologi Zone</strong> &#8211; Pernikahan merupakan sebuah tali ikatan antara pria dan wanita, tentu menjadi keinginan semua pasangan untuk sampai pelaminan. Realitas pernikahan menjadi lebih rumit bila sudah menyinggung soal status, usia dan agama di kalangan masyarakat. Tidak heran banyak tudingan yang ditujukan pada mereka yang dianggap tabu atas pernikahan mereka.</p>
<p>Beberapa waktu lalu masyarakat banyak memperbincangkan pernikahan artis antara Ki Daus dan Dewi, dimana Ki Daus sudah berusia di atas 50 tahun dan istrinya kini menginjak 22 tahun. Pernikahan ini sudah berjalan selama satu tahun dan dikaruniai seorang putri berusia 2 bulan.</p>
<p>Nah, bagaimana bila mempelai wanita justru lebih tua dibandingkan dengan pria? Seiring perkembangan dan perubahan tren, pernikahan antara wanita yang lebih tua dibanding pria marak terjadi. Saat ini, usia bukan patokan seseorang untuk dewasa, pria muda tidak malu lagi menikahi wanita yang dari segi usia lebih tua.</p>
<p>Walaupun demikian, pernikahan seperti ini masih saja menimbulkan pro dan kontra di antara masyarakat. Bahkan ada beberapa yang menganggap hal ini adalah sebuah ketidaklaziman.</p>
<p>“Lazimnya di negara Indonesia, memiliki pasangan yang umurnya lebih tua memang pantas pada pria, namun jika wanitanya yang lebih tua atau janda, maka hal itu akan menjadi pergunjingan masyarakat banyak karena dianggap tidak lazim,” jelas Fredrick Dermawan Purba, dosen muda di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, Senin (02/4).</p>
<p>Ia menambahkan, bagi sebagian pria, memiliki pasangan yang lebih dewasa adalah sebuah kenyamanan. Ada sifat mengayomi yang ditunjukkan seorang wanita. Sifat ini bisa menjadi faktor ketertarikan bagi seorang pria dan mengajaknya menuju pelaminan.</p>
<p>“Pada dasarnya, ada sosok mengayomi dalam jiwa wanita, mungkin itu yang menyebabkan pria menyukai wanita yang lebih tua,” tutupnya. (okz/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/menikahi-wanita-lebih-tua-masih-dianggap-tidak-lazim/065116057/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batas Normal dan Anggapan Miring Pernikahan Terpaut Usia</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/batas-normal-dan-anggapan-miring-pernikahan-terpaut-usia/065115789</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/batas-normal-dan-anggapan-miring-pernikahan-terpaut-usia/065115789#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 10:05:06 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=5789</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Pernikahan merupakan sebuah jalinan kasih yang menjadi idaman bagi setiap pasangan.... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/batas-normal-dan-anggapan-miring-pernikahan-terpaut-usia/065115789">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_5791" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/03/pernikahan-ki-daus.gif" alt="Batas Normal dan Anggapan Miring Pernikahan Terpaut Usia" title="Batas Normal dan Anggapan Miring Pernikahan Terpaut Usia" width="250" height="150" class="size-full wp-image-5791" /><p class="wp-caption-text">Pernikahan Ki Daus 2011 (google)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Pernikahan merupakan sebuah jalinan kasih yang menjadi idaman bagi setiap pasangan. Realitas pernikahan semakin kompleks bila sudah menyinggung soal status, usia dan agama. Tidak heran tudingan masyarakat ikut meramaikan fenomena ini.</p>
<p>Hal serupa terjadi pada pernikahan artis antara Ki Daus dan Dewi, di mana rentang usia terpaut 33 tahun. Dewi saat ini masih berusia 22 tahun sedangkan Ki Daus menginjak usia di atas 50 tahun. Pasangan ini menikah pada 20 Januari 2011 lalu dan telah dikaruniai satu orang putri bernama Zahra Cantika Kumaira yang berusia 2 bulan.</p>
<p>Usia pria dan wanita yang terpaut jauh dalam sebuah pernikahan akan selalu menimbulkan pertanyaan, bahkan anggapan miring dari lingkungan. Apa yang sebenarnya diincar oleh mempelai wanita? </p>
<p>&#8220;Memang banyak yang bilang seperti itu. Saya ya cuek saja. Aki juga bilang cuek ajah. Jangan sampai ada yang bilang saya mau nikah sama Aki karena saya matre,&#8221; ungkap Dewi, istri Ki Daus, Senin (19/3).</p>
<p>Munculnya berbagai anggapan miring yang ditujukan pada pasangan terpaut usia, diamini oleh Psikolog dan Dosen Muda Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Fredrick Dermawan Purba. Menurutnya masyarakat akan merasakan kejanggalan bila usia pasangan terpaut jauh dari batas normal. Tudingan-tudingan miring akan bermunculan dari sana.</p>
