<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Psikologi Zone - Portal Berita Psikologi Indonesia &#187; Psikologi Anak</title>
	<atom:link href="http://www.psikologizone.com/category/psikologi-anak-perkembangan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.psikologizone.com</link>
	<description>Portal informasi psikologi, ilmu psikologi, dan terapan psikologi. Membahas trauma, stress, depresi, perkembangan, sosial, dan gejala psikologis lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 02:17:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Beda Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/beda-penanganan-anak-berhadapan-dengan-hukum/065114888</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/beda-penanganan-anak-berhadapan-dengan-hukum/065114888#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 04:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=4888</guid>
		<description><![CDATA[Makasar, Psikologi Zone &#8211; Kasus hukum pada anak dibawah umur masih banyak terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_1455" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-medium wp-image-1455" title="Beda Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum" src="http://images.psikologizone.com/2011/05/penjara-topnews-209x132.gif" alt="Beda Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum" width="209" height="132" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (topnews)</p></div><strong>Makasar, Psikologi Zone</strong> &#8211; Kasus hukum pada anak dibawah umur masih banyak terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini diperburuk dengan masih ada saja polisi yang menyamakan kasus penanganan anak berhadapan hukum dengan penanganan kejahatan umum yang dilakukan orang dewasa. </p>
<p>Kompol Jamilah Nompo, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Ditreskrim Polda Sulselbar, Minggu (22/1/12), mengatakan bahwa Tahun 2011 terdapat 400 kasus anak dan hanya 20 yang dipulangkan pada orang tua agar mendapatkan bimbingan. Kasus yang sering terjadi adalah pencurian, lakalantas, dan pelecehan seksual.</p>
<p>Jamilah menambahkan, penanganan anak berhadapan hukum di Sulsel, memiliki hambatan terutama infrastruktur. Hal ini ditambah dengan anggota kepolisian yang dimutasi dari tempat jauh sehingga kurang memahami regulasi anak berhadapan dengan hukum. </p>
<p>Nuralam, Humas PSMP Toddopuli Makassar mengatakan bahwa, sosialiasi harus dilakukan lebih intensif pada semua aparat kepolisian. Diharapkan dengan sosialisasi ini agar kasus anak berhadapan dengan hukum dapat ditekan.</p>
<p>Berdasarkan data nasional, Nuralam menyebutkan, sebanyak 7000 anak yang tercatat berhadapan dengan hukum pada tahun 2011. Sekitar 6.700 lainnya divonis bersalah dan masuk dalam tahanan. </p>
<p>Rusdi Tompo, Pemerhati Anak mengatakan bahwa penanganan anak berhadapan dengan hukum belum maksimal karena dipengaruhi disharmonisasi regulasi. Rusdin berharap, Pemerintah Pusat segera menyelesaikan revisi UU mengenai sistem peradilan anak, sehingga khusus kasus anak ada landasan hukumnya. (mba/ant)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/beda-penanganan-anak-berhadapan-dengan-hukum/065114888/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AAL Divonis, Beban Psikologis Sebagai Pencuri</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/aal-divonis-beban-psikologis-sebagai-pencuri/065113952</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/aal-divonis-beban-psikologis-sebagai-pencuri/065113952#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 01:27:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Beban Mental AAL]]></category>
		<category><![CDATA[Beban Psikologis AAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3952</guid>
