<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; Anak</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/category/psikologi-anak-perkembangan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Psikologi Zone, hadir sebagai media berita psikologi. Fokus pada pemberitaan terkait kesehatan mental dan perilaku,  baik dari dalam maupun luar negeri.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 12:45:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 11:53:42 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6697</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta. Psikologi Zone &#8211; Mendongeng sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan orang tua. Namun, masih... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6698" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/mendongeng.jpg" alt="Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng" title="Banyak Orang Tua yang Kesulitan Mendongeng" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6698" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta. Psikologi Zone</strong> &#8211; Mendongeng sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan orang tua. Namun, masih banyak orang tua yang justru merasa kesulitan saat mendongeng untuk anaknya. </p>
<p>Menurut Awam Prakoso, seorang pendongeng dari Kampung Dongeng, banyak dari mereka mengaku tidak bisa bercerita, padahal pada dasarnya semua orang mampu bercerita. </p>
<p>&#8220;Mendongeng itu mudah, ceritanya bisa diambil dari kejadian sehari-hari atau hal-hal yang menarik di sekitar kita. Yang penting orang tua harus pandai mengkreasikan cerita tersebut dan membuat cerita dongeng dengan hubungan sebab-akibat, sehingga lebih mudah dicerna oleh anak,&#8221; ujar Awam yang mampu menirukan suara-suara binatang.</p>
<p>Mendongeng memiliki banyak manfaat bagi orang tua dan anak, termasuk meningkatkan hubungan emosional di antara keduanya.</p>
<p>&#8220;Mendongeng sebagai kegiatan sehari-hari sangatlah penting untuk menciptakan manusia yang memiliki kecerdasan emosional dan intelektual,&#8221; kata psikolog anak Efnie Indrianie dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (17/5).</p>
<p>Menurut Efnie, cerita dalam sebuah dongeng hendaknya terkandung nilai moral yang akan menjadi panutan bagi anak hingga dewasa kelak. Bukan hanya itu, mendongeng juga perlu menampilkan kegiatan yang bisa menarik perhatian anak.</p>
<p>&#8220;Anak-anak usia balita masih mengandalkan indera pengecap sehingga untuk memulai satu kegiatan, termasuk mendongeng, dapat diawali dengan memberikan cemilan, misalnya es krim, yang dapat membuat mereka tertarik perhatiannya,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara itu, Senior Brand Manager Wall&#8217;s in Home, Nuning Wahyuningsih mengatakan, suasana kebersamaan saat bersama anak merupakan nilai yang sangat penting bagi perkembangan psikologis anak.</p>
<p>Wall&#8217;s Dreamy Creamy melalui produk terbarunya ikut mendorong kegiatan mendongeng dengan kampanye &#8220;Ibu adalah Pendongeng Terbaik untuk Anaknya&#8221;.</p>
<p>Nuning mengatakan, kegiatan tersebut didukung dengan sebuah survei yang dilakukan di Inggris pada 500 anak dengan usia 3-8 tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa 2/3 anak ingin orang tua mereka meluangkan waktu untuk mendongeng sebelum tidur. Survei tersebut lebih menginginkan ibu dari pada ayah untuk bersama mendongeng. (ant/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/banyak-orang-tua-yang-kesulitan-mendongeng/065116697/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Jajan Sembarangan, Ajarkan Pola Makan Sehat</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/anak-jajan-sembarangan-ajarkan-pola-makan-sehat/065116505</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/anak-jajan-sembarangan-ajarkan-pola-makan-sehat/065116505#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 08:26:53 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6505</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Salah satu aspek penting agar anak terhindar dari perilaku jajan sembarangan... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/anak-jajan-sembarangan-ajarkan-pola-makan-sehat/065116505">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6506" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/anak-jajan-sembarangan.jpg" alt="Anak Jajan Sembarangan, Ajarkan Pola Makan Sehat" title="Anak Jajan Sembarangan, Ajarkan Pola Makan Sehat" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6506" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Salah satu aspek penting agar anak terhindar dari perilaku jajan sembarangan adalah dengan memberikan mereka pengertian akan bahaya zat-zat kimia seperti boraks, formalin, perwarna pakaian dalam makanan mereka.</p>