<p>“Idealnya menjalin hubungan sebaiknya beda usia lima sampai tujuh tahun atau secara batas normal beda usia 10 tahun masih wajar,” kata Fredrick, Senin (19/3).</p>
<p>Umumnya pernikahan dilakukan dimana usia pria lebih dewasa dibandingkan wanita. Wanita biasanya membutuhkan figur pembimbing dan pelindung sehingga usia pria lebih pantas di atas wanita. Pernikahan ini diyakini merupakan pilihan terbaik bagi wanita. </p>
<p>Menanggapi pernikahan yang terpaut jauh atau lebih dari 10 tahun, Fredrick mengatakan bahwa masyarakat dengan sendirinya akan mengerti bila pasangan mampu menunjukkan pernikahan mereka bukan hal yang aneh.</p>
<p>“Saya yakin seseorang yang memutuskan untuk menikah sudah memiliki pertimbangan khusus atas apa yang akan mereka hadapi dan mereka pun sudah tahu cara mengatasinya. Jika mereka memang benar dapat memerlihatkan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja, tidak perlu takut dengan omongan masyarakat,” tutupnya. (vn/okz/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/batas-normal-dan-anggapan-miring-pernikahan-terpaut-usia/065115789/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Siri Merugikan Perempuan dan Anak Keturunan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/nikah-siri-merugikan-perempuan-dan-anak-keturunan/065115768</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/nikah-siri-merugikan-perempuan-dan-anak-keturunan/065115768#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 03:17:02 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah Siri]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=5768</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya, Psikologi Zone &#8211; Pernikahan siri masih menjadi perhatian khusus yang mengandung pro dan kontra.... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/nikah-siri-merugikan-perempuan-dan-anak-keturunan/065115768">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_5769" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/03/nikah.gif" alt="Nikah Siri Merugikan Perempuan dan Anak Keturunan" title="Nikah Siri Merugikan Perempuan dan Anak Keturunan" width="250" height="150" class="size-full wp-image-5769" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (google)</p></div><strong>Surabaya, Psikologi Zone</strong> &#8211; Pernikahan siri masih menjadi perhatian khusus yang mengandung pro dan kontra. Benarkah pernikahan siri menguntungkan? </p>
<p>Perbedaan nikah siri dengan nikah pada umumnya adalah tidak dicatatnya surat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Dalam konteks agama Islam, pencatatan di KUA bukanlah syarat sah sebuah pernikahan. Masyarakat biasa menyebut pernikahan siri sebagai pernikahan &#8220;di bawah tangan&#8221;. </p>
<p>Berbagai alasan dikemukakan untuk menjadikan pernikahan siri sebagai jalan alternatif dalam menjalin hubungan berumahtangga. Pernikahan siri dianggap relatif mudah dan menguntungkan bagi mereka.</p>
<p>Wilayah pedesaan kerap kali menjadi tempat yang paling mudah melakukan nikah siri. Pertimbangan kondisi ekonomi dan kemiskinan menjadi alasan perempuan mau melakukan nikah siri. Hal ini diungkapkan oleh Konselor Yayasan Islamic Center for Democracy and Human Right Empowerment (ICDGRE) Pasuruan, Aprilia Mega Rosdiana yang aktif mendampingi perempuan pedesaan.</p>
<p>&#8220;Para perempuan miskin di pedesaan biasanya sering diiming-imingi materi untuk mau menjalani nikah siri,&#8221; ungkap Aprilia Mega Rosdiana, Sabtu (10/3).</p>
<p>Namun, kenyataan dan harapan bisa berbeda. Keuntungan yang mulanya menjadi harapan kini berubah menjadi malapetaka.</p>
<p>&#8220;Pernikahan siri yang terjadi di wilayah Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan lebih banyak merugikan kaum perempuan sekaligus menelantarkan anak keturunannya,&#8221; ungkap Aprilia Mega Rosdiana.</p>
<p>Pernyataan tersebut diamini oleh Fredick Dermawan Purba, Psikolog dan Dosen muda Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. </p>
<p>“Biasanya lebih banyak ruginya dibandingkan keuntungannya. Kenapa? Karena dari segi legalitas ke depannya wanita yang akan repot,” ungkap Fredick, Senin (19/3).</p>
<p>Pernikahan siri yang tidak memiliki catatan hukum menjadi lemah posisinya dihadapan hukum. Bila suami melarikan diri, istri dan anak tidak mempunyai kekuatan hukum untuk menuntut hak-haknya.</p>