		<description><![CDATA[Palu, Psikologi Zone &#8211; Walaupun tidak memberikan hukuman masuk penjara, hakim Pengadilan Negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_3953" class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><img src="http://images.psikologizone.com/2012/01/AAL-Divonis-Beban-Psikologis-Sebagai-Pencuri.jpg" alt="AAL Divonis, Beban Psikologis Sebagai Pencuri" title="AAL Divonis, Beban Psikologis Sebagai Pencuri" width="259" height="194" class="size-full wp-image-3953" /><p class="wp-caption-text">Aksi seribu sandal untuk AAL (vvn)</p></div><strong>Palu, Psikologi Zone</strong> &#8211; Walaupun tidak memberikan hukuman masuk penjara, hakim Pengadilan Negeri Palu telah memberikan vonis bersalah pada AAL, terdakwa pencurian sandal jepit Briptu Ahmad Rusdi. Melihat usianya yang masih belum dewasa, maka hakim memutuskan untuk mengembalikan pada keluarganya.</p>
<p>Vonis yang dijatuhkan pada AAL dipermasalahkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). M Ikhsan, Sekretaris Jenderal KPAI,  mengatakan bahwa masalah ini bukal menyangkut penjara atau tidak.</p>
<p>Ia mengatakan ada beberapa kejanggalan dalam kasus ini. Pertama, dalam persidangan dan pemeriksaan barang bukti dan juga saksi, tidak menunjukkan bahwa AAL bersalah. Ia tidak mencuri, namun memungut sandal di pinggir jalan dan bukan milik Briptu Ahmad. AAL memungut sandal dengan merek Ando, sedangkan Briptu Ahmad kehilangan sandal Eiger.</p>
<p>Walaupun ujungnya dikembalikan ke orang tua, ada beban mental bagi AAL untuk melanjutkan masa depan dengan predikat bersalah dan dicap sebagai pencuri. Seumur hidup ia akan menanggung beban psikologis sebagai pencuri. Tentu ini akan berbahaya bagi perkembangan anak dan harus dihindari penggunaan kata ini.</p>
<p>Mengenai putusan hakim ini, KPAI akan mengunjungi Mabes Polri, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Kementerian Hukum dan HAM untuk membagikan sandal. Ini sebagai bentuk keprihatinan adanya permasalahan hukum yang tidak karuan.</p>
<p>Kasus AAL sendiri bukan satu-satunya kasus pidana pada anak dibawah umur yang ditemukan kejanggalan, tetapi sekarang juga muncul kasus anak dengan keterbelakangan mental yang ditahan dan masuk penjara karena pisang. Bahkan ada kasus dari Sijunjung, Sumatera Barat, dua anak yang tengah ditahan gantung diri di dalam sel. Mereka adalah tersangka pencuri kotak infak. (vvn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/aal-divonis-beban-psikologis-sebagai-pencuri/065113952/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Anak Nasional, Tanamkan Rasa Cinta Lingkungan</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/hari-anak-nasional-tanamkan-rasa-cinta-lingkungan/065113523</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/hari-anak-nasional-tanamkan-rasa-cinta-lingkungan/065113523#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 10:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Linda Amalia Sari Gumelar]]></category>
		<category><![CDATA[tanamkan rasa cinta lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3523</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Linda Amalia Sari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3525" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/anak-menanam-pohon-209x132.gif" alt="Hari Anak Nasional, Tanamkan Rasa Cinta Lingkungan" title="Anak Menanam Pohon" width="209" height="132" class="size-medium wp-image-3525" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (blogspot)</p></div>
<p><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Linda Amalia Sari, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PPPA) melakukan penanaman pohon bersama ribuan anak di kebun binatang Ragunan Jakarta, ahad kemarin (24/7/11).</p>
<p>Isu lingkungan merupakan masalah yang penting dan tidak boleh dipisahkan dalam proses perkembangan anak. Baiknya, anak sudah harus mendapatkan contoh yang baik dalam hal pemeliharaan lingkungan.</p>
<p>Menurut Linda, pelestarian lingkungan dapat dilakukan dari hal kecil, seperti menanam tanaman di pekarangan rumah, menghemat listrik dan air, juga mendaur sampah.</p>
<p>Anak-anak sering menjadi korban ketidaksepahaman orangtua dalam menjaga lingkungan. Faktor ekonomi salah satu penyebabnya. Mereka kurang memperhatikan keinginan dan kebutuhan anak. Padahal anak adalah cara strategis untuk memupuk cinta lingkungan.</p>
<p>Faktor lainnya adalah faktor sosial budaya, terkesan kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab orang dewasa saja. Apalagi dampak masalah lingkungan sudah dapat dirasakan, seperti banjir, longsor, dan lain-lain.</p>