<p>Psikolog anak, Dra.Rose Mini, M.Psi mengatakan, orang tua dan guru harus punya strategi untuk menciptakan kesadaran pada anak didik mereka. Walaupun terlihat sulit, namun demi kesehatan anak dari kerusakan otak dan kanker, pemahaman itu perlu disampaikan.</p>
<p>&#8220;Strategi tersebut diperlukan dalam menghadapi sifat anak-anak yang cenderung tidak menghiraukan pola makan sehat, &#8221; kata Rose Mini saat seminar Tupperware bertema &#8220;Aku Bersih Aku Sehat Aku Hebat&#8221;  di Jakarta, Kamis (3/5).</p>
<p>Menurutnya, orang tua harus bisa menjelaskan dengan logis dan komunikatif saat memberikan pengetahuan mengenai pola makan sehat. Cara ini dilakukan agar anak mudah mengerti apa yang disampaikan oleh orang tua. Misalnya, orang tua memberikan contoh nyata untuk menerapkannya.</p>
<p>Ia menambahkan, pendidikan pola makan sehat bisa dimulai dari rumah, sekolah dan lingkungan sekitar anak. Melalui pembekalan pendidikan dan pengetahuan yang cukup, diharapkan anak dapat menyaring sendiri mana yang boleh ia makan atau tidak.</p>
<p>“Selain itu, orangtua juga harus mengajarkannya dulu. Hal paling mudah dapat kita mulai sejak anak berangkat sekolah. Jangan hanya mengatakan ini itu, tetapi tidak memberikan contoh yang jelas,” papar Rose.</p>
<p>Memberikan pengetahuan mengenai pola makan sehat tidak lah cukup sampai disitu, Rose mengatakan, &#8221; yang terpenting adalah orangtua harus memberikan teladan kepada anak. Rose mengakui, masih banyak orangtua yang hanya bisa berbicara, tetapi sulit untuk mengaplikasikan.&#8221;</p>
<p>Bila orang tua memiliki pola hidup yang jorok, sedangkan mereka mengajarkan pada anak hidup sehat, tentu tidak akan berhasil.</p>
<p>&#8220;Dengan cara ini  anak dapat mencerna dengan mudah dan akan bertindak sesuai dengan arahan yang dimaksud,&#8221; kata Rose Mini. (gtr/trb/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/anak-jajan-sembarangan-ajarkan-pola-makan-sehat/065116505/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenalkan Bahasa Inggris Sejak Usia 1-6 Tahun</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/kenalkan-bahasa-inggris-sejak-usia-1-6-tahun/065116491</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/kenalkan-bahasa-inggris-sejak-usia-1-6-tahun/065116491#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 11:44:00 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6491</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Mengenalkan budaya asing sejak usia dini kerap menjadi kontroversi bagi sebagian... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/kenalkan-bahasa-inggris-sejak-usia-1-6-tahun/065116491">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6492" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/anak-membaca.jpg" alt="Kenalkan Bahasa Inggris Sejak Usia 1-6 Tahun" title="Kenalkan Bahasa Inggris Sejak Usia 1-6 Tahun" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6492" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Mengenalkan budaya asing sejak usia dini kerap menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat. Globalisasi dianggap mencederai sikap nasionalisme terhadap budaya dan berbangsa. Namun, pengenalan bahasa asing seperti bahasa Inggris sejak dini sangat bermanfaat bagi perkembangan mental anak. </p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan oleh Novita Tandry, M.Psi, psikolog pendidikan anak usia dini. Ia menilai, pengenalan bahasa asing termasuk dalam 4 stimulasi yang dibutuhkan anak usia dini, terutama usia 1 hingga 6 tahun.</p>
<p>Menurut Novita dalam acara SGM Prestasi Center di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (1/5), makin dini anak mengenal bahasa asing maka semakin mudah baginya untuk menerapkan bahasa asing sebagai bahasa sehari-hari selain bahasa Indonesia. Tentu dengan tidak mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, dan tetap mempelajarinya dari lingkungan. Kemampuan bahasa asing dapat membuat anak semakin percaya diri saat mereka besar nanti.</p>