<p>“Mungkin secara agama memang menguntungkan, namun secara negara nikah siri belum menguntungkan,” katanya. (okz/ant/mba) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/nikah-siri-merugikan-perempuan-dan-anak-keturunan/065115768/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beban Psikologis Keluarga Karna Kenaikan Harga BBM</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/beban-psikologis-keluarga-karna-kenaikan-harga-bbm/065115600</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/beban-psikologis-keluarga-karna-kenaikan-harga-bbm/065115600#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 12:33:39 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Harga BBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=5600</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan hanya berdampak secara ekonomi, namun... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/beban-psikologis-keluarga-karna-kenaikan-harga-bbm/065115600">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_5602" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/03/Beban-Psikologis-Keluarga-Karna-Kenaikan-Harga-BBM.gif" alt="Beban Psikologis Keluarga Karna Kenaikan Harga BBM" title="Beban Psikologis Keluarga Karna Kenaikan Harga BBM" width="250" height="150" class="size-full wp-image-5602" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Demo (sumut pos)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan hanya berdampak secara ekonomi, namun juga secara psikologis bagi keluarga. Psikolog A Kasandra Putranto menilai hal ini menjadi beban psikologis bagi keluarga, dimana tekanan yang dirasakan semakin tinggi sedangkan pendapatan tidak bertambah.</p>
<p>Kenaikan BBM pasti akan membuat resah banyak orang. Kemampuan mengatur pengeluaran dan pemasukan keluarga menjadi penting. Kesalahan dalam mengelola akan membuat semua rencana menjadi berantakan, bahkan dapat memicu konflik bersama pasangan.</p>
<p>“Harga kebutuhan sehari-hari akan naik, namun pendapatan kita tidak naik. Itulah yang berat dihadapi dalam sebuah keluarga,” katanya, Selasa (13/3).</p>
<p>Kondisi semacam ini sangat berat secara psikologis bagi masyarakat. Biaya kebutuhan yang semakin naik tidak dibarengi dengan pendapatan yang masih tetap. Kasandra mengatakan agar setiap orang mampu untuk menyiasati kondisi semacam ini. Mencari penghasilan tambahan mungkin bisa menjadi salah satu alternatif menambah pemasukan.</p>
<p>“Misalnya saja, pasangan dapat mencari penghasilan tambahan yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Memang diperlukan usaha di luar kerjaan sehari-hari, namun dengan begitu semuanya dapat diantisipasi secara bersamaan,” tuturnya.</p>
<p>Walaupun banyak penolakan dan demo yang terjadi belakangan ini. Kenaikan BBM sendiri akan disahkan bila DPR menyetujui rencana pemerintah untuk menaikkan harga Rp 1.500 pada 1 April mendatang.  </p>
<p>Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengaku yakin bila DPR akan menyetujui rencana pemerintah ini. Hatta, yang juga Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN), mengatakan, proses persetujuan di DPR akan berjalan lancar. (dtk/kmp/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/beban-psikologis-keluarga-karna-kenaikan-harga-bbm/065115600/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Perceraian Lebih Mendominasi di Pontianak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/masalah-perceraian-lebih-mendominasi-di-pontianak/065113342</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/masalah-perceraian-lebih-mendominasi-di-pontianak/065113342#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jul 2011 14:04:10 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masalah peceraian]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan hukum kasus perceraian]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan kasus perceraian]]></category>
		<category><![CDATA[perceraian lebih mendominasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3342</guid>
		<description><![CDATA[Pontianak, Psikologi Zone &#8211; Sejak Maret hingga Juni 2011, masalah perceraian mendominasi di Pengadilan Negeri... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/masalah-perceraian-lebih-mendominasi-di-pontianak/065113342">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2308" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/06/Risiko-Perceraian-Lebih-Besar-Jika-Suami-Menganggur-209x132.gif" alt="Jawa Timur Duduki Peringkat Perceraian Tertinggi" title="Suami Istri Bertengkar" width="209" height="132" class="size-medium wp-image-2308" /><p class="wp-caption-text">ilustrasi (mi)</p></div>