<p>Anak-anak perlu sejak dini ditanamkan rasa cinta pada lingkungan. Bisa dilakukan dengan cara sederhana. ”Kita sebagai orang tua diharapkan bisa menanamkan kesadaran untuk ikut serta menjaga dan memelihara ekosistem,” tegasnya. (mba-jpnn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/hari-anak-nasional-tanamkan-rasa-cinta-lingkungan/065113523/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Bekerja dan Dampaknya Pada Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/ibu-bekerja-dan-dampaknya-pada-anak/065113483</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/ibu-bekerja-dan-dampaknya-pada-anak/065113483#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 09:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[dampak ibu bekerja pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja dan dampaknya pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[kedua orangtua bekerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3483</guid>
		<description><![CDATA[Kabar baik bagi Anda, orang tua yang berjuang demi keluarga dengan bekerja sambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3484" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/ibu-bekerja.gif" alt="Ibu Bekerja dan Dampaknya Pada Anak" title="Ibu Bekerja" width="209" height="132" class="size-full wp-image-3484" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (mylendingjob)</p></div>
<p>Kabar baik bagi Anda, orang tua yang berjuang demi keluarga dengan bekerja sambil membesarkan anak-anak. Dikutip dari Science Daily, sebuah penelitian yang didanai oleh Dewan Riset Ekonomi dan Sosial (ESRC) Inggris, mengenai aspek ibu yang bekerja dan hubungannya dengan sosio-emosional anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada efek merugikan pada perkembangan sosial atau emosional anak, bila ibu mereka bekerja.</p>
<p>Dampak dari perkembangan sosio-emosional ketika ibu bekerja memang sangat tergantung bagaimana pengaturan dan pola asuh yang diterapkan. Hal ini akan berbeda pada anak yang tinggal dengan orangtua yang bercerai dan bekerja.</p>
<p>Anak laki-laki yang tinggal dengan ibu yang bercerai dan mencari nafkah, menunjukkan lebih banyak mengalami kesulitan pada tahun kelima dibandingkan anak laki-laki yang hidup dengan dua orang tua yang bekerja. Berbeda dengan anak perempuan, mereka justru akan mengalami kesulitan pada tahun kelima bersama ayah yang bercerai dan mencari nafkah, dibandingkan dengan anak perempuan yang hidup dengan orangtua yang keduanya bekerja.</p>
<p>Dr Anne McMunn mengatakan, ibu yang bekerja lebih cenderung memiliki kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi, hidup dalam pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi, dan kemungkinan memiliki depresi yang kecil dibandingkan ibu yang tidak bekerja. </p>
<p>Jadi, baik ibu yang bekerja ataupun tidak, tahun pertama bagi anak-anak akan sangat menentukan perkembangan mereka, di tahun-tahun berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/ibu-bekerja-dan-dampaknya-pada-anak/065113483/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Anak Bukan Milik Pejabat, Itu Hak Kami</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/hari-anak-bukan-milik-pejabat-itu-hak-kami/065113413</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/hari-anak-bukan-milik-pejabat-itu-hak-kami/065113413#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 08:18:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak adalah hak anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak bukan milik pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[suara anak batal dibacakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3413</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Psikologi Zone &#8211; Tidak lupa dengan masalah pembatalan pembacaan Suara Anak di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3415" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/anak-indonesia-209x132.gif" alt="Hari Anak Bukan Milik Pejabat, Itu Hak Kami" title="Anak Indonesia" width="209" height="132" class="size-medium wp-image-3415" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (hariansumutpos)</p></div>