<p>&#8220;Belajar lebih dari satu bahasa secara psikologis tidak masalah bagi perkembangan anak. Yang penting nanti orangtuanya konsisten, di rumah mengajarkan juga Bahasa Inggris,&#8221; kata Psikolog lulusan University of New South Wales ini.</p>
<p>Ia memberikan contoh pembanding seperti anak-anak di negara tetangga yang rata-rata sudah mampu berbicara dengan 4 jenis bahasa sejak usia 3-4 tahun. Faktanya, tidak pernah ditemukan masalah pada tumbuh kembang anak pada usia tersebut.</p>
<p>&#8220;Di negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, anak-anak sudah terbiasa menggunakan empat bahasa sekaligus saat mereka berusia 3 atau 4 tahun. Tiga bahasa lain yang mereka gunakan didapat dari lingkungannya,&#8221; papar Novita. (kmp/dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/kenalkan-bahasa-inggris-sejak-usia-1-6-tahun/065116491/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Dampak Buruk Budaya Asing Pada Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/mengatasi-dampak-buruk-budaya-asing-pada-anak/065116452</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/mengatasi-dampak-buruk-budaya-asing-pada-anak/065116452#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 09:25:24 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6452</guid>
		<description><![CDATA[Yogyakarta, Psikologi Zone &#8211; Derasnya arus informasi baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan eksistensi... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/mengatasi-dampak-buruk-budaya-asing-pada-anak/065116452">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6454" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/keluarga2.jpg" alt="Mengatasi Dampak Buruk Budaya Asing Pada Anak" title="Mengatasi Dampak Buruk Budaya Asing Pada Anak" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6454" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Yogyakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Derasnya arus informasi baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan eksistensi globalisasi dan kemajuan teknologi. Globalisasi bisa memberikan manfaat positif bagi perkembangan bangsa, namun juga patut waspada mengenai dampak negatif yang mungkin bisa terjadi.</p>
<p>Melalui berbagai macam kemajuan teknologi, anak semakin mudah mengakses internet, menonton televisi dan membaca berbagai macam majalah. Tentu hal ini dapat mempengaruhi bagaimana anak berperilaku, misalnya menirukan gaya berpakaian dengan tren budaya asing.</p>
<p>Pada dasarnya, budaya asing baik untuk dipelajari dan merupakan patokan bagi budaya bangsa sendiri, namun di usia yang belum matang, anak tidak memiliki daya saring yang baik, mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak. Tidak semua budaya asing sesuai dengan budaya bangsa, sehingga membuat anak tampil dewasa sebelum waktunya.</p>
<p>Dalam sebuah acara Berbagi Momen Kebersamaan Bersama Pasar Puter Wall&#8217;s Dung Dung, Senin (30/4), Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Psi mengatakan, salah satu cara yang baik untuk mencegah dampak negatif arus globalisasi adalah dengan kontrol orang tua. </p>
<p>&#8220;Orang tua harus percaya diri terhadap kebudayaan bangsa sendiri&#8221;, kata Anna.</p>
<p>Bila orang tua sudah tidak percaya diri dengan budaya bangsa, maka tidak heran banyak anak-anak justru lebih menganggap keren budaya luar. Orang tua yang lebih percaya diri akan mencoba memperkenalkan budaya bangsa, misalnya dengan mengajaknya nonton pameran kesenian atau mengenalkan makanan tradisional.</p>
<p>Dampak buruk dari arus globalisasi melalui bidang teknologi adalah orang tua justru memberikan akses permainan video game.</p>
<p>&#8220;Padahal hal ini akan membuat anak bersikap individualistis dan kesulitan berkomunikasi dengan orang lain,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Anna juga mengatakan, orang tua juga perlu untuk menyaring informasi tontonan keluarga yang lebih mendidik dan bisa mengenalkan budaya bangsa sendiri. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/mengatasi-dampak-buruk-budaya-asing-pada-anak/065116452/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selebrita Berlina Berbagai Cerita Mendidik Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/selebrita-berlina-berbagai-cerita-mendidik-anak/065116444</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/selebrita-berlina-berbagai-cerita-mendidik-anak/065116444#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 19:35:37 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6444</guid>