<p><strong>Pontianak, Psikologi Zone</strong> &#8211; Sejak Maret hingga Juni 2011, masalah perceraian mendominasi di Pengadilan Negeri Agama Kelas 1-A Pontianak. Hal ini diungkapkan oleh Sukardi MHum, Koordinator Pos Bantuan Hukum (Posbakum), Rabu (13/7).</p>
<p>Posbakum sendiri memiliki berbagai jenis pelayanan pada kasus perceraian, seperti konsultasi perceraian, membuat surat cerai talak (bagi suami), membuat surat cerai gugat (bagi istri), dan lainnya.</p>
<p>Tercatat sejak Maret hingga Juni terdapat 260 kasus perceraian dari 319 kunjungan. Pada bulan Maret dengan 58 kasus dari 68 kunjungan, April dengan 64 kasus 79 kunjungan, Mei degan 78 kasus dari 94 kunjungan, Juni dengan 60 kasus dari 78 kunjungan.</p>
<p>Sukardi mengatakan, banyak dari kasus perceraian dikarenakan ditinggal lama dan tidak lagi diberi nafkah lahir dan batin.</p>
<p>Selain pelayanan hukum dalam kasus perceraian, Pengadilan Negeri Agama Kelas 1-A Pontianak juga memberikan pelayanan lain terkait, perihal waris, pernikahan dan konsultasi hukum lainnya. Semua itu gratis bagi mereka yang kurang mampu. (mba-trbn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/masalah-perceraian-lebih-mendominasi-di-pontianak/065113342/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggapan Terhadap Relasi dengan Rentang Usia yang Lebar</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/anggapan-terhadap-relasi-dengan-rentang-usia-yang-lebar/065113219</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/anggapan-terhadap-relasi-dengan-rentang-usia-yang-lebar/065113219#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 06:25:32 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anggapan orang]]></category>
		<category><![CDATA[anggapan orang pada hubungan terpaut usia]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan terpaut usia]]></category>
		<category><![CDATA[istri lebih muda]]></category>
		<category><![CDATA[pacar lebih muda]]></category>
		<category><![CDATA[suami lebih muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3219</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun Anda merasa baik-baik saja, memiliki pasangan yang lebih muda memiliki kelemahan tertentu dan mungkin... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/anggapan-terhadap-relasi-dengan-rentang-usia-yang-lebar/065113219">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3223" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-full wp-image-3223" title="Pasangan Pria Wanita" src="http://images.psikologizone.com/2011/07/pasangan-pria-wanita.gif" alt="Anggapan Orang Terhadap Hubungan Terpaut Usia" width="209" height="132" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (wordpress)</p></div>
<p>Meskipun Anda merasa baik-baik saja, memiliki pasangan yang lebih muda memiliki kelemahan tertentu dan mungkin tidak disadari. Misalnya, Anda merasa jauh lebih tua dari usia Anda yang sebenarnya.</p>
<p>Dikutip dari Genius Beauty (14/1/11), sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog dari Jena University di Jerman menegaskan, ketika mereka yang lebih tua terlihat bersama dengan pasangan mudanya, perbedaan usia mereka lebih menjadi perhatian orang-orang. Kesenjangan usia yang sangat jelas, membuat mereka yang melihat percaya, bahwa anda lebih tua dari sebenarnya.</p>
<p>Hal ini berlaku juga sebaliknya. Bila Anda dikelilingi oleh anggota keluarga atau rekan bisnis yang lebih tua, Anda akan membuat orang lain percaya, bahwa Anda jauh lebih muda dari usia anda yang sebenarnya. Kita sering dinilai bukan dari untuk apa kita bersama mereka, tetapi justru dibanding-bandingkan dengan orang di sekitar kita.</p>
<p>Penelitian terkait dilakukan dengan menganalisis persepsi orang dalam serangkaian eksperimen. Beberapa orang diminta mencoba untuk menebak usia seseorang yang tidak diketahui sebelumnya.</p>
<p>Ketika individu mengamati seseorang yang berkumpul dengan orang-orang yang berumur hampir sama, mereka dapat menebak dengan benar. Namun, ketika mereka melihat salah seorang yang berkumpul dan masing-masing lebih tua dan lebih muda, membuat mereka salah dalam menebak usia.</p>
<p>Para peneliti menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan ini terjadi pada orang-orang dari segala usia atau jenis kelamin.</p>
<p>Sementara itu, menurut psikolog Stefan Schweinberger, persepsi wajah adalah fenomena yang sangat subjektif dan rentan terhadap perubahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/anggapan-terhadap-relasi-dengan-rentang-usia-yang-lebar/065113219/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