<p><strong>Jakarta, Psikologi Zone</strong> &#8211; Tidak lupa dengan masalah pembatalan pembacaan Suara Anak di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anak Nasional 2010 di Taman Mini Indonensia Indah, Jakarta yang sempat heboh.</p>
<p>Belum lama kejadian menyedihkan dan mengecewakan ini berlalu. Kini Arif Rahman Hakim, remaja usia 16 tahun dari Bangka Belitung juga mengalami hal yang sama di tahun 2011 ini. Kali ini Arif tidak dapat membacakan Suara Anak di Kongres Anak Indonesia.</p>
<p>Ia mengatakan, hanya membutuhkan waktu lima menit, namun tidak diijinkan oleh pihak terkait Kongres Anak Indonesia X di Gedung Merdeka Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/7/11).</p>
<p>Padahal Arif tengah siap dengan baju adatnya untuk mulai membacakan Suara Anak. Isi dari pembacaan itu tidak lain adalah rekomendasi dari seluruh anak Indonesia. Ironis, seperti halnya setahun lalu, hanya butuh dua menit saja tidak dapat memperdengarkan Suara Anak dan harus dibatalkan.</p>
<p>Arif mengaku heran atas kejadian ini. &#8220;Hari Anak seharusnya milik anak-anak, tetapi justru lebih dimiliki oleh para pejabat,&#8221; ungkapnya. (mba-kmp)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/hari-anak-bukan-milik-pejabat-itu-hak-kami/065113413/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Jalanan dan Pengemis Mendominasi Jalan Protokol</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/anak-jalanan-dan-pengemis-mendominasi-jalan-protokol/065113400</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/anak-jalanan-dan-pengemis-mendominasi-jalan-protokol/065113400#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 12:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan dan pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan mendominasi jalan protokol]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis mendominasi jalan protokol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3400</guid>
		<description><![CDATA[Medan, Psikologi Zone &#8211; Banyaknya anak jalanan dan pengemis di jalan-jalan protokol Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2999" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/anak-kecil-bekerja-209x132.gif" alt="Anak Jalanan dan Pengemis Mendominasi Jalan Protokol" title="Anak Kecil Bekerja" width="209" height="132" class="size-medium wp-image-2999" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (komhukum)</p></div>
<p><strong>Medan, Psikologi Zone</strong> &#8211; Banyaknya anak jalanan dan pengemis di jalan-jalan protokol Kota Binjai membuat program Wali Kota M Idaham diragukan. Pasalnya ia mencanangkan Kota Binjai sebagai kota ramah anak menjelang hari anak nasional pada 23 Juli 2011 mendatang.</p>
<p>Dalam rangka hari anak nasional,  Dwi Anggraini, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan mengaku akan melakukan program peningkatan kesejagteraan anak Binjai untuk memperingati hari anak nasional. Selain itu, lembaganya juga merupakan tempat pengaduan dan monitoring perlindungan anak dan perempuan dari kekerasan dan perdagangan.</p>
<p>Sebenarnya, masalah anak jalanan dalam hal pengaduan dan monitoring anak memang tanggung jawab Kantor Pemberdayaan Perempuan. Ini dilakukan untuk mengurangi dan mencegah tidak kekerasan dan perdagangan anak di Binjai. Dalam masalah pembinaan anak jalanan dan pengemis di Binjai merupakan tanggung jawab Dinas sosial. </p>
<p>Dwi juga meminta masalah anak jalanan dan pengemis juga dikonfirmasikan pada Dinas Sosial, karena bukan hanya tanggung jawab Kantor Pemberdayaan Perempuan.</p>
<p>Ia menambahkan, tugas Kantor Pemberdayaan Perempuan hanya sebatas pendataan dan memberikan perlindungan. Sedangkan pembinaan adalah tugas Dinas Sosial.</p>
<p>Banyaknya Anak jalanan mendominasi di jalan-jalan protokol. Sedangkan, malam harinya mereka mengisi Lapangan Merdeka Binjai. Inilah kondisi yang memang harus diperhatikan bila Bijai ingin menjadi kota ramah anak. (mba-trbn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/anak-jalanan-dan-pengemis-mendominasi-jalan-protokol/065113400/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orangtua Perlu Berpikir Konstruktif kepada Anak</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/orangtua-perlu-berpikir-konstruktif-kepada-anak/065113390</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/orangtua-perlu-berpikir-konstruktif-kepada-anak/065113390#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 02:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir konstruktif]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua berpikir konstruktif pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua berpikir konstruktir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3390</guid>