		<description><![CDATA[Yogyakarta, Psikologi Zone &#8211; Ketika anak sudah memasuki usia remaja, mereka akan lebih suka berkumpul... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/selebrita-berlina-berbagai-cerita-mendidik-anak/065116444">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6445" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/05/keluarga1.jpg" alt="Selebrita Berlina Berbagai Cerita Mendidik Anak" title="Selebrita Berlina Berbagai Cerita Mendidik Anak" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6445" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (stock.xchg)</p></div><strong>Yogyakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Ketika anak sudah memasuki usia remaja, mereka akan lebih suka berkumpul bersama teman sebaya dibandingkan dengan keluarga. Nah, Selebritas Berlina Febrianti menceritakan pengalamannya agar anak dekat dengan keluarga saat mereka dalam masa pertumbuhan.</p>
<p>Ibu 3 anak ini mengakui bahwa lingkungan luar dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak, terutama ketika menginjak usia remaja. Apalagi pada usia tersebut mereka mudah mengikuti arus globalisasi yang belum tentu berdampak baik bagi <span class="domtooltips">kepribadian<span class="domtooltips_tooltip" style="display: none">Suatu pola tertentu yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. -Redaksi</span></span> mereka.</p>
<p>Oleh karna itu, ibu kelahiran 21 Desember 1973 ini selalu berusaha memantau setiap perkembangan anak melalui pengasuhan yang tepat.</p>
<p>Menurutnya, orang tua seharusnya menjadi teman yang baik bagi anak, bukan mendidiknya dengan cara menggurui. Itu kenapa Berliana selalu ingin dekat dengan putra pertamanya Teuku Muhammad Revanza Revikashah atau biasa dipanggil Vanza (11).</p>
<p>&#8220;Cara menghadapi anak memang harus disesuaikan dengan umurnya. Pengaruh teman terhadap perkembangan anak sangat besar mengingat anak lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah bersama teman-temannya,&#8221; kata Berliana, dalam acara Berbagi Momen Kebersamaan Bersama Pasar Puter Wall&#8217;s Dung Dung, Senin (30/4).</p>
<p>Langkah yang ditempuh oleh Istri Teuku Muhammad Revikashah ini adalah dengan mengenalkan hobi pada Vanza, yaitu sepak bola. Ia sering menemani Vanza saat menonton pertandingan sepak bola. Kehangatan dan perhatian bisa dirasakan anak melalui kegiatan tersebut.</p>
<p>Berbagai jenis permainan modern sudah banyak diminati anak, termasuk Vanza. Berliana memberikan kebebasan pada Vanza dengan tetap mematuhi beberapa batasan, misalnya bermain game hanya boleh saat akhir pekan dengan gadget milik orang tua. Peraturan tersebut diberlakukan agar anak tidak kecanduan game dan orang tua bisa mengontrol jenis game yang dimainkan.</p>
<p>Berliana juga selalu bercerita tentang permainan masa kecilnya. Walaupun permainan ini sulit dilakukan di daerah perkotaan, paling tidak anak bisa membayangkan budaya asli Indonesia.</p>
<p>Sementara itu Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Psi mengatakan, peralihan perkembangan anak ke masa remaja merupakan fase yang sangat penting, sebab masa ini menentukan bagaimana jati diri anak terbentuk. Oleh karna itu peran orang tua dalam mendidik anak sangat penting, tentu dengan cara yang tepat. (dtk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/selebrita-berlina-berbagai-cerita-mendidik-anak/065116444/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang Lebih Menarik Bagi Anak Dibanding Mainan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/binatang-lebih-menarik-bagi-anak-dibanding-mainan/065116395</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/binatang-lebih-menarik-bagi-anak-dibanding-mainan/065116395#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 12:49:03 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6395</guid>