		<description><![CDATA[Bandar Lampung, Psikologi Zone &#8211; Orangtua perlu untuk berpikir konstruktif positif dalam mendidik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2206" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-full wp-image-2206" title="Terapi Psikologis Anak" src="http://images.psikologizone.com/2011/06/terapi-psikologi-anak-209x132.gif" alt="Orangtua Perlu Berpikir Konstruktif Pada Anak" width="209" /><p class="wp-caption-text">ilustrasi (sekolah al-ihsan)</p></div>
<p>Bandar Lampung, Psikologi Zone &#8211; Orangtua perlu untuk berpikir konstruktif positif dalam mendidik dan membangun mental anak mereka sejak kecil. Ini dilakukan tidak lain untuk masa depan anak mereka.</p>
<p>&#8220;Apa yang sering didengar anak, lama kelamaan akan dipercaya sebagai sugesti. Orang tua perlu berlaku dan bersikap bijak serta jangan ragu menghargai eksistensi buah hatinya,&#8221; kata Khairul Huda, Psikolog Lampung, Senin (18/7).</p>
<p>menurutnya anak dapat berkembang menjadi anak yang cerdas dan percaya diri asal orangtua memperlakukan mereka demikian. Orangtua boleh saja memarahi anak, namun bila memang anak salah dan penyampaiannya pun juga harus membangun, bukan menjatuhkan.</p>
<p>Misalnya saja, anak yang kurang tegas, orangtua dapat mengatakan, “anak laki-laki seharusnya tegas”, bukan mengatakan “anak laki-laki kok lemas”.</p>
<p>Kata-kata positif adalah kata yang dapat membangun pola pikir dan mental anak pada waktu yang akan datang. Anak bisa saja nakal karena tidak adanya penyaluran kreatifitas yang tepat bagi mereka. Orangtua lah yang harus memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi dan mengawasi mereka.</p>
<p>Huda menambahkan, anak yang nakal bukanlah anak yang benar-benar nakal, namun hanya kurang perhatian dan orangtua harus tahu kenapa anak bersikap seperti itu. (mba-repo)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/orangtua-perlu-berpikir-konstruktif-kepada-anak/065113390/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khawatir Anak Terlambat Berbicara?</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/khawatir-anak-terlambat-berbicara/065113371</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/khawatir-anak-terlambat-berbicara/065113371#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 13:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak terlambat berbicara]]></category>
		<category><![CDATA[anak tidak bisa bicara]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir anak terlambat berbicara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3371</guid>
		<description><![CDATA[Dalam setiap kemajuan perkembangan anak, pasti akan memberikan kegembiraan bagi orangtuanya. Orangtua merasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3373" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/anak-bicara.gif" alt="Khawatir Anak Terlambat Berbicara?" title="Bayi Berbicara" width="209" height="132" class="size-full wp-image-3373" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (herdaily)</p></div>
<p>Dalam setiap kemajuan perkembangan anak, pasti akan memberikan kegembiraan bagi orangtuanya. Orangtua merasakan kebahagiaan setelah anak mulai bisa merangkak, berjalan dan mampu mengeluarkan ocehan kata.</p>
<p>Kondisi akan berbeda ketik anak ternyata mengalami keterlambatan dalam perkembangan, orangtua akan merasa cemas akan hal ini. Misalnya saja anak mereka tidak kunjung mengeluarkan kata-kata pertamanya. Orangtua menjadi cemas melihat anak mereka tidak seperti hanya anak-anak lain seusianya.</p>