		<description><![CDATA[Amerika Serikat, Psikologi Zone &#8211; Bila seorang anak dihadapkan antara binatang dengan mainan, menurut sebuah... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/binatang-lebih-menarik-bagi-anak-dibanding-mainan/065116395">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6396" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/anak-binatang.jpg" alt="Binatang Lebih Menarik Bagi Anak Dibanding Mainan" title="Binatang Lebih Menarik Bagi Anak Dibanding Mainan" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6396" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (care2.com)</p></div><strong>Amerika Serikat, Psikologi Zone</strong> &#8211; Bila seorang anak dihadapkan antara binatang dengan mainan, menurut sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa anak-anak justru lebih memilih makhluk hidup.</p>
<p>Menurut penelitian dari University of Virginia dan Rutgers University found mengatakan, bahkan bayi yang masih berusia 11 bulan, secara alami lebih tertarik pada binatang, walaupun binatang tersebut membuat banyak orang dewasa ketakutan, seperti laba-laba dan ular.</p>
<p>Para peneliti melakukan tiga percobaan terpisah di mana anak-anak dapat memiliki kesempatan untuk memilih antara binatang atau mainan yang menarik. Dalam penelitian tersebut, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat semua jenis binatang dari pada mainan-mainan tersebut.</p>
<p>Para peneliti mencatat, binatang-binatang ini memicu rasa ingin tahu lebih banyak dibandingkan dengan mainan yang disediakan pada anak. Misalnya, ketika memfokuskan perhatian anak pada binatang, anak-anak lebih merespon dengan berbicara atau lebih banyak bertanya tentang binatang tersebut. Para peneliti memberikan saran bagi para orang tua dan pihak terkait lainnya untuk lebih membantu proses belajar melalui binatang.</p>
<p>&#8220;Fakta bahwa binatang lebih menarik bagi anak-anak menunjukkan anak-anak akan mendapatkan manfaat besar saat mereka memiliki binatang peliharaan dalam hidup mereka,&#8221; kata Vanessa LoBue, dari Rutgers University, dalam sebuah siaran berita di British Psychological Society.</p>
<p>&#8220;Penelitian kami mengembangkan gagasan bahwa binatang dapat menjadi instrumen yang baik untuk belajar,&#8221; katanya. &#8220;Hal ini sudah ditunjukkan dengan meluasnya penggunaan karakter binatang dalam buku anak-anak dan program televisi.&#8221;</p>
<p>Studi ini diterbitkan secara online dalam British Journal of Developmental Psychology pada 27 April. (hd/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/binatang-lebih-menarik-bagi-anak-dibanding-mainan/065116395/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Anak Laki-Laki Kasar dan Keras</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/mengatasi-anak-laki-laki-kasar-dan-keras/065116380</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/mengatasi-anak-laki-laki-kasar-dan-keras/065116380#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 09:30:58 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6380</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Anak menjadi sangat keras dan aktif saat memasuki usia tiga tahun,... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/mengatasi-anak-laki-laki-kasar-dan-keras/065116380">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_6381" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/anak-marah.gif" alt="Mengatasi Anak Laki-Laki Kasar dan Keras" title="Mengatasi Anak Laki-Laki Kasar dan Keras" width="250" height="150" class="size-full wp-image-6381" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (GSE-Media)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Anak menjadi sangat keras dan aktif saat memasuki usia tiga tahun, terutama bagi anak laki-laki. Banyak orang orang tua justru dipusingkan saat anak laki-laki mereka marah, ia suka menendang dan memukul, bahkan ada kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Bila kondisi semacam ini muncul, orang tua tidak perlu cemas.</p>
<p>Menurut Elly Risman Musa, psikolog dan pemerhati masalah anak, tingkah laku anak pada dasarnya bisa dibentuk melalui pola pengasuhan yang merupakan kewajiban bagi ayah dan ibu. &#8220;Pengasuhan adalah pembentukan tingkah laku atau dengan kata lain disiplin,&#8221; kata Elly dalam sebuah konsultasi, Selasa (24/4). Bila tingkah laku sudah dibentuk sejak dini, tentu hal ini dapat memudahkan orang tua saat berinteraksi bersama anak.</p>
<p>Ia mengatakan, seorang anak harus diajarkan untuk bisa menahan keinginan, anak akan belajar bahwa ada kata &#8216;tidak&#8217; dalam hidup mereka. Pengenalan seperti ini dapat membantu perkembangan emosi anak menjadi lebih baik di kemudian hari.</p>
<p>Rumah merupakan tempat pertama untuk menanamkan moral dan aturan pada anak sebelum mereka memasuki dunia luar. Menanamkan nilai moral dan dasar-dasar <span class="domtooltips">kepribadian<span class="domtooltips_tooltip" style="display: none">Suatu pola tertentu yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. -Redaksi</span></span>, akan efektif bila dilakukan saat usia satu hingga lima tahun. Misalnya, berkata sopan, mengucapkan &#8216;tolong&#8217; saat butuh bantuan, membiasakan anak untuk sikat gigi sebelum tidur dan lain sebagainya.</p>
<p>Orang tua dituntut untuk sabar saat membimbing anak mereka. Sikap otoriter atau keras dalam proses disiplin bisa menjadi masalah. &#8220;Jika orangtua banyak memarahi anak, tidak memberi anak kesempatan untuk bermain dan membatasi ruang gerak anak, anak akan frustrasi,&#8221; jelas Elly.</p>
<p>Anak biasanya akan rewel, marah, dan berkata kasar. Orang tua perlu memahami kondisi tersebut dan memahami kebutuhan anak seperti kasih sayang dan asupan makanan yang cukup.</p>
<p>Menendang dan berkata kasar adalah bentuk ekspresi amarah bagi banyak laki-laki, namun anak laki-laki juga harus tetap diajarkan bagaimana menyalurkan ekspresi marah yang bisa diterima oleh norma masyarakat.</p>
<p>Mengajarkan bagaimana mengenali perasaan marah adalah cara membiasakan anak untuk meluapkan emosi negatif secara tepat. &#8220;Anak akan terbiasa mengucapkan: &#8216;Aku marah pada adik&#8217; dari pada memukul adik jika ia sedang marah,&#8221; tutup Elly. (rpk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/mengatasi-anak-laki-laki-kasar-dan-keras/065116380/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renggut Masa Bermain, Eksploitasi Anak Marak di Jalanan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/renggut-masa-bermain-eksploitasi-anak-marak-di-jalanan/065116315</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/renggut-masa-bermain-eksploitasi-anak-marak-di-jalanan/065116315#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 04:46:12 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6315</guid>
		<description><![CDATA[Semarang, Psikologi Zone &#8211; Muncul keprihatinan mana kala melihat semakin marak fenomena anak-anak di bawah... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/renggut-masa-bermain-eksploitasi-anak-marak-di-jalanan/065116315">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2999" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/04/anak-kecil-bekerja.jpg" alt="Renggut Masa Bermain, Eksploitasi Anak Marak di Jalanan" title="Renggut Masa Bermain, Eksploitasi Anak Marak di Jalanan" width="250" class="size-medium wp-image-2999" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (5r2i.com)</p></div><strong>Semarang, Psikologi Zone</strong> &#8211; Muncul keprihatinan mana kala melihat semakin marak fenomena anak-anak di bawah umur menjajakan koran dan dagangan lain di perempatan jalan protokol, <em>traffic light</em>, dan pinggir-pinggir jalan Kota Semarang. Sejumlah kalangan dan para pemerhati anak miris dibuatnya.</p>
<p>&#8220;Sangat memprihatinkan ketika anak-anak itu harus membantu orang tua mencari nafkah, sementara mereka sebenarnya harus bermain dan belajar. Jadi mereka ini masak sebelum saatnya,&#8221; kata psikolog Probowatie Tjondronegoro, Senin (23/4).</p>
<p>Pergaulan menjadi tidak terpantau, akibatnya buruk bagi perkembangan fisik dan psikologis anak. Bukan hanya orang tua yang harus bertanggung jawab, namun pihak pemerintah seharusnya turun tangan menanggapi fenomena ini.</p>
<p>&#8220;Pergaulan di jalan raya itu kan tidak terseleksi. Maka secara fisik dan psikologis (fenomena) ini jelas tidak baik, tidak oke. Ini merupakan persoalan serius yang bukan saja harus diselesaikan oleh para orang tua dari anak-anak itu, tapi juga persoalan kita dan pemerintah,&#8221; kata Probowatie di kantor Humas RS St Elisabeth.</p>
<p>Di kesempatan lain, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan, jumlah anak telantar di Indonesia sudah mencapai 4,5 juta anak, tersebar di berbagai daerah. Pemerintah melalui Kementerian Sosial sudah menyediakan dana sebesar 281 miliar rupiah, namun hanya cukup untuk menangani 175 ribu anak.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan menteri setelah menyerahkan bantuan kelompok usaha bersama (KUBE) di Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (23/4).</p>