<p>Orangtua baiknya tidak perlu untuk khawatir bila anak mereka terlambat untuk berbicara. Sebuah penelitian dari Telethon Institute for Child Health Research University of Western Autralia di Perth, dikutip dari uamshealth, menemukan bahwa anak yang terlambat berbicara tidak ada hubungannya dengan perilaku atau masalah emosional anak.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan secara longitudinal dengan mengamati perkembangan bahasa pada anak usia 2 tahun hingga mereka memasuki masa remaja.</p>
<p>Profesor Andrew Whitehouse, menjelaskan bahwa masalah psikologis pada usia anak-anak akan berangsur menghilang ketika mereka memasuki masa remaja.</p>
<p>Masalah psikologis yang membuat anak frustasi dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Bila masa remaja semakin dekat, maka anak yang terlambat berbicara akan semakin berangsur membaik.</p>
<p>Para peneliti menjelaskan bahwa keterlambatan berbicara tidak menyebabkan resiko, namun orangtua perlu memeriksakan pada tenaga ahli bila hal ini tidak mengalami perubahan hingga usia sekolah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/khawatir-anak-terlambat-berbicara/065113371/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum Bahasa, Bayi Pelajari Dunia Melalui Suara</title>
		<link>http://www.psikologizone.com/sebelum-bahasa-bayi-pelajari-dunia-melalui-suara/065113367</link>
		<comments>http://www.psikologizone.com/sebelum-bahasa-bayi-pelajari-dunia-melalui-suara/065113367#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 05:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Baitul Alim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Anak]]></category>
		<category><![CDATA[bayi belajar melalui suara]]></category>
		<category><![CDATA[bayi mempelajari dunia melalui suara]]></category>
		<category><![CDATA[bayi mengenal melalui suara]]></category>
		<category><![CDATA[bayi mengkategorikan benda melalui suara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.psikologizone.com/?p=3367</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya kata-kata, tapi suara juga memiliki arti bagi kita. Hal ini berlaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_3369" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img src="http://images.psikologizone.com/2011/07/bayi-kecil1.gif" alt="Sebelum Bahasa, Bayi Pelajari Dunia Melalui Suara" title="Bayi" width="209" height="132" class="size-full wp-image-3369" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (innocentenglish)</p></div>Bukan hanya kata-kata, tapi suara juga memiliki arti bagi kita. Hal ini berlaku untuk anak-anak dan orang dewasa. Mereka dapat menghubungkan antara bahasa dengan bentuk fisik. Bila kita mengatakan kursi, maka kita tahu bahwa kursi adalah sebuah benda yang bisa diduduki. </p>
<p>Apakah prinsip yang sama berlaku untuk anak bayi? Sebuah studi baru dikutip dari Science Daily, dilakukan oleh Marcela Peña, Jacques Mehler, dan Marina Nespor, bekerja sama di Sekolah Internasional untuk Studi Lanjutan, di Trieste, Italia dan Universitas Katolik Chile, membenarkan hal ini.</p>
<p>Para peneliti melakukan serangkaian penelitian dimana bayi telah mencoba untuk mengenal objek atau dunia mereka dengan suara. Bayi dapat mengindikasikan adanya perbedaan dan mengkategorikan benda yang dilihat melalui suara yang dihasilkan.</p>
<p>Dalam penelitian sebelumnya, bayi kecil dapat menunjukkan hubungan suara vokal I dan suara E dengan benda-benda kecil, sedangkan O dan A dengan benda-benda besar. </p>
<p>Belum diketahui apakah kemampuan ini muncul sejak lahir ataukah proses belajar, namun ini merupakan sebuah kapasitas kemampuan bayi yang pertama. Bayi tidak mengenal bahasa, seperti besar, kecil, bola, segitiga, dan lain-lain. Mereka mengenal semua benda dengan karakteristik suara yang dihasilkan dan juga melakukan kategorisasi pada benda tersebut.</p>
<p>Mengapa ini penting? Perlu kita memahami bagaimana bayi keluar pertama kali ke dunia dengan memiliki gagasan konseptual. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya dihasilkan oleh pikiran simbolis, namun juga bentuk fisik dan stimulus dari benda itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.psikologizone.com/sebelum-bahasa-bayi-pelajari-dunia-melalui-suara/065113367/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 2.411 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-13 00:46:34 -->
<!-- Compression = gzip -->