<p>Menurutnya, anak telantar banyak disebabkan eksploitasi oleh orang tua, mereka dimanfaatkan untuk mencari uang. Tentu kondisi semacam ini membuat anak tidak tumbuh dengan sehat. Perlu adanya tindakan yang sinergi antara pemerintah, pekerja sosial, relawan dan masyarakat untuk menyelamatkan anak Indonesia.</p>
<p>Di Semarang, anak usia sekolah bahkan usia pra sekolah kerap terlihat di beberapa titik lalu lintas, misalnya di jalan Pahlawan, Pandanaran, Pemuda dan jalan protokol lain. Keberadaan mereka membuat kekhawatiran karna tidak mempedulikan laju kendaraan. (sm/rpk/mba)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/renggut-masa-bermain-eksploitasi-anak-marak-di-jalanan/065116315/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Autistik Juga Perlu Pendidikan Seks</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/anak-autistik-juga-perlu-pendidikan-seks/065116175</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/anak-autistik-juga-perlu-pendidikan-seks/065116175#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 13:38:43 +0000</pubDate>
		
				<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=6175</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Bukan hanya anak normal, anak autistik juga perlu mendapatkan pendidikan seks... <a class="meta-more" href="http://www.psikologizone.com/anak-autistik-juga-perlu-pendidikan-seks/065116175">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1681" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-medium wp-image-1681" title="Anak Autistik Juga Perlu Pendidikan Seks" src="http://images.psikologizone.com/2011/06/pendidikan-seks.gif" alt="Anak Autistik Juga Perlu Pendidikan Seks" width="250" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (wordpress)</p></div><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Bukan hanya anak normal, anak autistik juga perlu mendapatkan pendidikan seks ketika mereka masuk usia remaja. Apalagi pada masa remaja, dorongan seksual mulai muncul pada semua anak. Orang tua perlu untuk mulai memperhatikan dan membimbing mereka agar memperoleh pemahaman yang benar.</p>
<p>Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S, Koordinator Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengatakan, orang tua perlu untuk memperhatikan usia remaja pada anak autistik terutama mengenai pendidikan seksual. Apalagi bila anak autistik sudah mulai mengenal konsep cinta.</p>
<p>&#8220;Bisa mulai dari menjaga kebersihan tubuh sendiri, hal-hal yang privasi, dan kemandirian,&#8221; katanya, Sabtu kemarin(14/4).</p>
<p>Ia mengatakan, sebaiknya pendidikan seks disesuaikan antara anak laki-laki dengan ayahnya, sedangkan anak perempuan dengan ibunya. Masalahnya, orang tua saat ini masih saja merasa sulit bila berbicara mengenai seks pada anak mereka, apalagi pada anak berkebutuhan khusus.</p>
<p>Ada banyak cara yang bisa dilakukan menurut Adriana, misalnya dengan memasukkan mereka pada sekolah yang memberikan pemahaman tentang pendidikan seks atau memanggil guru agama. Bila anak bisa membaca, orang tua dapat memberikan buku berisi pendidikan seksual pada mereka.</p>
<p>&#8220;Pilih mana buku yang cocok bahasanya untuk anak,&#8221; paparnya.</p>
<p>Anak autistik pada masa puber kadang tidak memiliki perasaan malu untuk telanjang, memperlihatkan alat kelamin, membuka celana, dan masturbasi di tempat umum.</p>
<p>Adriana menyampaikan, anak autistik memang melepaskan hasrat seksual dengan masturbasi. Bila hal ini tidak dilakukan, mereka merasa tertekan. </p>
<p>Orang tua wajib mengajarkan pada anak mengenai apa saja yang boleh dilakukan di tempat umum dan terbuka. &#8220;Itu seperti kebutuhan dasar. Sama seperti makan dan minum. Cuma hal ini menjadi sesuatu yang memalukan karena dianggap tabu,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Orang tua harus lebih bijak dalam menanggapi dorongan seksual pada anak autistik. Tidak dapat dipungkiri, dorongan seksual adalah kebutuhan biologis yang memang perlu disalurkan, namun perlu untuk menyesuaikan dengan norma masyarakat.</p>
<p>Dorongan seksual untuk bermasturbasi dapat dialihkan melalui kegiatan olahraga pada anak autistik. &#8220;Tetapi kalau keinginan itu tetap terus ada, kita harus memperbolehkannya tapi harus ditempat yang privat,&#8221; tutupnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/anak-autistik-juga-perlu-pendidikan-seks/065116175/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

